Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Tende Bukan Ajaran Islam dan Tradisi Masyarakat Kaili

Muksin Sirajuddin • Sabtu, 22 November 2025 | 14:37 WIB
Athif Muhyiddin Hishad (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).
Athif Muhyiddin Hishad (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).

Oleh : Athif Muhyiddin Hishad *)

BERBICARA tentang tende tentu tidak asing di telinga kita, terutama bagi masyarakat Kaili. Tende merujuk pada ucapan pujian yang berlebihan kepada seseorang.

Praktik ini telah mengakar dalam keseharian masyarakat Kaili, namun hari ini banyak yang menganggap tende sebagai bagian dari budaya Kaili itu sendiri.

Pertanyaannya, benarkah tende merupakan bagian asli dari budaya masyarakat Kaili?

Kita mengetahui bahwa masyarakat Kaili dikenal dengan budaya keterbukaan—cara berkomunikasi yang singkat, jelas, langsung, dan apa adanya.

Orang Kaili cenderung tidak menggunakan ungkapan yang berputar-putar atau berlebihan.

Dengan demikian, karakter tende yang penuh pujian amat bertolak belakang dengan prinsip komunikasi masyarakat Kaili yang “apa adanya, bukan ada apanya”.

Saat ini kita diperlihatkan fenomena munculnya kegiatan yang dibalut dengan label budaya Kaili, yaitu “Festival Tende” dengan tagline Patende Akbar yang direncanakan berlangsung tahun ini, bahkan melibatkan pejabat-pejabat penting negara.

Hal ini tentu menimbulkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat, terutama jika dicermati secara lebih mendalam.

Dari sudut pandang politik, acara semacam ini dapat dilihat sebagai strategi membangun citra dan komunikasi simbolik kepada masyarakat.

Ada sinyal bahwa setelah masa amanah periode ini selesai, terdapat keinginan untuk melanjutkan ke periode berikutnya.

Para politisi tentu memiliki cara, ramuan, dan rancangan tersendiri untuk memperkuat branding serta melanggengkan kekuasaan.

Membungkus kepentingan tersebut dengan narasi budaya bukanlah hal baru dalam dunia politik.

Dari sisi sosial, ketika pemerintah pusat sedang gencar mendorong efisiensi anggaran, kita justru melihat adanya alokasi dana besar untuk kegiatan yang manfaatnya cenderung hanya dirasakan segelintir orang.

Padahal, anggaran tersebut seharusnya dapat diprioritaskan untuk program-program produktif yang berdampak luas, terutama bagi masyarakat menengah ke bawah.

Jika benar ada kepedulian yang besar terhadap rakyat, maka kegiatan yang diselenggarakan seharusnya menyentuh kebutuhan kelompok tersebut secara nyata, bukan sekadar dihias dan dielok-elokkan tanpa manfaat jelas.

Dari sudut pandang agama, khususnya Islam, penting dipahami bahwa Islam tidak menganjurkan pujian yang berlebihan.

Pujian yang melampaui batas dapat menimbulkan bahaya seperti kesombongan, kebanggaan diri, atau sikap meremehkan orang lain bagi yang dipuji.

Rasulullah SAW bahkan mengibaratkan pujian berlebihan seperti “memenggal leher saudara kita”.

Satu-satunya sosok yang layak dipuji secara berlebihan hanyalah Baginda Rasulullah SAW.

Sebagai masyarakat, penting bagi kita untuk menelaah setiap program atau kegiatan yang dihadirkan pemerintah dengan seksama.

Kita perlu jeli melihat apakah sebuah program benar-benar memberikan dampak signifikan bagi kemaslahatan masyarakat luas, atau justru hanya menjadi sarana meraih keuntungan politik bagi segelintir pihak.

Baca Juga: Samsat Digital Sulteng Hadir: Layanan Drive-Thru dan Tingkatkan Efisiensi Pembayaran Pajak

Dengan ketelitian tersebut, kita bisa memastikan bahwa kebijakan dan kegiatan yang dijalankan benar-benar berpihak kepada rakyat, bukan sekadar kemasan yang menutupi kepentingan tertentu.


*) Penulis adalah Ketua HMJ FDKI UIN Datokaramah Palu.

 

Editor : Muchsin Siradjudin
#Bukan ajaran Islam #Tende #Pujian berlebihan #Bukan tradisi masyarakat Kaili