Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Percepatan Industrialisasi Udang Parimo Mendesak, Bupati Parigi Moutong Erwin Burase Gelar Diskusi Bersama Pelaku Usaha

Muksin Sirajuddin • Kamis, 2 Oktober 2025 | 08:29 WIB
DISKUSI : Suasana diskusi pakar udang vaname H. Hasanuddin Atjo, bersama Bupati Parimo Erwin Burase, anggota DPRD Parimo Leli Pariani, Selasa (30/09/2025).
DISKUSI : Suasana diskusi pakar udang vaname H. Hasanuddin Atjo, bersama Bupati Parimo Erwin Burase, anggota DPRD Parimo Leli Pariani, Selasa (30/09/2025).

Oleh : Hasanuddin Atjo *)

BERTEMPAT di Ruang rapat Bupati Parigi Moutong (Parimo), Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), digelar dialog dengan sejumlah pelaku usaha udang Vaname Kabupaten Parimo.

Dialog dipandu Bupati Parimo Erwin Burase, dihadiri komisi II DPRD Parimo Ni Wayan Leli Pariani, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan sejumlah pelaku usaha udang Parimo, Selasa 30 September 2025.

Bupati Erwin berkeinginan agar Parimo bisa menjadi salah satu penghasil udang terbesar di Sulteng, dan mendorong agar kabupatennya menjadi pusat industrislisasi udang di kawasan Teluk Tomini.

Harapan ini sangat beralasan, karena panjang garis pantai Teluk Tomini mencapai 1.350 km dan Parimo 472 km. Bila menggunakan data panjang garis pantai dikaitkan dengan produksi maka kabupaten ini wajar bercita-cita menjadi pusat industrialisasi udang di kawasan Teluk Tomini.

Ekuador merupakan negara tropis dengan garis pantai hanya sepanjang 2.237 km, tetapi negara ini mampu memanfaatkan potensi sumberdaya yang terbatas untuk menjadi penghasil udang vaname terbesar dunia.

Tahun 2024 produksi udang Ekuador mencapai 1,2 juta ton.

Sementara itu produksi udang Indonesia pada tahun yang sama hanya sekitar 400 ribu ton dengan garis pantai hampir 100 ribu km. Selanjutnya dari Kabupaten Parimo prodiksi udangnya tidak lebih 10 ribu ton, yang sudah tentu bisa ditingkatkan secara signifikan.

Bupati Erwin ingin mendorong hilirisasi komoditi, melanjutkan rencana lama pengembangan kawasan industri komoditi Marantale yang memiliki potensi areal sekitar 6.000 hektare. Kawasan ini akan dikoneksikan dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu yang jaraknya sekitar 22 km, dan selanjutnya komoditi di ekspor melalui pelabuhan laut Pantoloan.

Bila rencana ini bisa terealisasi, maka banyak manfaat yang diperoleh termasuk dana bagi hasil ekspor untuk daerah yang selama ini kurang dirasakan karena tidak tercatat sebagai komoditi yang berasal dari Kabupaten Parimo.

Keinginan Bupati Erwin gayung bersambut dengan pemikiran sejumlah pelaku usaha seperti Karman Karim, Efendy, dan Abdur Rifai yang juga ketua harian Satuan Tugas (Satgas) Udang Sulteng, program Berani tangkap banyak Gubernur Anwar Hafid.

Terungkap dalam dialog, bahwa ongkos memproduksi udang di Sulteng termasuk di Parimo lebih mahal, karena hampir semua input produksi (benur, pakan, peralatan dan obat-obatan) harus didatangkan dari Makasaar dan Surabaya.

Sebagai contoh harga benur harus dibayar sampai tiga kali lipat, mencapai Rp 150 per ekor karena harus naik pesawat. Belum lagi kesegarannya menurun karena diangkut hingga belasan jam bahkan ada yang puluhan jam. Ongkos angkut pakan pun juga menjadi beban karena dibayar 1.000 hingga 1.250 per kg.

Demikian pula halnya saat panen, udang harus dikirim ke Makasar atau Surabaya untuk diproses dan selanjutnya di ekspor ke Amerika Serikat, Jepang, Uni Eropa, dan negara lainnya.

Ketika udang akan dikirim ke Makasar, maka petambak harus mengeluarkan ongkos angkut sebesar Rp 5 ribu setiap kg, dan tujuan Surabaya sebesar Rp 9 ribu. Kondisi ini tentu tidak menarik untuk jangka panjang.

Penyakit udang juga mulai dikeluhkan, karena benur yang beredar sudah tidak terkontrol, diperparah tidak tersedianya laboratorium kesehatan udang dan harus diperiksa ke Jawa atau Makassar. Karena itu diperlukan pembangunan laboratorium.

Menyikapi potensi Kabupaten Parimo yang bukan hanya udang, tetapi juga memiliki sejumlah komoditi ekspor lainnya seperti durian, coklat, cengkeh dan lainnya yang akan memperkuat terwujudnya rencana pengembangan industrialisasi komoditi.

Diakhir dialog terungkap, perlu dibuat dokumen peta jalan (roadmap) industrialisasi komoditi Kabupaten Parimo, secara khusus industrialisasi udang kawasan Teluk Tomini di Kabupaten Parigi Moutong.

 

*) Penulis adalah Dewan Pakar Satgas Udang Sulteng.

 

 

Editor : Muchsin Siradjudin
#Kabupaten Parigi Moutong #Mendesak #Industrialisasi udang #Percepatan