RADAR PALU — Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako (FEB Untad) kembali mendorong penguatan ekosistem ekonomi daerah melalui Tadulako International Conference on Economics and Business (TICEB).
Memasuki penyelenggaraan tahun keempat, yang akan dilaksanakan awal Oktober 2026, TICEB mengusung tema “Navigating Economic Transformation through Good Governance and Sustainability.”
Rangkaian kegiatan akan berlangsung selama dua hari, yakni konferensi internasional pada 5 Oktober dan International Consortium pada 6 Oktober di salah satu hotel di Palu.
Baca Juga: Dekan FH Untad Dorong Mahasiswa Jadi Duta Kerukunan
Ketua TICEB ke-4, Failur Rahman, MSc, CSA, mengatakan konferensi internasional pada hari pertama menghadirkan lima keynote speaker dari lima negara, yakni Indonesia, Australia, Turki, Pakistan, dan India.
Selain konferensi utama, agenda hari pertama juga diisi dengan parallel session atau pemaparan conference papers.
Berbagai penelitian yang dipresentasikan berasal dari kalangan akademisi maupun mahasiswa dan selanjutnya akan dihimpun serta dipublikasikan berdasarkan kesamaan tema.
Baca Juga: Ahmad Ali Siapkan Kantor IKA Untad dan Gedung FEB
“Pada hari pertama terdapat berbagai penelitian yang dibuat oleh akademisi dan mahasiswa. Hasil-hasil penelitian tersebut kemudian akan dikumpulkan dan dipublikasikan berdasarkan tema yang sejenis,” ujar Failur saat silaturahmi dengan jajaran pimpinan Radar Palu, Jawa Pos, Jumat (18/9).
Menurut dia, rangkaian TICEB tidak berhenti pada forum akademik. Hasil penelitian tersebut diupayakan dapat diterapkan melalui International Consortium yang digelar pada hari kedua.
Forum tersebut dirancang mempertemukan akademisi dengan para pelaku ekonomi dan pemangku kepentingan di Sulawesi Tengah.
Baca Juga: Mahasiswa Untad Bawa Isu MBG, Karhutla hingga Kelangkaan BBM
Pesertanya mencakup pelaku usaha, akademisi, pemerintah provinsi, pemerintah daerah, serta stakeholder dari berbagai sektor ekonomi.
Sejumlah sektor yang terlibat antara lain perkebunan, perikanan, pertanian, pariwisata, dan sektor ekonomi lainnya.
Failur menjelaskan, keterlibatan pelaku UMKM menjadi penting karena International Consortium diarahkan untuk mengidentifikasi persoalan nyata yang dihadapi dunia usaha.
Baca Juga: Peneliti FKIP Untad Hadirkan Alat Peraga Digital Berbasis Kearifan Lokal untuk Pembelajaran STEAM
Proses tersebut dilakukan melalui problem mapping untuk memetakan berbagai kendala yang dihadapi pelaku usaha.
Setelah persoalan teridentifikasi, forum akan dilanjutkan dengan solution mapping, yakni pembahasan bersama untuk merumuskan alternatif penyelesaian yang relevan dengan kondisi di lapangan.
“Setelah itu, permasalahan tersebut akan dibahas bersama melalui solution mapping. Hasil dari kedua sesi ini nantinya berupa policy brief yang benar-benar disusun berdasarkan kebutuhan dan kondisi para pelaku usaha,” jelasnya.
Baca Juga: SOP Pasang Surut FMIPA Untad jadi Solusi Praktis Petambak Donggala
Pendekatan tersebut menempatkan pelaku usaha bukan hanya sebagai peserta, tetapi juga sebagai sumber informasi utama dalam merumuskan rekomendasi kebijakan.
Dengan demikian, hasil konsorsium diharapkan dapat menggambarkan kebutuhan aktual sektor usaha di Sulawesi Tengah.
International Consortium juga menjadi ruang untuk mempertemukan perspektif akademik, dunia usaha, dan pemerintah dalam membahas tata kelola serta keberlanjutan ekonomi daerah.
Baca Juga: UNTAD, Danau Purba, dan Masa Depan Ilmu Pengetahuan Wallacea
Melalui rangkaian TICEB, FEB Untad berupaya menjembatani hasil penelitian dengan kebutuhan praktis di sektor ekonomi.
Forum ini sekaligus membuka ruang kolaborasi agar pelaku usaha di Sulawesi Tengah dapat memperkuat tata kelola dan mengembangkan kapasitas usahanya menuju pasar yang lebih luas dan global. ***
Editor : lib