RADAR PALU - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buol, bekerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulteng, melaksanakan sosialisasi penanganan kebencanaan daerah, Rabu (15/7/2026).
Sosialisasi dipimpin Wakil Bupati (Wabup) Buol, Dr. Moh. Nasir Daimaroto, didampingi Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Buol Moh. Yamin Rahim. Dihadiri Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Sulteng Asbudianto, dan Kalak BPBD Buol Moh. Kachfi Mardjuni.
Dihadiri pula, Kepala Pengadilan Negeri (PN) Buol Abdul Gafur Bungin, SH, staf Pengamat BMKG Gorontalo Asyer Oktaf, Kepala BMKG Bandara Sultan Bantilan Tolitoli Wahyu Guru Imamtoko, dan Kepala Tata Perdata dan Tata Usaha Negara, Hagai Nalinta Sembiring, SH.
Baca Juga: Tahapan Wawancara RPL Untad Buol Selesai, 51 Peserta Tunggu Hasil
Pada kesempatan itu, Wabup Buol Moh. Nasir Daimaroto mengatakan, gempa bumi memang hanya berlangsung beberapa detik, tetapi dampaknya dapat kita rasakan bertahun-tahun. Karena itu, yang harus kita bangun bukan budaya takut, melainkan budaya siap menghadapi risiko.
Menurutnya guncangan gempa bumi berkekuatan Magnitudo 5,4. Guncangan itu berlangsung hanya dalam hitungan detik, namun meninggalkan pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua.
Syukur Alhamdulillah, musibah tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. Namun adanya kerusakan pada sejumlah rumah warga menjadi pengingat bahwa ancaman bencana merupakan sesuatu yang nyata dan tidak boleh kita abaikan.
Baca Juga: Polres Buol Sertijab Kapolsek Paleleh
"Atas nama Pemerintah Kabupaten Buol, saya menyampaikan rasa prihatin kepada masyarakat yang terdampak. Semoga seluruh warga yang sedang melakukan pemulihan diberikan kekuatan, kesabaran, serta kemudahan dalam menghadapi setiap ujian, " kata Wabup.
Karena itu, gempa bumi mengajarkan satu hal yang sangat penting, bahwa kita tidak pernah mengetahui kapan bencana akan datang. Tetapi satu hal yang dapat kita lakukan adalah mempersiapkan diri.
Kesiapsiagaan adalah pilihan terbaik sebelum bencana terjadi. Pengetahuan adalah perlindungan pertama yang dimiliki setiap orang. Semakin masyarakat memahami apa yang harus dilakukan, semakin kecil risiko yang akan dihadapi.
Baca Juga: Gempa Buol dan Rapuhnya Sistem Kesiapsiagaan Daerah
Dikatakannya, kegiatan sosialisasi ini jangan dipandang sekadar sebagai agenda seremonial. Kegiatan ini adalah investasi pengetahuan. Investasi yang mungkin tidak langsung. terlihat hasilnya hari ini, tetapi sangat menentukan keselamatan masyarakat di masa yang akan datang.
Kabupaten Buol merupakan bagian dari wilayah Sulawesi yang memiliki karakteristik geologi dan aktivitas tektonik yang cukup dinamis. Kondisi ini bukan untuk menimbulkan rasa takut, tetapi menjadi dasar bagi kita untuk membangun kesadaran.
Masyarakat yang tangguh bukanlah masyarakat yang tidak pernah mengalami bencana. Masyarakat yang tangguh adalah masyarakat yang memahami risiko, mengetahui langkah penyelamatan, serta mampu tetap tenang ketika menghadapi keadaan darurat.
Baca Juga: BPBD Sulteng Turunkan Tim ke Buol, Rumah Sakit Jadi Prioritas Pascagempa
Oleh sebab itu, cara pandang kita terhadap kebencanaan harus terus berubah. Penanggulangan bencana tidak boleh hanya berfokus pada penanganan setelah musibah terjadi. Yang jauh lebih penting adalah membangun kesiapsiagaan sebelum bencana datang.
Inilah hakikat mitigasi. Mitigasi bukan sekadar serangkaian prosedur, melainkan kebiasaan yang harus tumbuh dalam kehidupan sehari-hari: mengenali risiko, mematuhi informasi resmi, dan mengetahui apa yang harus dilakukan ketika keadaan darurat terjadi.
Membangun masyarakat yang tangguh menghadapi bencana bukanlah pekerjaan yang dapat diselesaikan oleh satu institusi. Pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri. BMKG tidak dapat bergerak sendiri. Demikian pula BPBD, TNI, Polri, maupun perangkat daerah. Ketangguhan hanya dapat terwujud apabila seluruh elemen masyarakat bergerak dalam tujuan yang sama.
Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Buol berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi dengan BMKG, BPBD, TNI, Polri, dunia pendidikan, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, tokoh adat, insan pers, serta seluruh pemangku kepentingan. Kolaborasi inilah yang akan menjadi kekuatan utama kita dalam membangun Kabupaten Buol yang semakin siap menghadapi berbagai potensi bencana.
Pemerintah Kabupaten Buol tidak ingin hadir hanya setelah bencana terjadi. Kami ingin hadir sebelum bencana datang, melalui edukasi, penguatan kapasitas masyarakat, dan koordinasi yang semakin baik.
"Saudara-saudara sekalian, saya mengajak seluruh perangkat daerah agar pengurangan risiko bencana menjadi bagian dari pelaksanaan tugas dan fungsi masing-masing. Setiap perangkat daerah memiliki peran sesuai kewenangannya dalam membangun masyarakat yang lebih aman dan lebih tangguh.
Baca Juga: Gandeng Alfamart, BLK BUOL HEBAT Gelar Pelatihan Calon Pegawai untuk Putra-Putri Daerah
Kepada para Camat, Lurah, dan Kepala Desa, saya berharap agar terus menghidupkan budaya sadar bencana di wilayah masing-masing. Jadikan setiap forum masyarakat sebagai ruang edukasi. Sampaikan langkah-langkah sederhana yang harus dilakukan ketika terjadi gempa bumi, sehingga masyarakat tidak hanya mengetahui informasi, tetapi juga memahami tindakan yang harus dilakukan.
Kepada dunia pendidikan, marilah kita menanamkan pendidikan kebencanaan sejak usia dini. Anak-anak perlu dibiasakan mengenali jalur evakuasi, memahami cara menyelamatkan diri, dan memiliki keberanian untuk bertindak dengan benar ketika menghadapi keadaan darurat. Pengetahuan yang ditanamkan sejak dini akan menjadi bekal yang mereka bawa sepanjang hidup.
Kepada insan pers, kami berharap terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam menyampaikan informasi yang benar, akurat, dan menenangkan masyarakat. Dalam situasi kebencanaan, informasi yang benar dapat menyelamatkan banyak jiwa, sedangkan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan justru berpotensi menimbulkan kepanikan.
Begitu pula kepada tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, dan dunia usaha, kami mengajak untuk terus menumbuhkan semangat gotong royong dan kepedulian sosial. Pengalaman membuktikan bahwa masyarakat yang saling membantu akan lebih kuat menghadapi setiap tantangan.
Peristiwa gempa yang baru saja kita alami hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat kesiapsiagaan, bukan memperbesar rasa khawatir. Musibah harus menjadi pembelajaran, bukan ketakutan. Dari setiap pengalaman, kita belajar menjadi lebih baik. Dari setiap pembelajaran, kita membangun langkah yang lebih kuat.
"Mari kita jadikan mitigasi sebagai bagian dari budaya hidup. Budaya untuk terus belajar, budaya untuk saling mengingatkan, budaya untuk mematuhi informasi resmi, dan budaya untuk selalu mengutamakan keselamatan.
Semoga kegiatan sosialisasi ini memberikan manfaat yang besar, memperluas wawasan kita, memperkuat koordinasi antarlembaga, serta meningkatkan kesiapsiagaan seluruh masyarakat kabupaten buol dalam menghadapi potensi gempa bumi.(***)
Editor : Muchsin Siradjudin