Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Produksi Kakao Indonesia Diproyeksi Naik 635 Ribu Ton pada 2026

Muhammad Awaludin • Sabtu, 14 Maret 2026 | 14:29 WIB

Perkebunan rakyat menopang produksi kakao Indonesia yang diproyeksikan meningkat hingga 635 ribu ton pada 2026.
Perkebunan rakyat menopang produksi kakao Indonesia yang diproyeksikan meningkat hingga 635 ribu ton pada 2026.

RADAR PALU - Produksi kakao Indonesia diproyeksikan meningkat pada 2026. Pemerintah memperkirakan produksi kakao nasional mencapai sekitar 635 ribu ton dari luas areal perkebunan sekitar 1,38 juta hektare, naik dibandingkan produksi pada 2025 yang berada di kisaran 616 ribu ton.

Data Statistik Perkebunan menunjukkan produksi kakao Indonesia pada 2024 tercatat sekitar 617 ribu ton dari luas lahan 1,37 juta hektare. Meski sempat menghadapi tantangan produktivitas beberapa tahun terakhir, tren produksi kini mulai menunjukkan perbaikan. 

 

 

 

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan peningkatan produksi kakao harus diikuti upaya meningkatkan produktivitas kebun rakyat. Menurutnya, mayoritas kebun kakao di Indonesia dikelola petani kecil. 

“Pekebun adalah kunci. Hampir seluruh kebun kakao kita dikelola rakyat. Karena itu peningkatan produktivitas melalui peremajaan, penggunaan benih unggul, dan pendampingan intensif harus menjadi prioritas,” ujar Amran dalam keterangan resmi.

Ia menegaskan Indonesia tidak boleh hanya mengandalkan ekspor bahan mentah. Pemerintah, kata dia, mendorong hilirisasi agar nilai tambah kakao dapat dinikmati di dalam negeri.

Saat ini sekitar 99 persen kebun kakao nasional dikelola perkebunan rakyat. Komoditas ini menjadi sumber penghidupan bagi sekitar 1,50 juta kepala keluarga petani di berbagai daerah.

Wilayah Sulawesi masih menjadi sentra utama produksi kakao Indonesia. Kawasan ini menyumbang lebih dari 60 persen produksi nasional atau sekitar 378 ribu ton. 

Sementara itu, Sumatera berkontribusi sekitar 164 ribu ton produksi kakao. Beberapa daerah seperti Lampung dan Sumatera Utara menjadi penyumbang utama dari wilayah tersebut. 

Di sisi perdagangan, ekspor kakao Indonesia juga masih menunjukkan kinerja yang kuat. Sepanjang 2024, volume ekspor kakao tercatat mencapai sekitar 348 ribu ton dengan nilai perdagangan mencapai US$ 2,65 miliar.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Direktorat Jenderal Perkebunan menunjukkan ekspor kakao Indonesia selama periode 2021 hingga 2025 tetap memiliki peran penting di pasar global. Produk kakao Indonesia dipasarkan ke sejumlah negara di kawasan Asia, Eropa, hingga Amerika.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan Abdul Roni Angkat menambahkan harga kakao domestik pada 2025 ikut terdorong oleh kenaikan harga kakao dunia.

“Perkembangan harga kakao domestik tahun 2025 bergerak mengikuti tren harga global yang menguat. Ini menjadi peluang besar bagi pekebun untuk meningkatkan pendapatan,” kata Roni. 

Menurutnya, peningkatan kualitas biji kakao, terutama melalui proses fermentasi, perlu terus didorong agar harga jual di tingkat petani semakin optimal.

Selain itu, pemerintah juga mempercepat penguatan industri pengolahan kakao di dalam negeri. Produk hilir seperti cocoa liquor, cocoa butter, hingga cokelat olahan diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut.

Dengan luas areal perkebunan lebih dari 1,3 juta hektare dan jutaan petani yang terlibat, kakao dinilai memiliki peran strategis bagi perekonomian daerah, terutama di kawasan timur Indonesia.

Pemerintah berharap proyeksi peningkatan produksi kakao pada 2026 dapat menjadi momentum kebangkitan sektor kakao nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.***

Editor : Muhammad Awaludin
#produksi kakao #ekspor kakao #Perkebunan Rakyat #harga kakao global #Radar Palu #Kakao Indonesia