RADAR PALU - Rekaman akun Instagram @najib_nadir menangkap momen menegangkan di Desa Bainaa, Kecamatan Tinombo. Siswa sekolah dasar tampak bergegas menyeberangi sungai, air mengalir deras, hujan belum reda.
Guru yang mendampingi terlihat cemas. Ia mendesak muridnya mempercepat langkah karena risiko banjir bisa datang kapan saja.
“Cepat-cepat, mau banjir. Besok pakai baju batik saja ya,” ucapnya, melihat seragam anak-anak sudah basah kuyup.
Baca Juga: Parimo Jadi Sorotan, Program Berani Berdering Sasar Desa Terpencil
Dalam video yang diunggah sebelumnya, sang guru bertanya: lebih butuh jembatan atau program Makan Bergizi Gratis (MBG)?n
Jawaban polos itu langsung menyebar luas dan menyentuh publik. Banyak yang melihat ini sebagai cerminan kebutuhan paling mendasar yang belum terpenuhi.
Kondisi ini menyoroti masalah klasik di wilayah terpencil: akses.
Di Desa Bainaa, pergi ke sekolah bukan hanya soal menuntut ilmu. Ini tentang menghadapi risiko—arus sungai, hujan, dan ancaman banjir.
Baca Juga: Antrean Truk Mengular, Pemkab Parimo Dorong Forum Lalu Lintas Cari Solusi Terpadu
Tanpa jembatan, perjalanan pulang bisa berubah jadi situasi darurat.
Di tengah sorotan publik, kabar baik muncul. Sang guru menyebut pembangunan jembatan akan segera dimulai.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat, daerah, serta TNI yang ikut terlibat.
“Terima kasih Pemerintah pusat dan daerah. Pak Wawan, TNI,” tulisnya.
Video ini bukan hanya ramai di media sosial. Ia menjadi pengingat keras bahwa pembangunan infrastruktur dasar masih jadi kebutuhan mendesak.
Ketika siswa harus menantang arus sungai demi pulang sekolah, maka jembatan bukan lagi opsi—melainkan kebutuhan yang tak bisa ditunda.***
Editor : Muhammad Awaludin