RADAR PALU - Pemerintah Kota (Pemkot) Palu terus berupaya menekan angka stunting demi mencetak generasi yang sehat, cerdas, dan produktif di masa depan.
Salah satu wujud nyata komitmen tersebut adalah pelaksanaan Kegiatan Gebyar Mini Lokakarya Stunting Serentak Kota Palu Tahun 2025, yang digelar di Kantor Camat Palu Selatan, Rabu 24 September 2025.
Kegiatan ini menghadirkan seluruh pihak terkait dalam satu forum. Tujuannya memperkuat koordinasi dan strategi penanganan stunting di Kota Palu.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) Kota Palu, dr. Royke Abraham, M.A.P., menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor.
“Semua OPD, kader kesehatan, hingga PKK harus bergerak terpadu. Dengan begitu hasilnya bisa maksimal. Target kita adalah menurunkan prevalensi hingga 14 persen sesuai target nasional,” ujarnya.
Royke menjelaskan, manfaat kegiatan ini bisa langsung dirasakan masyarakat. Anak-anak dengan masalah gizi mendapat perhatian melalui pemantauan tumbuh kembang serta pemberian makanan tambahan. Pihak swasta pun ikut terlibat.
“Ini keberkahan bagi masyarakat karena banyak pihak mau membantu” kata dia.
Peserta yang hadir di kegiatan ini cukup beragam, mulai dari Dinas Kesehatan, camat, lurah, kader kesehatan, hingga Tim Penggerak PKK dari tingkat kota sampai kelurahan.
PKK sendiri memegang peran penting dalam gerakan eliminasi stunting, bahkan telah ditetapkan secara resmi melalui SK sebagai garda terdepan program ini di Kota Palu.
Meski begitu, tantangan di lapangan masih cukup besar. Data tahun 2024 mencatat prevalensi stunting di Kota Palu mencapai 25,6 persen, meningkat dari 20,1 persen pada 2023. Salah satu kendala utama adalah rendahnya kehadiran masyarakat di Posyandu.
“Hanya 60-70 persen yang datang. Karena itu perlu inovasi, seperti pendataan lebih akurat, pendekatan langsung ke keluarga, hingga ide kreatif seperti odong-odong untuk menjemput anak-anak,” jelas Royke.
Dalam upaya pencegahan, Dinas P2KB juga gencar melakukan edukasi. Beberapa poin yang ditekankan antara lain konsumsi tablet tambah darah, pemeriksaan kehamilan rutin, pemenuhan protein hewani, serta pemberian ASI eksklusif enam bulan.
Royke berharap masyarakat dapat lebih aktif berperan. “Mari bersama-sama melawan stunting. Dengan sinergi pemerintah, swasta, dunia usaha, dan masyarakat, insyaAllah Kota Palu bisa terbebas dari stunting,” tutupnya.(mg1)
Editor : Mugni Supardi