RADAR PALU - Pemandangan memperihatinkan sekaligus menegangkan. Belasan siswa Sekolah Dasar (SD) tampak sedang naik rakit menyeberangi sungai di Desa Tonggolobibi Kecamatan Sojol. Berdasarkan penuturan warga, sungai itu merupakan sarang buaya.
Diketahui, belasan siswa SD tersebut merupakan siswa dari SDN 10 Sojol. Letak sekolah ini berada di dusun 5 Desa Tonggolobibi. Sedangkan para siswa tinggal di dusun 7.
Naik rakit adalah alternatif terakhir agar bisa tetap sampai ke sekolah. Menurut salah seorang warga Sojol, Hamdana, jarak sekolah dengan tempat tinggal para siswa itu cukup jauh jika melewati jalur darat.
Menurut Hamdana, sejumlah siswa kadang naik mobil angkutan jenis pick up. Biayanya Rp5 ribu per orang. Keberadaan angkutan yang diketahui milik Pak Bayu itu cukup membantu siswa.
Namun kadang pemilik mobil angkutan sedang ke Palu, sehingga siswa harus mencari cara lain untuk bisa sampai ke sekolah. Alternatifnya adalah naik rakit. Memotong jalan agar jarak tempuh lebih dekat.
Kalau naik mobil, berangkatnya harus pukul 05.30 pak. Karena jaraknya jauh, ungkap Hamdana.
Masih menurut Hamdana, memilih naik rakit adalah alternatif yang telah dibahas bersama para orang tua siswa. Meskipun kata Hamdana, para orang tua juga was-was. Sebab sungai yang diseberangi adalah sarang buaya.
Benar pak, banyak buaya di sungai itu. Airnya juga dalam. Coba lihat, airnya hijau kebiruan karena memang sungainya dalam, jelas Hamdan.
Meski beresiko, menurut Hamdana, semangat para siswa dan orang tua siswa sangat besar. Hamdana mengaku, siswa-siswi di SDN 10 cerdas-cerdas.
Semangat sekali pergi ke sekolah pak. Cerdas-cerdas anak-anak di sana, tutupnya.(***)
Editor : Muchsin Siradjudin