
Oleh: Fadly Y. Tantu
Dosen Program Studi Sumber Daya Akuatik Fakukltas Peternakan dan Perikanan Universitas Tadulako
Renungan Jumat, 15 Mei 2026
Di tengah lajunya arus Revolusi Industri 4.0, publik seringkali merasa cemas: apakah robot akan menggantikan peran manusia? Mulai dari pabrik hingga perkantoran, mesin dan artificial intelligence perlahan mengambil alih pekerjaan-pekerjaan yang dulunya dikerjakan oleh manusia. Kekhawatiran mengenai meningkatnya angka pengangguran dan terkikisnya peran manusia semakin terasa.
Namun, bisa jadi kita melihat masalah ini dari perspektif yang kurang tepat. Alih-alih melihat teknologi sebagai suatu ancaman, justru kita perlu bertanya pada diri sendiri: apa yang akan dilakukan oleh manusia saat beban kerja rutinnya telah diambil alih oleh mesin?
Di sinilah paradoks sekaligus peluang besar dari revolusi teknologi ini berada. Saat robot mengambil alih pekerjaan yang sifatnya mekanistis, sebenarnya manusia sedang dibebaskan—bukan malah disingkirkan.
Teknologi sebagai Sarana Pembebasan
Sepanjang sejarah, setiap kemajuan teknologi selalu membawa perubahan pada struktur kerja manusia. Mesin uap mengurangi kebutuhan akan tenaga otot, komputer mengurangi pekerjaan administratif yang bersifat manual, dan sekarang robotika mengurangi pekerjaan yang sifatnya repetitif. Pola ini menunjukkan bahwa teknologi tidak menghilangkan manusia, melainkan menggeser perannya.



