RADAR PALU – Ancaman fenomena El Nino 2026 mulai diantisipasi serius Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong. Melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), langkah mitigasi diperkuat sejak dini dengan melibatkan lintas sektor guna menekan potensi risiko yang ditimbulkan.
Kesiapsiagaan tersebut ditandai dengan pelaksanaan rapat koordinasi (rakor) di ruang Crisis Center BPBD, Selasa (31/3/26).
Forum ini menjadi titik awal konsolidasi menghadapi dinamika iklim global yang diprediksi berdampak pada perubahan pola musim di wilayah Parigi Moutong.
Baca Juga: Forkkom Bappeda XXIII di Parimo: Sinkronisasi Pembangunan Daerah Diperkuat Tanpa Ego Sektoral
Plt Kepala Pelaksana BPBD Parigi Moutong, Rivai S.T, menegaskan bahwa pembacaan terhadap pola iklim harus dilakukan secara cermat dan terukur.
“Perubahan iklim bukan sekadar isu global, tapi sudah berdampak langsung ke daerah. Karena itu, langkah antisipasi harus dilakukan lebih awal,” ujarnya, Rabu (1/4/2026).
Ia menjelaskan, periode Maret hingga Mei masih berada pada fase musim hujan. Namun demikian, transisi menuju musim kemarau diperkirakan mulai terjadi pada Juni hingga Juli. Fase peralihan ini dinilai krusial, khususnya bagi sektor pertanian dan ketersediaan sumber daya air.
Baca Juga: Futsal Pelajar Digelar Lebih Besar, Tiga Kategori Dipertandingkan, Total Hadiah Tembus Rp72 Juta
Memasuki puncak kemarau, lanjut Rivai, secara umum diprediksi terjadi pada Agustus. Meski demikian, kondisi geografis wilayah utara Parigi Moutong seperti Bolano, Lambunu, Taopa hingga Moutong memiliki karakteristik berbeda.
Wilayah tersebut berpotensi mengalami puncak kemarau lebih lambat, yakni sekitar September, bahkan dengan durasi yang lebih panjang dibandingkan wilayah lainnya.
“Ini yang perlu menjadi perhatian bersama, karena dampaknya bisa lebih terasa di wilayah utara,” jelasnya.
Dari sisi indikator iklim global, Rivai mengungkapkan bahwa kondisi El Nino Southern Oscillation (ENSO) diperkirakan masih berada pada fase netral hingga pertengahan 2026. Namun, pada semester kedua, terdapat potensi pergeseran menuju El Nino dengan intensitas lemah.
Perubahan tersebut berimplikasi pada penurunan curah hujan secara bertahap yang berpotensi memicu kekeringan di sejumlah wilayah.
Dalam rakor tersebut, BPBD menekankan pentingnya langkah mitigasi konkret di berbagai sektor strategis. Pada sektor pertanian, penyesuaian kalender tanam menjadi langkah krusial untuk menghindari gagal panen.
Baca Juga: Parimo Perkuat Pengelolaan Sampah Berkelanjutan
Rivai menegaskan, keberhasilan menghadapi El Nino tidak hanya bergantung pada intervensi pemerintah semata. Diperlukan kolaborasi lintas sektor serta partisipasi aktif masyarakat dalam menjalankan langkah-langkah adaptasi.
“Ini bukan hanya tugas pemerintah. Semua pihak harus terlibat agar dampak El Nino bisa ditekan seminimal mungkin,” tegasnya.
Dengan kesiapsiagaan yang terencana sejak dini, Pemkab Parigi Moutong berharap potensi risiko akibat fenomena El Nino 2026 dapat dikendalikan, sehingga tidak menimbulkan dampak signifikan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. (Cr5)
Editor : Muchsin Siradjudin