Gubernur Sulteng Minta 9 BERANI Diukur dari Manfaat ke Warga

Muhammad Awaludin • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 09:59 WIB
Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid memimpin rapat koordinasi implementasi Asta Cita dan evaluasi 9 Program BERANI di Pulau Buka Buka, Tojo Una-Una. FOTO: BIRO ADPIM SULTENG
Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid memimpin rapat koordinasi implementasi Asta Cita dan evaluasi 9 Program BERANI di Pulau Buka Buka, Tojo Una-Una. FOTO: BIRO ADPIM SULTENG 

 

RADAR PALU – Pemerintah daerah tidak boleh berhenti pada ukuran bahwa sebuah program telah terlaksana. Bagi Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid, keberhasilan pembangunan harus terlihat dari perubahan yang dirasakan masyarakat.

Karena itu, evaluasi sembilan Program BERANI menjadi salah satu agenda utama dalam rapat koordinasi implementasi Asta Cita Presiden RI yang digelar di Reconnect Island Resort, Pulau Buka Buka, Kabupaten Tojo Una-Una, Jumat (11/9/2026).

Anwar meminta setiap program memiliki indikator yang jelas. Pelaksanaannya perlu dievaluasi untuk mengetahui capaian, menemukan hambatan, sekaligus menentukan langkah perbaikan.

Baca Juga: Soroti Dugaan Kebocoran PAD di Kawasan Industri, Safri Desak Gubernur Sulteng Evaluasi Seluruh Tenan

“Jangan sampai kita merasa berhasil hanya karena program sudah dilaksanakan. Ukuran keberhasilan kita adalah ketika masyarakat merasakan manfaatnya,” kata Anwar.

Pernyataan tersebut menjadi penekanan dalam evaluasi program prioritas Pemprov Sulteng. Penyerapan anggaran maupun terlaksananya kegiatan, menurut dia, tidak cukup menjadi ukuran akhir pembangunan.

Program Harus Menjawab Kebutuhan

Baca Juga: Kemenkum Sulteng Bedah KUHP Baru di Rakor Forkopimda

Anwar juga mengingatkan agar program pemerintah provinsi dan kabupaten/kota tidak berjalan sendiri-sendiri.

Koordinasi diperlukan agar kebijakan yang dijalankan memiliki arah yang sama, tidak tumpang tindih, sekaligus mampu memperkuat intervensi pada sektor yang menjadi kebutuhan masyarakat.

Dalam konteks tersebut, sembilan Program BERANI diselaraskan dengan agenda nasional melalui Asta Cita Presiden RI.

Menurut Anwar, visi menjadikan Sulawesi Tengah sebagai wilayah pertanian dan industri yang maju dan berkelanjutan memiliki hubungan erat dengan sejumlah prioritas nasional.

Agenda itu mencakup penguatan sumber daya manusia, swasembada pangan dan energi, hilirisasi industri, pemerataan ekonomi hingga desa, reformasi birokrasi, serta penguatan harmoni sosial dan perlindungan lingkungan.

“Setiap program Asta Cita yang dijalankan di daerah pada dasarnya adalah bagian tak terpisahkan dari capaian 9 BERANI itu sendiri,” ujar Anwar.

Baca Juga: Jalur Terjal Masih Jadi Tantangan Warga Dusun Tiga Waturalele

Potensi Daerah Harus Menghasilkan

Rakor yang dihadiri para bupati dan wali kota se-Sulawesi Tengah serta jajaran pemerintah daerah juga menjadi ruang untuk melihat potensi daerah secara lebih luas.

Pelaksanaan kegiatan di Pulau Buka Buka, Tojo Una-Una, misalnya, memperlihatkan besarnya peluang yang dimiliki wilayah kepulauan, terutama pada sektor kelautan, pariwisata dan ekonomi masyarakat.

Baca Juga: Dugaan Kekerasan Seksual di Panti Asuhan Palu, Perempuan 20 Tahun Tempuh Jalur Hukum

Anwar menilai potensi tersebut harus dikelola secara baik dan berkelanjutan sehingga mampu memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat.

Hal serupa berlaku untuk potensi Sulawesi Tengah di sektor pertanian, industri, pertambangan, kelautan, perikanan dan pariwisata.

Menurutnya, seluruh potensi tersebut membutuhkan kerja lintas sektor dan lintas pemerintahan agar tidak berkembang secara terpisah.

“Visi besar kita harus diterjemahkan menjadi kerja bersama. Tidak ada program yang bisa berhasil kalau dikerjakan sendiri,” ujarnya.

Ukuran Akhir Ada di Masyarakat

Evaluasi 9 BERANI selanjutnya diarahkan untuk melihat sejauh mana program prioritas tersebut memberikan hasil nyata.

Pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten dan kota didorong terus memperkuat koordinasi, termasuk dalam mengidentifikasi program yang perlu dipercepat maupun diperbaiki.

Dengan pendekatan tersebut, pelaksanaan pembangunan tidak hanya dinilai dari banyaknya kegiatan yang selesai atau anggaran yang terserap.

Ukuran akhirnya kembali kepada masyarakat: apakah program pemerintah mampu membuat layanan lebih baik, membuka peluang ekonomi, meningkatkan kesejahteraan, dan menjawab persoalan yang mereka hadapi.

Bagi Anwar Hafid, manfaat itulah yang harus menjadi tujuan akhir dari 9 BERANI sekaligus bagian dari upaya mewujudkan Sulteng Nambaso.*** 

Editor : Muhammad Awaludin
9 BERANI Anwar Hafid sulawesi tengah Asta cita Sulteng Nambaso