Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Inflasi Sulteng Mulai Naik di Awal 2026, Pemprov Waspadai Lonjakan Harga Jelang Idul Fitri

Muhammad Awaludin • Kamis, 26 Februari 2026 | 13:48 WIB

Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Reny A. Lamadjido memimpin Rakorda TPID di Gedung Pogombo, membahas langkah antisipasi kenaikan inflasi awal 2026.
Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Reny A. Lamadjido memimpin Rakorda TPID di Gedung Pogombo, membahas langkah antisipasi kenaikan inflasi awal 2026.

RADAR PALU - Tekanan harga kembali terasa di Sulawesi Tengah pada awal tahun ini. Setelah sempat terkendali di akhir 2025, inflasi mulai bergerak naik, dipicu gangguan produksi pangan hingga meningkatnya permintaan menjelang Idul Fitri.

Pemerintah daerah dan Bank Indonesia kini mulai memperketat koordinasi, mengantisipasi risiko kenaikan harga bahan pokok dan transportasi dalam beberapa bulan ke depan.

Wakil Gubernur Sulawesi Tengah dr. Reny A. Lamadjido meminta seluruh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) kabupaten dan kota memperkuat langkah antisipasi. Hal itu disampaikan dalam Rapat Koordinasi Daerah TPID se-Sulteng yang digelar hybrid di Gedung Pogombo, Kamis (26/2/2026). 

Reny mengatakan inflasi Sulteng pada Januari 2026 kembali meningkat, setelah sebelumnya pada Desember 2025 berhasil ditekan hingga sekitar 3,5 persen atau masih dalam batas toleransi nasional. 

Menurutnya, kondisi ini menjadi peringatan agar daerah bergerak cepat menjaga stabilitas harga. 

Perubahan cuaca ekstrem disebut berdampak langsung pada produksi pangan. Sejumlah komoditas seperti bawang, cabai, ikan laut, telur, dan beras mulai mengalami tekanan harga.

Selain faktor produksi, pola konsumsi masyarakat juga ikut berpengaruh. Tren pembelian emas yang meningkat belakangan ini dinilai turut memberi tekanan pada inflasi daerah.

Pemprov juga mewaspadai kenaikan harga tiket transportasi menjelang libur Idul Fitri, yang biasanya diikuti peningkatan konsumsi rumah tangga. 

“Kita perlu memastikan langkah konkret agar inflasi kembali sehat dan terkendali,” kata Reny di hadapan peserta rapat.  

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah, Muhammad Irfan Sukarna, menambahkan cuaca ekstrem tidak hanya terjadi di Sulteng, tetapi juga di sejumlah provinsi sekitar.

Kondisi itu menyebabkan pasokan pangan di daerah tetangga berkurang, sehingga permintaan ke Sulawesi Tengah sebagai daerah produsen meningkat. 

Arus keluar komoditas yang tinggi berpotensi mengurangi stok di dalam daerah, yang pada akhirnya memicu kenaikan harga di pasar lokal.

Bank Indonesia mendorong penguatan strategi pengendalian inflasi melalui langkah konkret, seperti operasi pasar, pasar murah, penguatan distribusi, serta kerja sama antar daerah.

Selain itu, pemerintah daerah diminta memastikan ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi, terutama menjelang Ramadan dan Idul Fitri.

Bank Indonesia berharap langkah tersebut dapat menahan laju inflasi dalam waktu dekat.

“Harapan kami pada Maret inflasi Sulawesi Tengah bisa lebih melandai,” ujar Irfan.***

Editor : Muhammad Awaludin
#Radar Palu #2026 #inflasi #sulawesi tengah #Harga pangan Sulteng #TPID #harga jelang Idul Fitri #inflasi sulawesi tengah #Bank Indonesia Sulteng