RADAR PALU – Masuk ke sekolah kejuruan favorit ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Di SMKN 1 Palu, para calon siswa baru tidak hanya bertumpu pada performa nilai akademik di atas kertas, melainkan harus lolos uji fisik standar industri.
Pihak sekolah secara terang-terangan menerapkan kriteria ketat mulai dari tinggi badan hingga performa visual saat sesi wawancara. Aturan ini diambil sebagai langkah taktis agar para lulusan kelak bisa langsung diserap oleh dunia kerja internasional.
"Seleksinya yang pertama kita seleksi nilai rapor, ada 5 semester kemudian yang kedua wawancara. Wawancara itu sesuai dengan bakat jurusannya kemudian kita ada kriteria sesuai dengan industri; tinggi badan, performa bisa juga kita harus kita sesuaikan dengan industri," kata Wakasek Kesiswaan SMKN 1 Palu, Masrun, Senin (25/5/2026).
Masrun membeberkan alasan emosional di balik ketatnya aturan fisik ini. Sekolah tidak ingin membiarkan siswa menghabiskan waktu tiga tahun belajar, tetapi berakhir ditolak oleh industri misalnya di sektor pariwisata hanya karena persoalan postur tubuh.
"Karena anak-anak link image-nya itu kalau terima kependean kasihan juga nanti tidak diterima di industri makanya kita ikuti jadi kalau perempuan itu 155 cm, laki-lakinya 160," imbuhnya.
Meskipun terdengar kaku, aturan seleksi fisik ini rupanya tidak digeneralisir untuk seluruh pendaftar. Pihak sekolah hanya mengetatkan prosedur ukur badan ini pada program keahlian khusus yang bersentuhan langsung dengan pelayanan publik.
Baca Juga: Heboh Bazar SMKN 1 Palu, Harga Menu Tembus Rp150 Ribu, Siswa Mengaku Kesulitan Menjual
"Tidak semua jalur, ya. Jadi, begini dari 6 jurusan yang menggunakan aturan itu adalah perhotelan, kemudian kuliner, kemudian apalagi satu itu tiga. Yang lainnya tidak," urai Masrun.
Selain jalur reguler yang mematok standar fisik, sekolah tetap menyediakan ruang bagi calon siswa melalui persentase jalur alternatif. Mulai dari jalur prestasi tingkat nasional, afirmasi bagi keluarga tidak mampu, hingga kuota domisili sebesar 10 persen.***
Editor : Muhammad Awaludin