RADAR PALU - SMA Muhammadiyah Palu (Muhipa) kini hanya dihuni sekitar 50 siswa. Sekolah swasta yang berdiri sejak 1977 itu tengah berjuang keluar dari fase terberat dalam sejarahnya.
Di balik upaya bertahan tersebut, Kepala SMA Muhipa Palu, Amrin Alimasa, memilih jalan yang tak lazim. Pengalaman 14 tahun sebagai jurnalis ia jadikan bekal untuk membaca persoalan pendidikan dari sudut pandang yang lebih manusiawi.
Kondisi SMA Muhammadiyah Palu (Muhipa) memang belum sepenuhnya pulih. Keterbatasan fasilitas dan kesejahteraan guru masih menjadi tantangan besar. Letak sekolah yang berada di bagian belakang kompleks pendidikan Muhammadiyah Palu juga dinilai membuat Muhipa kurang terlihat oleh masyarakat.
“Posisi sekolah ini memang kurang strategis. Itu ikut memengaruhi minat orang tua,” kata Amrin, Selasa (3/2/2026).
Baca Juga: SMA Otak Kanan Palu Pilih Jadi Penghubung, Bukan Sekadar 'Menitipkan' Anak ke Sekolah
Namun Amrin memilih bertahan. Ia membawa cara kerja jurnalistik ke ruang kelas dan manajemen sekolah. Prinsip melihat, mendengar, merasakan, dan mengonfirmasi ia terapkan untuk memahami kondisi siswa secara utuh.
“Saya menyelamatkan sekolah ini pakai ilmu wartawan. Kalau ilmuwan pakai observasi, wartawan pakai investigasi,” ujarnya.
Hasil “investigasi” internal itu menunjukkan bahwa sekitar 95 persen siswa SMA Muhipa Palu merupakan murid pindahan. Sebagian besar datang dari latar belakang keluarga bermasalah dan mengalami krisis kepercayaan diri.
Kondisi tersebut berdampak pada semangat belajar. Karena itu, pendekatan keras dihindari. Guru diminta membangun relasi personal dan komunikasi yang lebih persuasif.
“Kami ajak secara kekeluargaan. Tidak memarahi. Pelan-pelan kepercayaan diri mereka kami bangun,” jelas Amrin.
Langkah kecil pun ditempuh. Salah satunya membuka akses masuk sekolah melalui kantor guru. Cara ini diambil karena sejumlah siswa merasa minder jika harus melewati gerbang utama yang berdekatan dengan sekolah lain di kompleks tersebut.
“Ibarat orang jatuh di kolam, tinggal rambutnya yang kelihatan. Sekarang hidungnya sudah muncul, sudah bisa bernapas,” tutur Amrin menggambarkan proses pemulihan SMA Muhipa Palu.
Meski demikian, Amrin menyadari kebangkitan Muhipa membutuhkan waktu panjang. Saat ini, ia tengah mengupayakan relokasi sekolah ke kawasan Pantoloan atau mencari lahan baru di Kelurahan Lasoani pada 2026.
Langkah itu dinilai krusial demi keberlangsungan SMA Muhammadiyah Palu (Muhipa) ke depan.***
Editor : Muhammad Awaludin