Oleh: Djoni Hatimura *)
DI SEBUAH group WhatsApp (WA) warga Buol se-Indonesia, berkembang saran untuk merubah nama Rumah Sakit Umum Daeerah (RSUD) Mokoyurli milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buol.
Dengan pertimbangan, bahwa nama Mokoyurli kurang bgtu pantas dalam penamaan rumah sakit kita.
Saya berpendapat, faktor penamaan menjadi hal yang krusial bila kita tarik dari hakikat penamaan dalam perspektif Islam.
Dalam sebuah hadis disebutkan, "berilah nama anak-anak-mu dengan nama yang baik."
Baca Juga: Pacu Revitalisasi 2.500 PJU, Wabup Buol: Utamakan Keamanan dan Wajah Kota
Ini artinya, penamaan terkandung unsur doa atau pengharapan. Umpamanya, nama Abdullah, diharapkan anaknya bisa menjadi hamba Allah yang taat dst.
Terkait dengan penamaan lembaga-lembaga atau tempat-tempat tertentu, dalam kaidahnya harus mempertimbangkan pada faktor-faktor berikut ini.
Pertama, ditinjau dari aspek idiologis (agama, sosial, dan budaya). Kedua, aspek historigikal. Ketiga, aspek politik (visi misi dan kebijakan tertentu).
Baca Juga: Jaga Dana Desa, Lindungi Aparatur: Wabup Buol Luncurkan Program “Jaga Desa”
Olehnya, nama Mokoyurli dipandang kurang memenuhi unsur kualitatif dimaksud.
Aspek budaya, nama Mokoyurli dari sisi bahasa inheren dengan bahasa asli Buol, tetapi dari aspek sosiologis penyebutan nama Mokoyurli dari aspek penyebutannya saja sudah sulit. Bahkan, berpotensi distigmakan yang kontradiktif dengan eksistensi rumah sakit.
Harus menyembuhkan, tetapi faktanya mendapatkan pelayanan yang buruk. Nama Mokoyurli dipreseden dengan Mokopate dll. Artinya, nama ini berpotensi dikonotasi subjektif dari aspek sosiologis.
Baca Juga: Pemkab Buol Gelar Sosialisasi Kadastral Pertanahan
Para tokoh berpendapat nama tersebut perlu dievaluasi. Sehingga, bermunculan usul penamaan rumah sakit Buol berorientasi pada aspek ketokohan. Maka munculah nama-nama antara lain, dr Kartini Binol, dr. Maryam Lupoyo dsb.
Olehnya saya mengusulkan dan mengakomodir juga usul-usul itu sebagai berikut. Pertama, RSUD Mardani Yusuf (papa Ando), merupakan tokoh medis pertama di Buol. Kedua, RSUD Haji Rauf (orang tua kandung dr. Amirudin Rauf), merupakan mantri yang memimpin Puskesmas pertama di Buol berkedudukan di Leok, yang kemudian dilanjutkan oleh anaknya dr. Amirudin Rauf.
Selanjutnya, Ketiga, RSUD Abd. Karim Hanggi, sarjana apoteker pertama orang Buol, Bupati devinitif pertama Kabupaten Buol, mampu mendirikan RSUD pertama di Kabupaten Buol yang kini bernama RSUD Mokoyurli.
Baca Juga: Pemkab Buol Bahas Penyelesaian Koperasi Tani Plasma
Keempat, RSUD dr. Kartini Binol, adalah srikandi Buol pertama yang menjadi dokter orang Buol pertama. Kelima, RSUD dr. Maryam Lupoyo, dokter perempuan pertama yang mengabdikan dirinya di RSUD Undata Palu.
Mana nama-nama di atas, sebagai tokoh kesehatan kita orang Buol yang berjasa di dunia kesehatan, sekaligus pantas dikedepankan untuk diusulkan dan layak dijadikan nama RSUD di Kabupaten Buol.
Bila Bandar Udara (Bandara) Buol menggunakan nama tokoh pejuang berdirinya Kabupaten Buol Ir Abd Karim Mbouw. Kini, siapa tokoh Kabupaten Buol yang dipandang pas untuk menjadi nama RSUD kita.
Baca Juga: Wabup Buol Buka Musrenbang 2027: Pertanian Jadi Tulang Punggung Entas Kemiskinan dan Stunting
Sangat diharapkan pemikiran utatu tandanio (kita semua) warga Buol dimana saja berada, untuk menjadi bahan pertimbangan bagi Pemkab dan DPRD Kabupaten Buol mengevaluasi kembali nama RSUD kita.(***)
*) Penulis adalah mantan anggota DPRD Buol, dan tokoh masyarakat.
Editor : Muchsin Siradjudin