Komunitas Plutonium pertama kali terbentuk pada 13 Januari 2013. Sejak awal, fokus utama mereka adalah seni cosplay, yakni kegiatan mengenakan kostum dan memerankan tokoh dari anime, komik, hingga video game. Dunia cosplay bukan hanya soal penampilan, tetapi juga tentang seni peran, kreativitas, dan kepercayaan diri.
Salah satu pendiri Komunitas Plutonium, Muhammad Syafril yang akrab disapa Puli, menceritakan bahwa ide pembentukan komunitas ini berawal dari kesamaan minat.
“Kita bergerak di bidang cosplay, seni yang mengacu ke kostum. Jadi kita mainnya di situ,” ungkapnya.
Jumlah anggota aktif saat ini sekitar 30 orang. Menariknya, latar belakang mereka sangat beragam. Ada yang masih duduk di bangku SD, SMP, dan SMA, ada pula mahasiswa. Bahkan, sebagian anggota sudah bekerja sebagai dokter, guru, hingga PNS. Perbedaan usia dan profesi ini justru menjadi kekuatan tersendiri bagi komunitas.
Setiap minggu, para anggota rutin berkumpul untuk saling bertukar cerita dan ide. Tempat berkumpul tidak selalu tetap, namun ruang publik menjadi pilihan utama.
“Biasanya kumpul di sekitar kantor wali kota. Tempat publik enak buat refreshing,” kata Puli.
Bagi masyarakat yang tertarik bergabung, caranya cukup sederhana. Calon anggota hanya perlu datang saat kegiatan berlangsung. Tidak ada proses seleksi formal, namun keaktifan tetap diperhatikan. Mereka biasanya menilai kehadiran selama tiga minggu berturut-turut untuk melihat keseriusan seseorang.
Selain kehadiran, sikap dan cara bergaul juga menjadi perhatian. Komunitas ini menjunjung tinggi rasa saling menghargai.
“Yang penting attitudenya bagus, sopan, dan pintar bersosialisasi,” tambah Puli.
Ke depan, komunitas ini memiliki visi besar. Dalam lima tahun ke depan, mereka ingin cosplay semakin dikenal sebagai hobi yang positif dan produktif, bukan sekadar kegiatan hiburan semata. Mereka ingin masyarakat melihat cosplay sebagai bagian dari industri kreatif.
Mereka juga berharap adanya dukungan dari pemerintah daerah. Menurut para anggota, dukungan fasilitas dan ruang berekspresi sangat penting untuk menjaga semangat generasi muda agar tetap produktif.
Dengan semangat kebersamaan, komunitas ini terus melangkah. Dari sekadar berkumpul karena hobi, kini mereka menjadi ruang belajar, tempat bertumbuh, dan wadah kreativitas bagi anak-anak muda Palu.
“Harapannya kita masih bisa kompak dan terus berkreasi lebih baik lagi,” pungkasnya.(mg2/uq)
Editor : Nur Soima Ulfa