RADAR PALU - Bulan Ramadan kerap memunculkan kekhawatiran bagi penderita maag dan GERD. Pola makan berubah, jam istirahat bergeser, dan rasa takut kambuh sering muncul lebih dulu.
Namun secara medis, puasa justru memberi ruang bagi lambung untuk beristirahat—asal dijalani dengan cara yang tepat.
Dokter di UPTD Puskesmas Singgani, dr. Fenny Seliestyawaty, menyebut puasa tidak selalu menjadi pemicu kambuhnya maag. Dalam banyak kasus, puasa justru membantu proses pemulihan.
“Sebenarnya puasa itu mengistirahatkan lambung,” kata dr. Fenny, Selasa (10/2/2026).
Meski demikian, penderita maag tetap perlu strategi agar ibadah berjalan nyaman. Salah satu kuncinya ada pada pengaturan obat dan pola makan.
Ia menyarankan penderita tetap mengonsumsi obat maag sesuai waktu yang dianjurkan, yakni sebelum sahur dan sebelum berbuka puasa.
“Jadi saat buka puasa, minum obat maag dulu, baru makan,” ujarnya.
Soal pola makan, dr. Fenny mengingatkan agar tidak langsung makan dalam porsi besar saat berbuka. Kebiasaan “balas dendam” justru berisiko memicu asam lambung.
“Makan tetap sedikit-sedikit tapi sering. Jangan sekali makan langsung banyak,” katanya.
Beberapa jenis makanan dan minuman juga perlu dihindari, seperti kopi, teh, susu, makanan berminyak, dan makanan terlalu manis yang dapat memicu produksi asam lambung.
Selain itu, kebiasaan setelah makan tak kalah penting. Penderita maag disarankan tidak langsung berbaring atau tidur.
“Habis makan sebaiknya tunggu sekitar dua jam baru bisa berbaring,” tegas dr. Fenny.***
Editor : Muhammad Awaludin