Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

El Nino “Godzilla” 2026 Mengintai, Sulawesi Tengah Diminta Waspada Dampak Kekeringan

Mugni Supardi • Jumat, 27 Maret 2026 | 09:26 WIB

ilustrasi.
ilustrasi.

RADAR PALU – Isu kemunculan fenomena El Nino ekstrem yang dijuluki “Godzilla” pada 2026 mulai menjadi perhatian.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan saat ini statusnya masih dalam tahap El Nino Watch.

BMKG memprediksi peluang kemunculan El Nino kategori lemah hingga moderat mencapai 50–60 persen pada semester kedua 2026, khususnya periode Juni hingga Agustus.

Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus dengan durasi yang lebih panjang dari kondisi normal.

Khusus di Sulawesi Tengah, kondisi cuaca dalam waktu dekat masih relatif basah. BMKG mencatat belum ada wilayah yang memasuki awal musim kemarau pada April hingga Mei 2026.

Bahkan, sebagian wilayah seperti Parigi Moutong serta sebagian Donggala dan Sigi diprediksi masih mengalami hujan.

Mayoritas wilayah Sulawesi Tengah baru akan memasuki musim kemarau secara bertahap mulai Juni (24 persen zona), Juli (34 persen), dan Agustus (21 persen wilayah).

Namun demikian, potensi dampak El Nino tetap perlu diantisipasi. Kepala SPAG Lore Lindu Bariri, Asep F. Ilahi, menjelaskan karakteristik geografis Sulawesi Tengah yang bergunung membuat dampaknya bisa berbeda di tiap wilayah.

“Daerah seperti Palu, Sigi, dan Donggala yang berada di wilayah bayang-bayang hujan berpotensi mengalami kekeringan lebih parah jika El Nino menguat,” ujarnya.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan penurunan debit sungai, termasuk Sungai Gumbasa dan Lariang, yang menjadi sumber air utama masyarakat.

Di sektor pertanian, sentra produksi padi seperti Parigi Moutong dan Banggai juga perlu meningkatkan kewaspadaan. Kekurangan air irigasi berisiko memicu gagal panen.

Selain itu, kemarau panjang dapat meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan berhutan seperti Taman Nasional Lore Lindu.

Penurunan kualitas udara akibat debu juga berpotensi meningkatkan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

BMKG dan para pemangku kepentingan mengimbau masyarakat mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini.

Di antaranya dengan menghemat penggunaan air, memastikan ketersediaan air di waduk dan embung, serta menghindari pembakaran lahan.

Petani juga disarankan menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan.

“Ini masih peringatan dini, tetapi langkah kesiapsiagaan harus mulai dilakukan dari sekarang,” tambah Asep.

Informasi lengkap terkait prediksi musim kemarau 2026 dapat diakses melalui laman resmi BMKG.(*)

Editor : Mugni Supardi
#kemarau 2026 #El Nino 2026 #Palu kekeringan #dampak El Nino #BMKG Sulteng #cuaca sulawesi tengah #prediksi musim BMKG #El Nino Godzilla #karhutla Lore Lindu #Parigi Moutong pertanian