RADAR PALU – Pemerintah Kabupaten Sigi menyebut progres program cetak sawah baru di daerah tersebut hingga saat ini baru mencapai 103 hektare.
Persoalan irigasi dan keterbatasan sumber air masih menjadi tantangan utama dalam pengembangan lahan pertanian baru di sejumlah wilayah.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Sigi, Afit Lamakarate menjelaskan, pada tahap pertama program cetak sawah baru, luas lahan yang masuk tender awalnya mencapai 303 hektare. Namun setelah dilakukan adendum, luasannya berubah menjadi 288 hektare.
Baca Juga: Bawaslu Sigi Dorong Demokrasi Inklusif, Edukasi Politik Penyandang Disabilitas di SLB Porame
“Jadi tahap satu kan masuk tender sebesar 303 hektare dan masuk adendum jadi 288 hektare dan yang selesai hanya 103 hektare,” kata Afit saat ditemui awak media di Kalukubula, Rabu (13/5/2026).
Dari total lahan yang telah selesai dikerjakan tersebut, kata dia, baru sekitar 30 hektare yang benar-benar siap untuk ditanami padi.
“Yang sudah siap tanam itu baru 30 hektare,” ujarnya.
Baca Juga: KPU Sigi Gelar Coktas, Pastikan Akurasi Data Pemilih untuk Pemilu 2029
Menurut Afit, pemerintah daerah bersama kelompok tani dan penyuluh pertanian tetap berkomitmen melanjutkan program cetak sawah baru sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan daerah.
Ia mengatakan, lahan yang telah melalui proses pembukaan dan perataan akan terus didorong hingga siap digunakan sebagai area persawahan produktif.
“Pemerintah daerah tetap terus mendorong yang sudah di land clearing dan land leveling dilanjutkan hingga siap tanam,” sebutnya.
Baca Juga: Tiga Putri Sigi Lolos DA 8 Nasional, Bupati Beri Dukungan Langsung dan Ajak Warga Bersatu
Meski demikian, pelaksanaan program tersebut masih menghadapi berbagai hambatan di lapangan. Salah satu persoalan utama adalah minimnya ketersediaan air untuk mendukung sistem pengairan sawah baru.
Afit menuturkan, beberapa lokasi cetak sawah baru di wilayah lembah maupun daerah dataran tinggi seperti Wongkodono, Kecamatan Lindu, masih mengalami kesulitan akses air.
“Jadi walaupun selesai cetak sawahnya tapi pengairan tidak ada maka tidak bisa tanam. Sementara untuk bagian wilayah atas seperti Wongkodono Kecamatan Lindu juga terkendala air sehingga memang persoalan pengairan ini menjadi tantangan tersendiri dalam program cetak sawah baru ini,” jelasnya.
Untuk mendukung keberlanjutan program tersebut, Pemerintah Kabupaten Sigi telah mengusulkan pembangunan jaringan irigasi melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi III pada tahun 2026.
“Di program Kementerian Pertanian melalui BWS Sulawesi III tahun 2026 mengusulkan 70 pembuatan saluran irigasi termasuk titik cetak sawah baru di Sigi,” katanya.
Selain tahap pertama, program cetak sawah baru tahap kedua juga mulai dipersiapkan dengan target luasan sekitar 900 hektare dan saat ini masih dalam proses tender.
Afit menegaskan pembayaran pekerjaan nantinya akan disesuaikan dengan volume pekerjaan yang benar-benar terealisasi di lapangan.
“Jadi teman-teman TNI tidak bisa menyerap 100 persen anggaran cetak sawah baru di Sigi bahkan ada pengembalian karena tidak mencapai target luas yang sudah ditentukan,” pungkasnya.
Diketahui, lokasi program cetak sawah baru di Kabupaten Sigi tersebar di sejumlah kecamatan, di antaranya Kecamatan Lindu, Dolo Selatan, Dolo, Sigi Kota dan Marawola.
Sementara itu, berdasarkan hasil validasi Luas Baku Sawah (LBS), total luas lahan persawahan di Kabupaten Sigi hingga Desember 2024 tercatat mencapai 15.280 hektare.(***)
Editor : Muchsin Siradjudin