RADAR PALU - Status baru Bandara Mutiara sebagai bandara internasional membuka ruang baru bagi pariwisata Sulawesi Tengah. Akses makin lebar, peluang kunjungan ikut terbuka.
Di saat yang sama, pemerintah daerah mulai menata arah. Tahun ini, desa wisata menjadi fokus pengembangan.
Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Tengah, Diah Agustiningsih, mengatakan penguatan konektivitas menjadi kunci agar potensi wisata Sulteng lebih dikenal.
Menurutnya, penetapan Bandara Mutiara sebagai bandara internasional bukan sekadar simbol, tetapi momentum memperluas promosi destinasi.
“Kita harus menyiapkan aksesibilitas, konektivitas, amenitas, dan atraksi wilayah. Penetapan bandara internasional menjadi langkah konkret ke arah itu,” ujar Diah, Sabtu (7/2/2026).
Pada 2026, Dispar Sulteng memfokuskan program pada pengembangan desa wisata yang telah ditetapkan gubernur.
Sebanyak 12 desa dan 1 kampung masuk prioritas. Programnya mencakup peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan atraksi, hingga promosi.
Beberapa yang disiapkan antara lain Kampung Salena, Wisata Anggrek di Desa Karunia, Wisata Paralayang di Desa Wayu yang masih tahap kurasi, serta Desa Towale di Donggala dengan potensi baharinya.
Pengembangan desa wisata ini diharapkan mem beri dampak ekonomi langsung bagi masyarakat, sekaligus meningkatkan angka kunjungan.
Dispar juga membangun koordinasi dengan Kementerian Pariwisata untuk memperluas promosi, termasuk mendorong destinasi Sulteng masuk dalam platform digital nasional.
“Mereka baru tahu kita punya banyak hidden gem. Kami minta dukungan promosi agar destinasi ini bisa dikenal lebih luas,” katanya.
Menurut Diah, pengembangan pariwisata tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar momentum ini tidak terlewat.***
Editor : Muhammad Awaludin