RADAR PALU – Musim kemarau mulai memberikan dampak terhadap produktivitas petani hortikultura di Kabupaten Sigi. Cuaca panas dan keterbatasan air membuat petani harus lebih berhati-hati dalam menentukan luas tanam maupun perawatan tanaman.
Sutejo, salah seorang petani hortikultura di Desa Porame, Kabupaten Sigi, mengatakan kondisi kemarau sangat berpengaruh terhadap tanaman yang dibudidayakan petani.
“Yang pastinya itu ada dampaknya, sangat ada untuk petani kita semua. Seperti kita petani hortikultura, dampak kemarau ini sangat ngefek bagi tanaman,” kata Sutejo.
Baca Juga: Musim Kemarau, Bupati Sigi Ingatkan Warga Waspadai Karhutla
Menurutnya, salah satu tantangan yang paling sering dihadapi petani saat musim kemarau adalah meningkatnya serangan hama, khususnya kutu-kutuan.
“Contohnya serangan kutu-kutuan. Karena di musim kemarau itu tantangannya di kutu-kutuan,” ujarnya.
Kondisi tersebut, kata Sutejo, turut berpengaruh terhadap hasil panen. Cuaca panas membuat perawatan tanaman menjadi lebih sulit, termasuk ketika petani harus melakukan penyemprotan pestisida secara rutin.
Baca Juga: Sambut Positif, Peningkatan Status Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian Sigi
“Ya pasti hasil panen menurun. Di musim kemarau cuaca panas, penyemprotannya juga kalau mau rutin berlawanan dengan panas matahari. Pokoknya tergantung petani, kalau mau 60 persen lolos ya sudah alhamdulillah,” katanya.
Sutejo mengaku saat ini dirinya menanam cabai dan tomat. Namun, dibandingkan musim normal, produktivitas kedua komoditas tersebut mengalami penurunan ketika memasuki musim kemarau.
Ia mencontohkan tanaman cabai keriting yang ditanam di wilayah dataran rendah seperti Porame. Dalam kondisi normal, satu pohon cabai masih berpotensi menghasilkan hingga sekitar satu kilogram.
Baca Juga: Bupati Sigi Dorong Gerakan Bersama Menuju Zero TB
“Kalau kita cabai keriting misalnya kalau kita di dataran rendah sini di Sigi Porame, kalau mau cari cabai satu kilogram per pohon di musim normal masih ada harapan. Tapi kalau di musim kemarau mungkin separuhnya saja,” jelasnya.
Hal serupa terjadi pada tanaman tomat. Menurut Sutejo, daun tanaman tomat lebih mudah mengalami kerusakan akibat tidak kuat menahan panas matahari, ditambah serangan hama.
“Tomatnya juga sama, daunnya banyak tagulung karena tidak kuat panas matahari bersamaan serangan kutu,” tuturnya.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Sigi Target 2.000 Siswa, Guru Masih Jadi Kendala
Menghadapi kondisi tersebut, Sutejo mengatakan petani memilih mengurangi luas lahan yang ditanami. Petani tidak ingin mengambil risiko terlalu besar sebelum kondisi cuaca dan ketersediaan air lebih mendukung.
“Jelas kita tanam, tapi tidak berani tanam luas. Kita sambil tunggu-tunggu cuaca, ada hujan baru berani. Kita mau memaksakan tidak berani, apa air dibagi-bagi,” pungkasnya.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi petani hortikultura di Sigi untuk menjaga produktivitas sekaligus menyesuaikan pola tanam dengan kondisi cuaca dan ketersediaan sumber air.(***)
Editor : Muchsin Siradjudin