Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Di Ujung Pisau Ibrahim

Muchsin Siradjudin • Kamis, 28 Mei 2026 | 14:25 WIB
Salihudin (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU)
Salihudin (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU)

Oleh : Salihudin *)

DI PADANG pasir yg sunyi itu,  angin berembus pelan di antara bebatuan Makkah yang kering. Langit masih menyimpan sisa gelap, tetapi hati Ibrahim telah lebih dulu diterangi oleh sebuah perintah yg berat. Ini perintah istimewa karena tdk  dapat ditawar dengan harta, pangkat, atau air mata.

Di hadapannya, Ismail berjalan tenang.

Anak itu bukan sekadar anak. Dia  adalah buah doa yang lama ditunggu. Lahir setelah tahun-tahun panjang penantian, setelah rambut Ibrahim memutih oleh usia, setelah harapan hampir menjadi sesuatu yang hanya disimpan dalam doa malam. Ismail adalah jawaban Allah atas kesabaran seorang ayah.

Namun justru anak yang paling dicintai itulah yang kini diminta untuk dikurbankan.

Ibrahim tidak tergesa menyampaikan perintah itu. Beliau tau, cinta yang besar harus diuji dengan kejujuran yang besar pula.

Baca Juga: Karantina Diperkuat, Ekspor Durian Sulawesi Tengah Digenjot

Dalam riwayat yang kita kenal, Ibrahim berkata kepada anaknya bahwa dia melihat dalam mimpi dirinya menyembelih Ismail. Dia tidak memaksa. Namun beliau mengajak dialog. Beliau membuka ruang bagi seorang anak untuk ikut memahami kehendak Tuhan.

Jawaban Ismail mengguncang sejarah.

“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Kalimat itu pendek. Tetapi dari sanalah lahir pelajaran panjang bagi umat manusia.

Baca Juga: Sulawesi Tengah Raih Indeks Kerukunan Tinggi Nasional, Ketua FKUB Sulteng: Ini Buah Kerja Keras Semua Pihak

Bayangkan sejenak suasana itu. Seorang ayah memegang perintah yang menggetarkan jiwa. Seorang anak menyerahkan dirinya dengan tenang. Bukan karena mereka tidak saling mencintai, melainkan karena cinta mereka kepada Allah lebih tinggi dari segala bentuk kepemilikan di dunia.

Di ujung pisau itu, sesungguhnya bukan Ismail yg dikurbankan. Yang dikurbankan adalah rasa memiliki yang berlebihan. Yang disembelih adalah ego manusia. Yang dipatahkan adalah anggapan bahwa anak, harta, jabatan, dan segala yang kita cintai sepenuhnya berada dalam genggaman kita.

***

Lalu Allah mengganti Ismail dengan seekor sembelihan yang besar. Peristiwa itu menjadi jejak agung yang diperingati umat Islam setiap Idul Adha. Sejak saat itu, kurban bukan sekadar menyembelih hewan. Kurban adalah cara manusia mengingat bahwa semua yang dicintainya hanyalah titipan.

Baca Juga: Durian Sulawesi Tengah Didorong Tembus Pasar Global

Di sinilah hikmah Idul Adha menjadi sangat dalam.

Kurban mengajarkan bahwa iman bukan hanya kata-kata indah. Iman adalah keberanian meletakkan kehendak Allah di atas keinginan diri sendiri. Banyak orang sanggup berbicara tentang ketakwaan. Tetapi tidak semua sanggup menyerahkan sesuatu yang paling dicintainya ketika Allah memanggil.

Kita mungkin tidak diminta seperti Ibrahim. Kita tidak diperintah menyembelih anak. Namun setiap orang memiliki “Ismail” masing-masing. Ada yang Ismail-nya berupa harta. Ada yang berupa jabatan. Ada yang berupa popularitas. Ada pula yang berupa kesombongan, dendam, iri hati, dan nafsu untuk selalu menang sendiri.

Idul Adha datang untuk bertanya secara halus kepada kita: apa yang paling sulit kita lepaskan?

Apakah kita masih terlalu berat berbagi, padahal ada tetangga yang menahan lapar? Apakah kita masih menyimpan kebencian, padahal hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dalam dendam? Apakah kita masih merasa paling benar, padahal di hadapan Allah semua manusia hanyalah hamba yang lemah?

***

Daging kurban memang dibagikan kepada keluarga, tetangga, fakir miskin, dan orang-orang yang membutuhkan. Tetapi pesan kurban tidak berhenti pada pembagian daging. Yang lebih penting adalah pembagian kasih sayang, perhatian, dan rasa kemanusiaan.

Seekor sapi atau kambing yang disembelih hanya berlangsung beberapa menit. Tetapi makna pengorbanannya seharusnya hidup sepanjang tahun. Kurban harus tampak dalam cara kita memperlakukan orang kecil. Dalam cara kita menolong yang lemah. Dalam cara kita menahan diri ketika berkuasa. Dalam cara kita tetap rendah hati ketika dipuji.

Kurban juga mengingatkan bahwa hidup yang baik tidak dibangun hanya dengan mengambil, tetapi juga memberi. Tidak hanya menumpuk, tetapi juga melepas. Tidak hanya menghitung keuntungan, tetapi juga menghadirkan manfaat.

Di tengah dunia yg semakin sibuk mengejar kepemilikan, Idul Adha mengembalikan kita pada pertanyaan paling mendasar: sejauh mana kita bersedia berkorban untuk kebaikan?

Ibrahim mengajarkan ketaatan. Ismail mengajarkan keikhlasan. Hajar mengajarkan keteguhan. Dan kurban mengajarkan bahwa jalan menuju Allah selalu melewati latihan untuk menundukkan diri sendiri.

***

Maka setiap kali takbir Idul Adha bergema, sesungguhnya kita sedang dipanggil pulang. Pulang dari kesombongan menuju kerendahan hati. Pulang dari kerakusan menuju kepedulian. Pulang dari cinta dunia yang berlebihan menuju cinta kepada Allah yang lebih murni.

Sebab kurban yang sejati bukan hanya tentang apa yang kita sembelih di halaman rumah, mesjid atau dimanapun. Kurban yang sejati adalah tentang apa yg berhasil kita tundukkan di dalam hati.(***)

*) Penulis adalah pengamat sosial dan perkotaan, penulis buku.

Editor : Muchsin Siradjudin
teladan Rasul Ummat manusia Jawaban Ismail Ego manusia disembelih