RADAR PALU - Kinerja perdagangan luar negeri Sulawesi Tengah menutup 2025 dengan catatan kuat. Ekspor melonjak di penghujung tahun, menjaga posisi neraca perdagangan tetap surplus dalam skala besar.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, dorongan utama masih datang dari industri berbasis mineral, dengan besi, baja, dan nikel sebagai tulang punggung ekspor daerah.
Nilai ekspor Sulawesi Tengah pada Desember 2025 tercatat sebesar US$2,34 miliar. Angka ini naik US$276,27 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Ekspor Terus Melaju, Nilai Perdagangan Sulawesi Tengah Tembus Rp30.180 Juta Sepanjang 2025
Komoditas besi dan baja masih mendominasi ekspor dengan nilai US$1,14 miliar atau hampir 49 persen dari total ekspor. Di posisi berikutnya, nikel menyumbang US$561,98 juta, disusul bahan bakar mineral senilai US$338,04 juta.
Secara kumulatif sepanjang Januari hingga Desember 2025, total ekspor Sulawesi Tengah mencapai US$22,32 miliar.
Baca Juga: Menuju Indonesia Emas 2045, OJK Dorong Masyarakat Melek dan Aktif Menggunakan Produk Keuangan
Dari sisi negara tujuan, Tiongkok tetap menjadi pasar utama dengan nilai ekspor US$10,21 miliar atau sekitar 45,75 persen. Taiwan dan Vietnam menyusul sebagai tujuan ekspor terbesar berikutnya.
BPS mencatat, dibandingkan tahun sebelumnya, penurunan ekspor terdalam terjadi pada pengiriman ke India. Sebaliknya, peningkatan paling signifikan justru datang dari ekspor ke Tiongkok.
Sementara itu, nilai impor Sulawesi Tengah pada Desember 2025 mencapai US$1,10 miliar, naik US$185,67 juta secara tahunan. Sepanjang 2025, total impor tercatat US$11,31 miliar, tumbuh 4,78 persen dibandingkan 2024.
Komoditas impor utama masih didominasi bahan bakar mineral, diikuti bijih, kerak, dan abu logam, serta mesin dan pesawat mekanik.
Dengan pergerakan tersebut, neraca perdagangan Sulawesi Tengah pada Desember 2025 mencatat surplus US$908,81 juta.
Secara akumulatif sepanjang 2025, surplus neraca perdagangan Sulawesi Tengah mencapai US$11,00 miliar, atau meningkat 4,39 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Secara nasional, tren surplus perdagangan Indonesia sepanjang 2025 masih ditopang sektor industri pengolahan berbasis sumber daya alam. Kontribusi daerah seperti Sulawesi Tengah menjadi salah satu penopang utama kinerja ekspor nasional, terutama ke pasar Asia.***
Editor : Muhammad Awaludin