RADAR PALU - Maraknya kasus keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Sulawesi Tengah mendapat respon dari Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PII) Sulawesi Tengah.
Opick Delian Alindra mewakili PII Sulteng mengecam keras kasus keracunan massal dan menegaskan agar pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program agar tidak lalai dalam mengawal program nasional tersebut.
Diketahui pelajar SD hingga SMA di Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulteng, diduga mengalami keracunan massal setelah mengkonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Siswa yang keracunan dilaporkan lebih dari 250 orang menurut keterangan pihak Polres Banggai Kepulauan. Tak hanya itu, kasus serupa terjadi di Kota Palu pada agustus 2025, saat itu terdapat 23 siswa yang dirujuk ke rumah sakit usai menyantap MBG.
Opick mengaku telah berkoordinasi dengan Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Palu (Wilayah Sulteng & Sulbar), Yudhi Riandy, SSTP, MAP.
Setelah berkoordinasi diperoleh keterangan dari yang bersangkutan bahwa beberapa penyebab kasus keracunan maupun alergi disebabkan oleh beberapa faktor.
Menurut pihak KPPG yang diperoleh PII Sulteng, KPPG sudah melakukan investigasi dan hasilnya ada beberapa hal diantaranya tidak signifikannya upaya survei biodata siswa, termasuk persoalan riwayat penyakit yang diberikan ke siswa yang kurang memahami dengan survei yang ada.
Bukan hanya itu, KPPG juga menerima informasi dari pihak SPPG di lokasi kasus keracunan massal bahwa mitra yang menyediakan suplier bahan pokok tiba-tiba mengganti suplier tanpa kordinasi dengan pihak SPPG.
Dari informasi tersebut, Opick mewakili PII Sulteng menilai bahwa prosedur yang tidak ketat dari pihak SPPG terkhusus dalam memilih mitra suplier.
Opick menganggap pihak SPPG terkhusus mitra suplier agar tidak hanya fokus melaksanakan program nasional ini sebagai proyek yang subur untuk mencari uang tanpa menjamin keamanan dan keselamatan peserta didik.
"Kami dari PII mengecam kasus yang luar biasa banyak memakan korban keracunan ini, terkhusus pelajar yang harus dijamin hak belajar maupun keamanannya. Jangan fokus dengan urusan proyek subur tanpa memastikan keselamatan para siswa di sekolah," ucap Ketua PW PII Sulteng saat dimintai keterangan oleh awak media (20/9/2025).
Pemuda Pelopor Desa Nasional itu juga memberi peringatan keras agar para ahli-ahli gizi harus dilibatkan bahkan berperan besar dalam pengawasan bahan pokok yang layak untuk dimakan.
“Ahli gizi tolong diberi peran yang full power karena ini soal nyawa manusia,” ujar pemuda asal Donggala tersebut.
Menurut Opick, program MBG merupakan program prioritas Presiden sehingga semua pihak, baik SPPG, mitra usaha maupun tenaga ahli gizi, harus bekerja dengan penuh dedikasi dan kehati-hatian.
“Nyawa manusia itu lebih utama dibanding urusan tangkap-tangkap proyek, kita tidak ingin karena rasa haus kita terhadap sesuatu menjadikan kita lalai memberi rasa aman pada para pelajar di Sulteng,” tutup Ketua PW PII Sulteng.(***)
Editor : Mugni Supardi