RADAR PALU – Komitmen Bupati Parigi Moutong (Parimo), H. Erwin Burase, dalam mendukung pelestarian adat dan budaya lokal kembali disuarakan. Namun di balik apresiasi terhadap tradisi Adat Masoro.
Dalam kunjungannya ke Desa Ambesia Selatan, Kecamatan Tomini, Sabtu (4/4/2026), Erwin menegaskan pentingnya menjaga adat sebagai fondasi sosial.
Ia juga mendorong agar tradisi seperti Masoro tidak hanya dilestarikan, tetapi dikembangkan sebagai potensi ekonomi dan pariwisata.
Baca Juga: IPR Diduga Disalahgunakan, Tambang Gunakan Banyak Ekskavator: DPRD Parimo Minta Jangan Ada Pembiaran
Namun hasil penelusuran di lapangan menunjukkan dukungan terhadap lembaga adat di sejumlah wilayah Parigi Moutong belum merata.
Sejumlah tokoh masyarakat yang enggan disebutkan namanya mengaku, kegiatan adat masih bergantung pada swadaya.
“Kalau acara adat, kami masih pakai dana sendiri. Bantuan pemerintah ada, tapi belum rutin dan belum jelas mekanismenya,” ungkap salah satu tokoh adat di wilayah utara Parimo.
Baca Juga: Walk Out di Paripurna LKPJ 2025, DPRD Parimo : Penghargaan Nihil, Soliditas Internal Dipertanyakan
Adat Masoro merupakan ritual tahunan masyarakat Suku Tialo dan Lauje di kawasan Teluk Tomini. Tradisi ini sarat makna, mulai dari penolak bala, ungkapan syukur panen, hingga simbol keseimbangan antara manusia dan alam.
Prosesi pelarungan sesajen ke laut sebagai puncak ritual juga diiringi berbagai pantangan adat, seperti larangan menebang pohon dan melaut selama prosesi berlangsung. Nilai-nilai ini dinilai relevan dengan isu lingkungan saat ini.
Namun di tengah kuatnya pesan menjaga alam, praktik eksploitasi sumber daya di sejumlah kawasan pesisir Parmout masih dikeluhkan warga.
Di sisi lain, rencana pembangunan Rumah Adat Olongian Tialo yang disampaikan Bupati juga belum memiliki kejelasan teknis. Hingga kini, belum ada kepastian waktu realisasi maupun skema pendanaannya.
Pengamat menilai pelestarian adat tidak boleh berhenti pada seremoni. Diperlukan kebijakan konkret, mulai dari penganggaran transparan hingga pembinaan lembaga adat.
“Kalau hanya hadir dan memberi sambutan, itu belum cukup. Harus ada langkah nyata yang terukur,” ujar seorang akademisi di Sulawesi Tengah.
Baca Juga: BPBD Parimo Petakan Risiko, Siaga Dini Hadapi El Nino 2026
Potensi ekonomi dari tradisi seperti Masoro memang terbuka. Namun tanpa perencanaan matang, pengembangan wisata budaya justru berisiko menggerus nilai sakral yang dijaga masyarakat.
Hingga kini, publik masih menunggu: apakah komitmen pelestarian adat benar-benar diwujudkan dalam kebijakan nyata, atau sekadar menjadi narasi berulang setiap seremoni digelar.(***)
Editor : Muchsin Siradjudin