Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

OJK Nilai Kondisi Industri Jasa Keuangan di Sulteng Terjaga Stabil

Nur Soima Ulfa • Kamis, 14 Agustus 2025 | 16:00 WIB
Kepala OJK Sulteng, Bonny Hardi Putra
Kepala OJK Sulteng, Bonny Hardi Putra

RADAR PALU– Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Sulawesi Tengah (OJK Sulteng) menilai kondisi Industri Jasa Keuangan (IJK) di Sulawesi Tengah pada Mei 2025 tetap terjaga stabil. Kinerja sektor keuangan dinilai positif, likuiditas memadai, serta profil risiko terjaga.

Kepala OJK Provinsi Sulawesi Tengah, Bonny Hardi Putra, menyampaikan perkembangan industri perbankan, industri keuangan non-bank yang mencakup perasuransian, penjamin, dana pensiun, perusahaan pembiayaan, modal ventura, lembaga jasa keuangan lainnya, serta pasar modal di Sulteng tumbuh positif.

"Hal ini seiring dengan kegiatan edukasi, inklusi keuangan, dan pelindungan konsumen yang dilakukan secara berkelanjutan," ujar Bonny Hardi Putra dalam keterangan tertulis pada Rabu (13/8/2025).

Per 31 Mei 2025, sebagian besar indikator perbankan mengalami pertumbuhan positif secara tahunan (year-on-year/yoy). Total aset perbankan tercatat Rp77,21 triliun atau tumbuh 11,37 persen (yoy). Penyaluran kredit mencapai Rp58,41 triliun, naik 10,27 persen (yoy).

Namun, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat Rp36 triliun, sedikit menurun 0,58 persen (yoy). Sementara rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) tetap terkendali di angka 1,87 persen.

Dirinya juga menyampaikan bahwa perbankan syariah juga menunjukkan kinerja positif. Total aset mencapai Rp3,72 triliun, meningkat 17,72 persen (yoy). Pembiayaan syariah tumbuh 16,67 persen menjadi Rp3,29 triliun, dan penghimpunan DPK naik 2,37 persen menjadi Rp2,16 triliun. 

"Kredit kepada UMKM yang mencapai Rp18,04 triliun, tumbuh 8,67 persen (yoy) dengan kualitas NPL sebesar 3,27 persen," ujarnya.

Selain itu, sektor perusahaan pembiayaan juga mencatatkan pertumbuhan positif, dengan penyaluran pembiayaan sebesar Rp7,32 triliun atau naik 14,36 persen (yoy). Rasio pembiayaan bermasalah (NPF) terjaga di angka 1,74 persen.

"Dana pensiun mencatat total aset Rp105,25 miliar, tumbuh 5,43 persen (yoy). Total investasi dana pensiun meningkat 6,09 persen menjadi Rp103,15 miliar," terangnya.

Di sisi lain, peer-to-peer lending mencatat outstanding pinjaman sebesar Rp542,60 miliar, naik signifikan 53,58 persen (yoy) dengan jumlah rekening penerima aktif 163.012. Tingkat wanprestasi di atas 90 hari (TWP90) terjaga di angka 1,75 persen.

Adapun jumlah investor di pasar modal juga bertambah. Hingga Mei 2025, terdapat 161.483 rekening investasi atau naik 34,62 persen (yoy). Mayoritas adalah rekening reksadana sebanyak 120.691 atau 76,01 persen dari total rekening.

OJK Sulteng terus mengedepankan edukasi keuangan. Hingga Mei 2025, tercatat 73 kegiatan edukasi keuangan telah digelar, dengan peserta mencapai 75.643 orang dari berbagai kalangan, mulai petani, nelayan, ibu rumah tangga, pelajar, hingga pegawai. 

Dari sisi layanan konsumen, OJK Sulteng menerima 416 layanan, terdiri dari 27 pengaduan, 371 pemberian informasi, dan 18 penerimaan informasi. Dari total tersebut, 171 layanan terkait perbankan, 143 perusahaan pembiayaan, 11 asuransi, 2 pergadaian, 49 fintech, dan 40 terkait lembaga jasa keuangan di luar pengawasan OJK. (rna)

Editor : Nur Soima Ulfa
#OJK #keuangan #OJK Sulteng