RADAR PALU – Bulan suci Ramadan di SMA Karunadipa Palu tidak sekadar dimaknai sebagai momentum ibadah bagi umat Muslim. Di sekolah yang dikenal sebagai institusi multikultur tersebut, Ramadan justru menjadi ruang penguatan karakter dan toleransi lintas agama.
Kepala SMA Karunadipa, Jusmin, menjelaskan bahwa pelaksanaan kegiatan selama Ramadan mengacu pada edaran kementerian yang kemudian ditindaklanjuti oleh Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah, Selasa (3/2/2026).
“Kita kalau SMA Karunadipa ini sebenarnya pulang jam 3, tapi karena bulan puasa, mata pelajaran itu dikurangi waktunya, sehingga ada tiga hari kegiatan Imtaq. Imtaq ini bukan hanya untuk muslim, tapi pembinaan iman dan takwa termasuk semua agama yang ada di Karunadipa,” ujar Jusmin.
Ia menegaskan, pembinaan iman dan takwa (Imtaq) tidak eksklusif untuk satu agama tertentu. Menjelang waktu salat zuhur, para siswa dipisahkan sesuai keyakinan masing-masing untuk melaksanakan kegiatan keagamaan dan pembinaan karakter.
“Jadi, pada saat jam terakhir itu, menjelang zuhur, mereka berpisah,” tambahnya.
Bagi siswa Muslim, kegiatan Imtaq dilaksanakan di ruangan Pendidikan Agama Islam (PAI). Sementara siswa beragama Kristen, Katolik, dan Hindu mengikuti pembinaan di ruangan yang telah disiapkan pihak sekolah. Adapun siswa beragama Buddha menyesuaikan dengan pembinaan yang telah diatur.
Kegiatan Imtaq ini digelar tiga hari dalam sepekan, tepat pada satu jam terakhir sebelum pulang sekolah. Meski demikian, proses kegiatan belajar mengajar (KBM) tetap berjalan normal sejak pagi hingga siang hari, dengan penyesuaian durasi waktu.
Jusmin memastikan tidak ada mata pelajaran yang dihilangkan selama Ramadan. Hanya saja, durasi per jam pelajaran disesuaikan dari 45 menit menjadi 30 menit.
“Satu minggu itu kan lima hari, berarti hanya ada dua hari yang tidak diisi dengan Imtaq. Karena tuntutan juga bahwa proses KBM harus tetap berjalan. Tidak boleh kita abaikan ini prosesnya,” tegasnya.
Selain kegiatan Imtaq, SMA Karunadipa juga akan menggelar buka puasa bersama pada 6 Maret mendatang. Kegiatan tersebut melibatkan seluruh jenjang pendidikan di bawah yayasan dan tidak terbatas hanya bagi umat Muslim.
Menurut Jusmin, momentum Ramadan dimanfaatkan sekolah untuk memperkuat nilai kebersamaan dan toleransi antarsiswa. Ia berharap nilai-nilai Ramadan tidak hanya dirasakan oleh umat Muslim, tetapi menjadi pembelajaran karakter bagi seluruh peserta didik.
“Harapan kita bahwa anak-anak setelah keluar dari Ramadan ini, tentu bukan hanya yang muslim, tetapi secara keseluruhan ada nilai-nilai Ramadan. Karena semua agama ini mengajarkan kebaikan,” pungkasnya.
Dengan konsep Imtaq lintas agama dan penyesuaian jam belajar tanpa mengurangi substansi pendidikan, SMA Karunadipa menunjukkan bahwa Ramadan dapat menjadi ruang edukasi toleransi dan penguatan karakter di lingkungan sekolah multikultur.***
Editor : Muhammad Awaludin