IMIP dorong integrasi industri dan pendidikan, wujudkan SDM unggul berbasis teknologi dan kebutuhan industri.(Dokumentasi IMIP)RADAR PALU – Transformasi industri di Indonesia dalam satu dekade terakhir tidak hanya mengubah struktur ekonomi nasional, tetapi juga mendorong dunia pendidikan untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi modern. Kawasan manufaktur terintegrasi seperti Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) kini tampil sebagai pusat strategis yang menghubungkan produksi, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) dalam skala global.
Hilirisasi industri yang berkembang pesat tidak sekadar menciptakan nilai tambah ekonomi, tetapi turut menggeser paradigma pendidikan dalam memahami pembelajaran berbasis teknologi. IMIP bahkan berkembang menjadi “laboratorium hidup” yang mempertemukan teori dengan praktik nyata di lapangan.
Salah satu pendekatan baru yang dilakukan adalah menghadirkan dosen langsung ke dalam ekosistem industri melalui program magang. Program ini tidak hanya sebatas pelatihan, tetapi menjadi langkah strategis untuk menjembatani kesenjangan antara dunia akademik dan kebutuhan industri.Baca Juga: IMIP Raih Nusantara CSR Awards 2026
Melalui keterlibatan langsung di kawasan industri, para dosen dapat memahami bagaimana teori diterapkan dalam sistem teknologi yang kompleks dan terintegrasi. Dampaknya tidak hanya pada peningkatan kapasitas pengajar, tetapi juga mengubah metode pembelajaran dan cara berpikir mahasiswa.
Akademisi dari Politeknik ATI Makassar, Dr. Idi Amin, menyatakan bahwa program magang dosen sejalan dengan kebijakan Link and Match Pendidikan Vokasi Industri. Program ini dinilai sebagai langkah konkret untuk menyelaraskan kebutuhan dunia pendidikan dengan industri.
Menurutnya, di IMIP dosen berhadapan langsung dengan ekosistem industri berskala besar, mulai dari rantai pasok global, sistem otomasi, hingga manajemen energi dan pengendalian lingkungan. Ia menilai industri modern bukan sekadar proses produksi, melainkan orkestrasi kompleks antara efisiensi, keselamatan, dan keberlanjutan.
Baca Juga: IMIP Morowali Pasang Teknologi Canggih, Emisi Dipantau Real-Time
“Pengetahuan dari industri diterjemahkan ke dalam pembelajaran berbasis studi kasus dan simulasi proses. Teori tidak lagi berdiri sendiri, tetapi terhubung langsung dengan problem industri,” jelasnya, Senin (13/4).
Kolaborasi ini juga mencerminkan konsep Triple Helix Innovation, yaitu sinergi antara universitas, industri, dan pemerintah. Interaksi tersebut memberikan manfaat dua arah, di mana industri memperoleh perspektif akademik, sementara kampus mendapatkan akses terhadap teknologi dan data operasional nyata.
Bagi mahasiswa, dampaknya sangat terasa. Mereka tidak hanya memahami teori, tetapi juga belajar membaca kompleksitas industri serta merancang solusi berbasis kebutuhan riil.
Baca Juga: CSR IMIP Inisiasi Kerajinan Ecoprint, Pacu Ekonomi Kreatif Lokal
Sementara itu, HR Operation Head PT IMIP, Trisno Wasito, menegaskan bahwa program magang dosen merupakan investasi jangka panjang bagi industri. Program ini memberikan pemahaman komprehensif terkait hilirisasi nikel, teknologi pemurnian, hingga manajemen lingkungan dan keselamatan kerja.
Menurutnya, penguatan kolaborasi antara industri dan pendidikan menjadi kunci dalam menghadapi tantangan global, termasuk transisi energi dan perkembangan industri berbasis teknologi tinggi.
“Integrasi antara industri dan pendidikan bukan pilihan, tetapi keharusan strategis. Pembelajaran harus bergerak mengikuti realitas dan kebutuhan masa depan,” tandasnya.(*)
Editor : Rony Sandhi