RADARPALU – Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kanwil Sulteng, Jusri, menyampaikan bahwa wilayah Sulawesi Tengah saat ini masih tergolong memiliki target pengadaan yang tidak terlalu besar, meskipun potensi yang dimiliki dinilai cukup besar.
Menurutnya, kendala utama yang dihadapi di lapangan adalah pola kebiasaan petani yang lebih memilih menjual hasil panen dalam bentuk beras dibandingkan gabah.
“Cuma memang kendala yang kami hadapi di lapangan itu mensosialisasikan bagaimana membeli gabah ini di tingkat petani. mereka sudah terbiasa dengan menjual dalam bentuk beras,” ujar Jusri kepada media saat ditemui pada Rabu (15/4/2026).
Baca Juga: Ayah Tiri Diduga Eksploitasi Anak, Laporan Mengendap Setahun
Pada kesempatan itu Jusri menyampaikan bahwa apabila dijual dalam bentuk gabah, harga yang diperoleh dinilai bisa lebih baik dan memberikan keuntungan lebih besar.
“Kalau mereka bisa menjual dalam bentuk gabah, harga itu lebih naik sebenarnya, lebih bagus. Dalam segi keuntungan, lebih sangat menguntungkan dibanding menjual beras,” jelasnya.
Namun demikian, perubahan kebiasaan tersebut tidak mudah dilakukan. Pihak Bulog, kata dia, terus melakukan sosialisasi secara bertahap kepada petani di berbagai wilayah.
Baca Juga: AirAsia Stop Rute Palu–Luwuk, Akses Udara Sulteng Terpukul
Upaya tersebut telah dilakukan di sejumlah daerah seperti Parigi dan Donggala, termasuk wilayah pantai barat dan pantai timur Sulawesi Tengah. Saat ini, disebutkan sudah ada beberapa titik yang mulai dijangkau dalam upaya tersebut.
“Kami hingga hari ini masih terus berusaha lakukan sosialisasi sedikit demi sedikit. Sampai hari ini sudah ada lima titik,” katanya.
Ia berharap, dengan adanya contoh langsung di lapangan, masyarakat dapat melihat perbandingan keuntungan antara menjual gabah dan beras. Informasi tersebut diharapkan dapat menyebar secara alami di kalangan petani.
“Nanti masyarakat melihat sendiri. Dibandingkan seperti itu, mereka akan tahu mana yang lebih menguntungkan,” ujarnya.(rna)
Editor : Mugni Supardi