RADAR PALU - Pelayanan RSUD Undata mendapat sorotan lagi. Masalahnya, ada pasien rujukan dari Puskesmas Tambu, Kabupaten Donggala yang di rujuk ke RSUD Donggala kecewa.
Lantaran tidak ada kepastian tindakan medis yang dilakukan oleh dokter-dokter ahli di RSUD Undata untuk menangani pasien ini.
"Kami sangat kecewa dengan pelayanan medis yang diberikan oleh tim dokter di RSUD Undata. Berhari-hari tidak ada kepastian. Katanya tidak ada penyakit, " tutur Nurdin Usman, kepada media Radar Palu, Selasa (1/9/2026).
Baca Juga: Program Pariwisata Palu Baru 30 Persen, Komisi B Optimistis Tembus 70 Persen
Padahal, ungkap Nurdin, pasien dirujuk ke RSUD Undata karena hasil USG RS Pendau Tambu menemukan ada benjolan di sekitar ginjal pasien seperti kista. Tetapi di RSUD Undata sebagai rumah sakit rujukan, justeru mengatakan bahwa itu sudah ada dari lahir, tapi anehnya pasien tetap merasakan sakit yang luar biasa.
"Pasien ditangani oleh tiga orang dokter spesialis, dan semua dokter yang menangani ini menyatakan tidak menemukan penyakit, hingga pasienpun di suruh pulang, " bebernya.
Sempat terjadi insiden. Antara pasien dengan dokternya. Keluarga pasien mengatakan bagaimana mungkin kami disuruh pulang dan dianggap tidak ada penyakit yang ditemukan.
Baca Juga: Komisi B Soroti Tata Kelola BUMD Palu, Perumda Diminta Segera Susun Rencana Bisnis
Ditambahkannya, pasien hingga saat ini masih merasakan sakit yang amat sangat, sama seperti sakitnya pasien waktu pertamakali dirujuk di Undata.
"Ada apa ini ? Kok bisa-bisanya rumah sakit nomor satu di Sulawesi Tengah yang memiliki peralatan medis canggih masa tidak menemukan penyakit yang diderita keluarga saya ini, " ucapnya kesal.
Bahkan, salah satu tokoh pemuda dari pantai Barat Donggala ini pernah menemukan sebuah fakta, ada pernyataan menarik dari seorang dokter di RSUD Undata yang kebetulan saat itu Nurdin berada di gang ruang pegawai RSUD Undata.
Baca Juga: RSUD Undata Telusuri Keluhan Keluarga Pasien, Bantah Pasien Disuruh Pulang
Ketika itu, terlihat sang dokter sedang bercengkrama dengan beberapa stafnya sambil bercerita. Iya ingin pindah dari rumah sakit yang berada di Jln. Martadinata, Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu ini.
Karena kinerja dia tidak sesuai dengan insentif yang ia terima. "Itulah keluhan yang sempat saya dengar secara langsung tersebut, " ucapnya lagi.
Dari dulu RSUD Undata selalu menjadi sorotan
Ada beberapa kejadian terungkap, pasien RSUD Undata bisa tertangani dan sembuh setelah pindah ke RSUD Anutapura Palu.
Baca Juga: Pelapor Pertanyakan Penggunaan Dokumen Tanah Hibah, Polda Sulteng Lakukan Gelar Perkara Khusus
Belum lagi adanya demo dari para tenaga kesehatan (Nakes) RSUD yang mempertanyakan tunjangan honorarium jasa medik(jasmed) mereka.
Karena itu, Nurdin meminta, selaku Gubernur Kesehatan, yakni Wakil Gubernur (Wagub) dr Renny Lamadjido yang menggawangi Berani Sehat untuk segera mengevaluasi diri.
"Dengan adanya kasus-kasus seperti ini yang berdampak langsung kepada masyarakat, pasien, bisa dikatakan Berani Sehat ini gagal. Perlu dilakukan pembenahan frontal, dan total, " tegas Nurdin.
Baca Juga: RAPBN Rp4.097 Triliun Disebut Ekspansif, Safri: Sulteng Dapat Apa?
Nurdin juga mendesak Gubernur Sulteng, cq Sekretaris Daerah sebagai Ketua Baperjakat Pemprov Sulteng untuk melakukan reshufle atau merotasi pejabatnya di tingkat manajemen RSUD Undata, mulai dari Direktur, Wakil Direktur, Sub-sub pimpinan, pimpinan tim dokter segera diganti.
Dikonfimasi ke Direktur RSUD Undata, dr. Jumriani di nomor WhatsApp (WA) miliknya 08124242*** tidak memberikan tanggapan sama sekali, tetapi pertanyaan konfirmasi telah dikirim ke WA, dan terlihat centang dua.
Media ini lalu melakukan konfirmasi ke Wakil Gubernur (Wagub) Sulteng, dr . Renny Lamadjido, sebagai Gubernur BERANI Sehat di aplikasi WA nomor 0811450***, mengatakan akan melakukan konfirmasi kepada Direktur RSUD Undata, dan kepada para tenaga kesehatan (Nakes) yang bertugas di rumah sakit pelat merah ini.
Baca Juga: Hadapi Kemarau, Dinas Pertanian Palu Siapkan Penampungan Air untuk Jaga Ketahanan Pangan
"Baik, saya akan melakukan konfirmasi langsung kepada Direktur dan jajaran Nakes di RSUD Undata, " kata Wagub Renny, berjanji, Rabu (2/9/2026)
Nanti pada Kamis (3/9/2026), media ini menemui pimpinan RSUD Undata, dan ditemui oleh Wakil Direktur (Wadir) Pelayanan RSUD Undata dr. Franklin L. Sinanu, memberikan tanggapan.
Kepada media Radar Palu, Jawa Pos group, dokter Franklin mengatakan, pihaknya menghargai keluhan keluarga pasien. Namun, ia menegaskan penilaian mengenai profesional atau tidaknya pelayanan harus berdasarkan fakta dan rekam medis secara lengkap.
Baca Juga: Rustia Tompo Soroti Minimnya Armada Operasional RSUD Anutapura dalam Rapat Banggar
“Kami menghargai keluhan yang disampaikan oleh keluarga pasien. Tapi untuk mengatakan bahwa suatu pelayanan tidak profesional, kita harus lihat faktanya dulu,” ujar Franklin.
Menurut Franklin, berdasarkan data awal dalam rekam medis, tidak tepat jika dikatakan pasien datang kemudian dinyatakan tidak memiliki penyakit dan langsung disuruh pulang. Pasien disebut telah menjalani rawat inap dan dievaluasi oleh tiga dokter spesialis, termasuk terkait temuan kista.
Franklin menjelaskan, pasien masih akan menjalani penelusuran lebih lengkap. Namun, pasien kemudian meminta untuk pulang terlebih dahulu.
Baca Juga: RSUD Undata Palu Siapkan Logo Baru, Moto Pelayanan dan Mars di HUT ke-54
“Pasien pulang atas permintaan sendiri, bukan disuruh pulang,” ujarnya.
Ia mengatakan, dua dokter menyatakan pasien sudah boleh pulang. Sementara dokter yang terakhir memeriksa masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut karena pasien masih mengeluhkan nyeri.
Terkait kondisi pasien yang masih merasakan sakit, Franklin mengatakan ditemukan atau tidak ditemukannya kelainan tertentu bukan berarti pasien dinyatakan tidak sakit. Rasa nyeri tetap harus dievaluasi, termasuk apakah berkaitan dengan kista ginjal yang ditemukan sebelumnya, karena kista ginjal bisa saja bukan menjadi penyebab utama nyeri.
Baca Juga: Transparansi Remunerasi Nakes RSUD Undata Jadi Fokus Evaluasi DPRD
Adapun terkait pengakuan Nurdin mengenai percakapan seorang dokter soal insentif dan keinginan untuk pindah rumah sakit, Franklin mengatakan pihaknya tidak ingin berspekulasi karena belum mengetahui konteks pembicaraan maupun dokter yang dimaksud.
Ia menegaskan, persoalan kesejahteraan tenaga kesehatan tidak boleh memengaruhi profesionalisme dan pelayanan kepada pasien. Untuk persoalan insentif maupun remunerasi, kata Franklin, terdapat mekanisme internal yang dievaluasi setiap bulan.
“Persoalan kesejahteraan tenaga kesehatan tidak boleh memengaruhi profesionalisme dan pelayanan kepada pasien,” tegasnya.
Baca Juga: SLHS Depot Air Minum Jadi Perhatian, Rustia Tompo: Ini Menyangkut Kesehatan
Franklin menambahkan, keluhan tersebut saat ini juga telah masuk melalui jalur pengaduan resmi. RSUD Undata akan melakukan penelusuran secara menyeluruh dan memberikan jawaban resmi kepada keluarga melalui mekanisme pengaduan tersebut.
Ia memastikan, apabila ditemukan kekurangan dalam pelayanan maupun komunikasi, pihak rumah sakit akan melakukan perbaikan dan tindak lanjut.
RSUD Undata, lanjutnya, tidak menutup diri terhadap kritik. Namun, setiap kesimpulan harus berdasarkan fakta yang lengkap dan tidak hanya berasal dari satu pihak. Keselamatan dan kepentingan pasien tetap menjadi prioritas.
Baca Juga: Pemerintah Dorong Badan Usaha Tingkatkan Kepatuhan Jaminan Kesehatan bagi Pekerja
Pernyataan dokter Franklin, langsung ditanggapi keluarga pasien Nurdin Usman, bahwa apa yang dikatakan dr Franklin tidak semuanya benar. Keluarga pasien juga menemukan sejumlah fakta yang disaksikan sendiri, dan ditemukan sendiri selama berada di RSUD Undata. Begitu banyak kerancuan dalam sistem manajemen RSUD Undata.
"Selama 8 hari ibu kami yang jadi pasien rujukan itu dibiarkan terlantar. Tangannya tiap hari ditusuk jarum katanya ambil darah, tapi tidak ada hasilnya juga. Tidak ada diagnosis ibu kami itu sakit apa? Disini pertanyaan mendasar kami. Jelas, kami sangat kecewa. Pelayanan RSUD Undata kami nilai amburadul dan tidak profesioonal, " bebernya.
Diakhir pernyataannya, Nurdin mengatakan, mungkin ada keterkaitan ketidakprofesionalisme yang ditunjukan para dookter ahli yang memeriksa itu disebabkan minimnya insentif.
"Ini perlu dievaluasi insentif para dokter ini, " tandas Nurdin.(***)
Editor : Muchsin Siradjudin