RADAR PALU – Kolaborasi strategis antara Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), dan Indonesia Open Network (ION) menjadi langkah konkret membuka hambatan struktural UMKM dalam mengakses pasar dan pembiayaan.
Sinergi tersebut diperkenalkan dalam 12th Annual Indonesia Economic Forum (IEF) bertajuk The Big Unlock: Launching the Indonesia Open Network (ION) yang digelar di Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Forum ini dihadiri sejumlah tokoh nasional dan internasional, antara lain Wakil Menteri Komunikasi Digital Nezar Patria, Duta Besar India untuk Indonesia Sandeep Chakravorty, Ketua Umum APINDO Shinta W. Kamdani, Ketua Bidang UMKM dan Koperasi APINDO Ronald Walla, Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Ilham A. Habibie, serta CEO & Founder IEF Sachin V. Gopalan.
Kolaborasi Kementerian UMKM–APINDO–ION diposisikan sebagai ekosistem terpadu yang menghubungkan kesiapan UMKM dengan transaksi ekonomi riil.
Fokusnya mencakup perluasan akses pasar digital terbuka, pembiayaan berbasis data, serta integrasi UMKM ke dalam rantai pasok korporasi. Upaya ini diharapkan mampu mendorong peningkatan penjualan, penciptaan lapangan kerja, serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman menegaskan bahwa penguatan ekosistem UMKM diperkuat melalui pengembangan Sistem Aplikasi Pelayanan UMKM (SAPA UMKM).
Platform ini dirancang sebagai pusat data nasional UMKM atau single source of truth sekaligus pintu masuk tunggal bagi pelaku usaha untuk mengakses berbagai layanan, mulai dari legalitas, pembiayaan, pelatihan, sertifikasi, kemitraan, hingga akses pasar.
“SAPA UMKM menjadi fondasi transformasi UMKM agar lebih produktif dan berkelanjutan, melalui integrasi layanan dari hulu ke hilir,” ujar Maman.
Sementara itu, Ketua Umum APINDO Shinta W. Kamdani menilai peluncuran ION sebagai momentum The Big Unlock, yaitu upaya membuka partisipasi ekonomi secara lebih luas dengan menghilangkan hambatan struktural yang selama ini membatasi UMKM.
Ia menyoroti peran strategis UMKM yang menyumbang lebih dari 60% PDB nasional dan menyerap sekitar 97% tenaga kerja, namun kontribusinya terhadap ekspor masih berkisar 15%.
Berdasarkan survei APINDO, sebanyak 51% UMKM masih menghadapi kendala utama pada akses pembiayaan, diikuti keterbatasan akses pasar dan promosi sebesar 35%. Sisanya terkendala aspek teknologi, input produksi, regulasi, dan keterampilan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan UMKM tidak hanya pada kesiapan pelaku, tetapi juga pada desain sistem ekonomi yang belum sepenuhnya inklusif.
Shinta juga memaparkan berbagai inisiatif APINDO dalam pemberdayaan UMKM, di antaranya program UMKM Merdeka yang hingga Desember 2025 telah menjangkau 11 provinsi, melibatkan 280 perguruan tinggi, 1.520 mahasiswa, serta mendampingi 272 UMKM dengan dukungan 151 mentor nasional. Program tersebut diperkuat dengan UMKM Naik Kelas di 38 provinsi, Digital Learning Hub, dan kolaborasi APINDO x UOB FinLab melalui program UKM SUKSES.
Meski demikian, APINDO mencatat tantangan pada implementasi digitalisasi masih signifikan. Hanya 32,5% UMKM yang merasa puas terhadap kebijakan infrastruktur digital nasional, dan baru 12,4% UMKM ritel yang sepenuhnya mengadopsi digitalisasi dalam operasional harian.
Hal ini menegaskan bahwa peningkatan kapasitas belum otomatis menghasilkan skala usaha tanpa dukungan akses pasar dan pembiayaan yang terintegrasi.
Dalam sesi panel Promoting Economic and Social Progress, Ketua Bidang UMKM dan Koperasi APINDO Ronald Walla menekankan pentingnya jaringan perdagangan digital terbuka untuk menjawab persoalan pembiayaan.
Menurutnya, data transaksi yang transparan dan kredibel dapat menjadi dasar penilaian kelayakan UMKM oleh lembaga keuangan, menggantikan ketergantungan pada agunan fisik.
“Dengan data arus kas dan kinerja usaha yang nyata, UMKM dapat dinilai lebih objektif. Kolaborasi antara pelaku usaha, platform digital, perbankan, dan regulator menjadi kunci inklusi keuangan yang berkelanjutan,” ujar Ronald.
Kolaborasi Kementerian UMKM, APINDO, dan ION diharapkan menjadi tonggak penguatan ekosistem UMKM nasional, sekaligus mempercepat transformasi ekonomi Indonesia menuju struktur yang lebih inklusif, produktif, dan berdaya saing global. ***
Editor : Talib