
RADAR PALU – Mengajar bagi Nia Selviani Fatlolona bukan sekadar menyampaikan pelajaran di depan kelas. Baginya, sekolah juga harus menjadi tempat aman bagi anak-anak yang datang dengan luka dari rumah.
Wali kelas 5 di SDN 1 Talise itu memahami tidak semua siswanya tumbuh dalam lingkungan keluarga yang utuh dan hangat. Sebagian anak bahkan datang ke sekolah sambil memendam masalah pribadi.
“Anak-anak saya itu sebagian besar kekurangan kasih sayang di rumah. Karena faktor ekonomi, faktor keluarga orang tua yang sudah broken,” ungkap Nia lirih.
Baca Juga: Ujian Sekolah SD di Palu Balik ke Metode Manual, Ternyata Ini Alasannya!
Menurutnya, kondisi keluarga sangat memengaruhi perilaku dan semangat belajar anak di sekolah. Banyak siswa sulit fokus saat belajar, mudah marah, hingga mencari perhatian guru dengan berbagai cara.
“Ada yang maunya bermain terus, ada juga yang sebenarnya cuma ingin diperhatikan,” katanya.
Menghadapi kondisi itu, Nia memilih pendekatan berbeda. Ia menerapkan metode Student Journey atau journaling di dalam kelasnya.
Di salah satu sudut baca kelas, tersimpan catatan perjalanan setiap siswa selama satu semester. Melalui jurnal tersebut, siswa diminta menuliskan target, mimpi, perasaan hingga perkembangan diri mereka.
Metode itu ternyata memberi dampak besar. Saat siswa mulai kehilangan motivasi atau berperilaku negatif, Nia cukup mengajak mereka membaca kembali tulisan yang pernah mereka buat sendiri.
“Kalau mereka mulai berubah atau kehilangan semangat, saya ajak lihat lagi goals mereka,” ujarnya.
Pendekatan sederhana itu perlahan membangun keberanian dan kejujuran siswa. Anak-anak yang sebelumnya tertutup mulai berani berbicara dan mengakui kesalahan tanpa tekanan.



