RADAR SULTENG – Ketangguhan menghadapi bencana tak lagi cukup hanya dengan kesiapsiagaan. Kini, pendekatan berbasis data dan efisiensi biaya mulai diujicobakan di Sulawesi Tengah melalui metode Cost Benefit Analysis (CBA).
Program ini digagas BNPB bekerja sama dengan Pemerintah Swiss dan menyasar Sulteng sebagai lokasi prioritas. Tak heran, mengingat provinsi ini punya rekam jejak bencana besar yang meluluhlantakkan Pasigala tujuh tahun silam.
“CBA bukan hanya soal hitungan ekonomi, tapi bagaimana setiap rupiah yang kita keluarkan benar-benar berdampak bagi keselamatan jiwa dan pemulihan,” ujar Deputi Sistem dan Strategi BNPB, Raditya Jati.
Dalam forum yang digelar di Hotel BW Coco, Rabu (14/5), perwakilan Swiss, Olivier Zehnder, menegaskan komitmen negaranya untuk terus mendukung penguatan sistem penanggulangan bencana di Indonesia.
Fahrudin, mewakili Gubernur Sulteng, menyambut baik sinergi lintas negara ini. Ia menilai forum ini bukan hanya berbicara teori, tetapi soal aksi nyata dalam menjadikan Sulteng lebih siap menghadapi ancaman bencana.
“Ini jadi tonggak penting. Kita butuh data, pendekatan rasional, dan kebijakan yang tidak hanya reaktif, tapi preventif,” tegas Fahrudin.
Dalam konteks lebih luas, kolaborasi ini diharapkan memperkuat sistem kebencanaan di tingkat lokal dengan pendekatan yang berkelanjutan dan inklusif, menciptakan percontohan nasional dari jantung bencana Indonesia.***
Editor : Muhammad Awaludin