RADAR PALU - Pintu SMAS GKST Imanuel Palu terbuka lebar bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Saat sekolah lain menolak, di sini mereka justru diterima tanpa syarat berbelit.
Seorang orang tua sempat datang dengan ragu setelah anaknya ditolak di banyak sekolah. Jawaban kepala sekolah sederhana: “Bawa saja, Pak.”
Bukan Soal Nilai, Tapi Diterima dan Bisa Bergaul
Kepala sekolah, Rita Christi, menegaskan target pendidikan bukan sekadar akademik. Yang utama adalah kemampuan berinteraksi dan diterima lingkungan.
Baca Juga: Haru Isra Miraj di Palu, Baznas Salurkan Sembako untuk 60 Difabel dari Dana Zakat ASN
Menurutnya, proses belajar terjadi dua arah.
Siswa difabel belajar bersosialisasi, siswa lain belajar empati.
Tanpa Syarat Rumit, Asal Ada Pendampingan
Sekolah tidak menetapkan syarat kompleks. Untuk kebutuhan berat, cukup ada pendamping dari orang tua atau guru pendamping difabel.
Baca Juga: Minim Informasi, Beasiswa Disabilitas Sulteng Belum Tepat Sasaran
Penilaian dilakukan melalui keterangan dokter atau psikolog. Ditambah asesmen dari guru Bimbingan Konseling.
20 Tahun Nyaris Nol Bullying
Selama dua dekade, kasus perundungan hampir tak terdengar. Sekolah aktif membangun budaya saling menjaga.
Usai MPLS, siswa diberi pemahaman tentang kondisi teman difabel. Tujuannya menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif.
Dari Tak Mau Bicara, Kini Berani Tampil
Perubahan nyata terlihat di sekolah.
Seorang siswa yang dulu tertutup kini mulai berani berkomunikasi.
Baca Juga: Beasiswa Disabilitas Sulteng Belum Ada, Ini Penjelasan Disdik
Ada juga siswa difabel yang menonjol di kegiatan Pramuka. Ia bahkan dipercaya menyampaikan materi meski berbicara terbata.
Terbuka untuk Semua, Termasuk Lintas Agama
Sekolah ini tidak hanya inklusif bagi difabel.
Siswa dari berbagai agama juga diterima.
Guru agama muslim disiapkan, dan kurikulum bersifat umum. Lingkungan belajar dirancang aman untuk semua latar belakang.***
Editor : Muhammad Awaludin