RADAR PALU - Kondisi pencemaran Sungai Solonsa di Kecamatan Witaponda, Morowali, mulai meresahkan warga. Sungai yang dulunya jernih kini terlihat keruh dan diduga terdampak aktivitas tambang.
Perubahan kondisi Sungai Solonsa kini menjadi perhatian warga Desa Solonsa. Air yang sebelumnya jernih kini tampak keruh, memicu kekhawatiran masyarakat sekitar.
Kondisi ini disoroti Gerakan Pemuda Bersatu (GPB) yang menilai ada indikasi kuat pencemaran Sungai Solonsa.
Ketua Bidang Hukum dan HAM GPB, Bakit Sulaiman, mengatakan perubahan warna air sudah terlihat jelas dalam beberapa waktu terakhir.
“Air sungai sangat keruh dan ini berdampak pada lingkungan serta kesehatan warga,” ujarnya, Minggu (29/3/2026).
Destinasi Favorit Warga Kini Terancam
Sungai Solonsa yang berada di kaki Gunung Pehabala, atau dikenal warga sebagai Kali Batu, selama ini menjadi tempat favorit untuk bersantai.
Banyak warga datang untuk menikmati suasana alam yang masih asri. Sungai ini juga menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat setempat.
Namun kondisi itu kini mulai berubah. Keindahan alam yang dulu menjadi daya tarik perlahan memudar.
Diduga Terdampak Aktivitas Tambang
GPB menduga pencemaran ini berkaitan dengan aktivitas tambang nikel di sekitar wilayah tersebut.
Dua perusahaan yang disorot yakni PT Kurnia Deges Raptama dan PT Artha Bumi Mineral.
Meski begitu, hingga kini belum ada keterangan resmi dari pihak perusahaan. Upaya konfirmasi juga belum mendapat respons.
Warga Mulai Khawatir Dampak Lingkungan
Perubahan kondisi sungai tidak hanya berdampak pada estetika, tetapi juga memicu kekhawatiran lebih luas.
Sebagian warga mulai cemas terhadap potensi kerusakan lingkungan dan dampak sosial yang bisa muncul ke depan.
Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dikhawatirkan akan merusak ekosistem serta sumber kehidupan masyarakat.
Desakan Agar Pemerintah Segera Bertindak
Melihat kondisi tersebut, GPB mendesak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Morowali segera turun ke lapangan.
Langkah ini dinilai penting untuk memastikan penyebab pasti pencemaran Sungai Solonsa serta mencegah kerusakan yang lebih luas.
“Kami akan terus berupaya menjaga lingkungan agar tetap bisa dimanfaatkan masyarakat,” tegas Bakit.
Kasus pencemaran Sungai Solonsa menjadi peringatan penting bagi semua pihak. Warga berharap ada tindakan cepat agar sungai yang dulu menjadi kebanggaan desa bisa kembali pulih.***
Editor : Muhammad Awaludin