RADAR PALU - Di bengkel depan sekolah, mesin-mesin bantuan revitalisasi sudah terpasang. Nilainya tak kecil, hampir Rp3 miliar.
Namun di balik fasilitas itu, SMK Negeri 5 Palu justru menghadapi persoalan mendasar: kekurangan guru produktif.
Pelaksana Harian Kepala SMK Negeri 5 Palu, Wayan Agus Irawan, mengakui dalam beberapa tahun ke depan sekolahnya terancam kehilangan pengajar di jurusan penting.
“Tahun 2029 terakhir untuk kriya tekstil dan batik, ada tiga guru pensiun. Tidak ada pengajarnya, bengkel saya akan jadi apa? DKV saya juga belum punya guru. TSM cuma satu guru, padahal peminatnya banyak,” ujarnya.
Situasi ini menjadi tantangan serius di tengah ambisi sekolah mengembangkan Teaching Factory (TEFA), model pembelajaran berbasis produksi yang menyasar pasar nyata.
Tahun ini, pihak sekolah memprioritaskan operasional TEFA di jurusan Teknik Sepeda Motor (TSM). Bengkel yang berada di bagian depan sekolah akan dimaksimalkan melayani masyarakat.
Mulai dari pengisian angin hingga servis ringan.
“Saya lihat bengkel depan selalu ada yang datang tambah angin. Kalau sudah sampai servis ringan, saya yakin ada pendapatan yang bisa bantu operasional sekolah lewat TEFA,” katanya.
Selain TSM, SMKN 5 Palu memiliki jurusan kriya kayu dan tekstil yang tidak banyak dimiliki sekolah lain di Sulawesi Tengah. Bahkan, peralatan seperti mesin router otomatis sudah tersedia.
Tantangannya bukan lagi alat, melainkan sumber daya manusia dan minat generasi muda.
“Kami harus kembalikan rohnya. Mesin bisa jalan sendiri, tinggal masukkan gambar. Tapi kalau tidak dimaksimalkan, percuma,” tutupnya.
Sekolah kini dihadapkan pada dua pekerjaan sekaligus: menjaga keberlanjutan guru produktif dan membuktikan bahwa fasilitas revitalisasi benar-benar berdampak pada mutu lulusan.***
Editor : Muhammad Awaludin