Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Ziarah Kubur di Hari Lebaran: Air Mata yang Tak Pernah Usai di Antara Nisan  

Muchsin Siradjudin • Minggu, 22 Maret 2026 | 12:43 WIB

ZIARAH: Warga memadati area pemakaman umum di Parigi Moutong, Sabtu (21/3/2026), untuk berziarah dan mendoakan keluarga yang telah meninggal dunia pada momen Hari Raya Idulfitri.(FOTO: RAHMAT FADHIL/R
ZIARAH: Warga memadati area pemakaman umum di Parigi Moutong, Sabtu (21/3/2026), untuk berziarah dan mendoakan keluarga yang telah meninggal dunia pada momen Hari Raya Idulfitri.(FOTO: RAHMAT FADHIL/R

RADAR PALU – Gema takbir Idulfitri yang seharusnya penuh sukacita, berubah menjadi suasana haru di sejumlah pemakaman umum, Sabtu (21/3/2026).

Sejak pagi, warga berbondong-bondong datang, membawa doa, bunga, dan rindu yang tak pernah usai.

Area pemakaman dipenuhi peziarah. Sebagian duduk bersila di samping makam, melantunkan doa dengan khusyuk.

Sebagian lainnya membersihkan rumput liar dan merapikan nisan. Isak tangis terdengar lirih, berpadu dengan bacaan ayat suci Alquran yang mengalun pelan.

Langkah para peziarah tampak tertatih. Ada yang menggandeng anaknya, ada pula yang datang sendiri, seolah ingin lebih lama “berbicara” dengan orang yang telah lebih dulu pergi. Di antara deretan nisan, tangis pun pecah—pelan, namun dalam.

Tradisi ziarah kubur saat Lebaran menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tak selalu utuh. Di balik suasana silaturahmi, terselip rasa kehilangan yang kembali menguat, terutama bagi mereka yang tak lagi memiliki orang tua, pasangan, atau anak.

“Kalau Lebaran begini, paling terasa kehilangan,” ujar seorang warga dengan suara bergetar.

Suyono (52), yang ditemui saat berziarah, mengaku momen Idulfitri justru menjadi waktu paling berat sejak kepergian orang tuanya.

“Setiap tahun saya datang ke sini, rasanya seperti masih bisa berkumpul, walaupun hanya lewat doa. Tapi tetap saja beda, tidak ada lagi yang menyambut di rumah,” tuturnya lirih.

Menurutnya, ziarah kubur bukan sekadar tradisi, tetapi cara menjaga ikatan batin dengan keluarga yang telah tiada.

“Di sini kita diingatkan, hidup ini tidak lama. Hari ini kita yang datang ziarah, besok bisa jadi kita yang diziarahi,” tambahnya.

Di bawah terik matahari, doa-doa terus dipanjatkan. Surat Yasin dibaca bergantian, mengalir bersama harapan agar mereka yang telah pergi mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.

Lebaran memang tentang kemenangan. Namun di pemakaman, maknanya menjadi berbeda. Tak ada tawa, tak ada hidangan. Yang tersisa hanyalah doa, kenangan, dan rindu yang tak pernah benar-benar pulang. (Cr5)

 

 

 

Editor : Wahono.
#Pemakaman dipenuhi peziarah #Penuh sukacita #Doa terus dipanjatkan #Tempat pemakaman umum