Wamendag: Pabrik Grease Shell Perkuat Industri dan Pasokan Domestik

Rina Abd Halik • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 11:24 WIB
Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri saat menghadiri peresmian Grease Manufacturing Plant atau pabrik gemuk Shell Indonesia di Jakarta. (DOK: Kemendag).
Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri saat menghadiri peresmian Grease Manufacturing Plant atau pabrik gemuk Shell Indonesia di Jakarta. (DOK: Kemendag).

RADAR PALU – Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri menyebut peresmian Grease Manufacturing Plant atau pabrik gemuk milik Shell Indonesia sebagai katalisator penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurut Roro, kehadiran fasilitas manufaktur tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem industri Indonesia yang lebih tangguh, kompetitif, dan berkelanjutan.

Hal itu disampaikan Wamendag Roro dalam peresmian pabrik gemuk atau pelumas semi padat milik Shell Indonesia di Inter Continental Hotel, Jakarta, Selasa (15/9/2026).

Baca Juga: Kemenkum Sulteng Sosialisasikan Bantuan Hukum Gratis bagi Warga Rutan Palu

Ia mengatakan, fasilitas manufaktur tersebut memiliki keterkaitan erat dengan fokus Kementerian Perdagangan (Kemendag), terutama dalam menciptakan integrasi antara investasi, industri, dan perdagangan.

Integrasi itu dinilai penting untuk menjaga ketahanan neraca perdagangan sekaligus meningkatkan daya saing basis produksi dalam negeri di pasar global.

“Peresmian hari ini jauh lebih bermakna dari sekadar pembukaan fasilitas manufaktur baru. Ini merupakan representasi dari komitmen bersama untuk memperkuat ekosistem industri Indonesia, menciptakan lapangan kerja berkualitas, dan membangun ekonomi yang lebih tangguh dan berdaya saing,” ujar Roro.

Baca Juga: Menkeu Baru Punya PR Besar, Safri Desak Kepastian DBH untuk Daerah

Menurutnya, investasi Shell yang pembangunan konstruksinya dimulai pada pertengahan 2025 menunjukkan adanya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi jangka panjang Indonesia.

Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi sekitar 12 juta liter per tahun. Fasilitas ini juga menjadi salah satu pabrik gemuk yang signifikan bagi Shell Global dan akan memosisikan Indonesia sebagai pusat pelayanan untuk pasar regional.

Roro menilai investasi tersebut semakin penting di tengah dinamika ekonomi global. Menurut dia, menjaga neraca perdagangan yang sehat tidak cukup hanya dengan memperkuat ekspor, tetapi juga membutuhkan basis industri domestik yang kompetitif.

Baca Juga: PLN Ungkap Penyebab Pemadaman Listrik di Sulteng, Sewa PLTD Jadi Solusi

“Kehadiran fasilitas manufaktur modern seperti Shell ini akan berkontribusi langsung dalam memperkuat pasokan domestik, meningkatkan efisiensi industri, dan menjamin ketersediaan produk bagi berbagai sektor industri di Indonesia,” jelasnya.

Pembangunan fasilitas tersebut, lanjut Roro, juga sejalan dengan agenda pemerintah dalam mendorong hilirisasi dan pengembangan industri nasional.

Hal itu berlangsung di tengah kinerja investasi yang dinilai positif. Pada paruh pertama 2026, realisasi investasi Indonesia mencapai Rp1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2 persen secara tahunan dengan penyerapan tenaga kerja lebih dari 1,4 juta orang.

Lebih lanjut, Roro mengatakan beroperasinya pabrik Shell tersebut turut terkoneksi dengan upaya Kemendag dalam memperkuat dan mengamankan pasar domestik.

Baca Juga: Alfiani Desak PLN Benahi Jaringan Listrik di Desa-Desa Poso

Menurutnya, pasar dalam negeri yang kuat membutuhkan pasokan yang andal, produk yang kompetitif, serta ekosistem industri yang tangguh.

Melalui produksi gemuk di dalam negeri, Shell Indonesia dinilai dapat membantu memastikan ketersediaan produk bagi industri nasional sekaligus mendukung efisiensi rantai pasok.

“Kami memandang ini bukan sekadar substitusi impor, melainkan peluang emas untuk membangun ekosistem manufaktur domestik yang jauh lebih kompetitif dan berkelanjutan,” tegas Roro.

Baca Juga: Komisi III DPRD Sulteng Desak PLN Optimalkan Sumber Energi Lokal

Dari sisi ketenagakerjaan, Wamendag juga mengapresiasi penyerapan tenaga kerja Indonesia di fasilitas berteknologi tinggi tersebut.

Pemerintah berharap tenaga kerja lokal tidak hanya berperan sebagai operator fasilitas, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk meningkatkan keterampilan, mendapatkan pengalaman berstandar internasional, serta masuk ke dalam jaringan pengetahuan dan rantai nilai global Shell.

Sementara itu, Presiden Direktur dan Country Chair Shell Indonesia, Andri Pratiwa, mengatakan pengoperasian pabrik gemuk terbaru Shell memberikan dampak positif bagi industri lokal.

Baca Juga: Kemenkum Sulteng dan Pemkab Donggala Perkuat Ekosistem Tenun

“Dengan beroperasinya pabrik ini, pasokan gemuk buatan dalam negeri melonjak dari 90 persen menjadi lebih dari 98 persen. Lebih membanggakannya lagi, pabrik ini 100 persen digerakkan oleh tenaga kerja lokal asal Indonesia,” ungkap Andri.

Pimpinan global Shell, Machteld de Haan, turut menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah Indonesia sejak peletakan batu pertama hingga peresmian fasilitas tersebut.

Menurutnya, pencapaian tersebut merupakan wujud komitmen Shell dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Kemitraan yang semakin erat dan berkelanjutan dengan pemerintah Indonesia, kata Machteld, menjadi fondasi bagi Shell untuk terus berkontribusi terhadap kemajuan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Baca Juga: Kemenkum Sulteng Dorong Poltekkes Palu Perkuat Pendaftaran Kekayaan Intelektual

Menutup sambutannya, Roro menegaskan komitmen pemerintah melalui Kemendag untuk terus menghadirkan iklim usaha dan perdagangan yang dapat diprediksi, kompetitif, serta suportif bagi pelaku usaha dan investor.

“Kami yakin, kesuksesan Shell di Indonesia akan berjalan beriringan dengan kesuksesan pembangunan industri nasional dan secara langsung mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia,” pungkas Roro.***

Editor : Rina Abd Halik
industri nasional Wamendag ekonomi indonesia investasi kemendag