Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

3.000 Hektare Sawah Tadah Hujan di Parigi Moutong Gagal Tanam akibat Kekeringan

Mugni Supardi • Kamis, 29 Januari 2026 | 08:48 WIB
Sedikitnya sekitar 3.000 hektare sawah tadah hujan di Kecamatan Mepanga dan Ongka Malino dilaporkan gagal tanam.
Sedikitnya sekitar 3.000 hektare sawah tadah hujan di Kecamatan Mepanga dan Ongka Malino dilaporkan gagal tanam.

RADAR PALU - Kekeringan melanda sejumlah wilayah sentra pertanian di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

Sedikitnya sekitar 3.000 hektare sawah tadah hujan di Kecamatan Mepanga dan Ongka Malino dilaporkan gagal tanam akibat berkurangnya intensitas curah hujan dalam beberapa waktu terakhir.

Berdasarkan laporan resmi BPBD Provinsi Sulawesi Tengah, kekeringan terjadi di Desa Kota Raya Timur, Desa Kota Raya Tenggara, dan Desa Kota Raya Selatan, Kecamatan Mepanga, serta Desa Lambanau, Kecamatan Ongka Malino. Laporan diterima pada Rabu (28/1/2026) sekitar pukul 15.35 WITA.

Plt Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sulawesi Tengah, Ir. Asbudianto, ST, MSi, menjelaskan bahwa kekeringan berdampak langsung pada lahan pertanian sawah tadah hujan yang sepenuhnya bergantung pada pasokan air dari curah hujan.

“Berkurangnya intensitas hujan menyebabkan lahan persawahan tidak mendapat suplai air yang memadai. Kondisi tanah menjadi kering dan tidak memungkinkan dilakukan penanaman,” kata Asbudianto dalam laporan tertulis BPBD.

BPBD Provinsi Sulawesi Tengah bersama BPBD Kabupaten Parigi Moutong telah melakukan assessment lapangan dan koordinasi untuk memetakan tingkat kekeringan serta dampak yang ditimbulkan terhadap sektor pertanian dan ketahanan pangan daerah.

Meski tidak menimbulkan korban jiwa maupun pengungsi, kekeringan ini dinilai berpotensi menekan produktivitas pertanian jika berlangsung lebih lama.

Oleh karena itu, BPBD mencatat sejumlah kebutuhan mendesak, di antaranya pasokan air bersih atau irigasi darurat, pompa air dan selang untuk penyaluran dari sungai atau sumur terdekat, serta pembuatan sumur dangkal atau sumur bor sementara di area persawahan kritis.

“Hingga saat ini, kondisi kekeringan masih berlangsung dan memerlukan penanganan lanjutan,” ujar Asbudianto.

Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah antisipatif guna mencegah meluasnya dampak kekeringan, terutama terhadap ketahanan pangan masyarakat Parigi Moutong.

BPBD juga mengimbau agar petani dan pemerintah desa terus berkoordinasi serta melaporkan perkembangan kondisi di lapangan.

Seiring kondisi kekeringan yang masih berlangsung, Gubernur Sulawesi Tengah Dr Anwar Hafid mengimbau kepada masyarakat agar ikut berperan aktif dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla), mengingat sejumlah wilayah di Parigi Moutong dan sekitarnya tengah berada dalam kondisi kering dan rawan terbakar.

Gubernur menegaskan masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan kepada aparat setempat atau BPBD apabila menemukan titik api di lingkungan sekitar. Peran aktif masyarakat dinilai penting untuk mencegah terjadinya bencana lanjutan di tengah musim kering.(*/acm)

Editor : Mugni Supardi
#kekeringan mepanga #kekeringan parigi moutong #bencana kekeringan #sawah tadah hujan gagal tanam #kekeringan sulteng #pertanian parigi moutong #dampak kemarau sulteng #kekeringan ongka malino #BPBD Sulteng