Hal ini disampaikannya pada Radar Palu Jawa Pos Group saat ditemui Jumat, (7/11/2025). Bagi dia, demokrasi adalah mandat yang harus diimplementasikan untuk jabatan yang diembannya.
“Saya selalu, tidak memerintah. Saya selalu meminta kritik dan saran dari tenaga guru, baik tendik (tenaga pendidik) dan tenaga administrasi,” ungkap Widi.
SDN 1 Palu memiliki sekitar 22 tenaga pendidik serta tenaga administrasi. Suara 22 orang ini menjadi penentu untuk setiap keputusan Widi sebagai Kepala Sekolah.
“Untuk menambahkan warna saja kita bertanya dulu. Kita duduk rame-rame. Ini kalau ditambahkan warna merah bagaimana, oh, ndak cocok. Jadi, ambil yang terbaik dari hasil muasyarah dengan guru,” ujar Widi.
Bahkan, tata ruang sekolah merupakan hasil dari mufakat bersama. Kata Widi, hal ini tergambarkan pada penataan tanaman toga, bank sampah, dan desain ruang lainnya. Tidak tanggung-tanggung, pedagang kantin pun ikut disertakan dalam musyarawah bila pembahasan itu mengenai kantin sekolah.
“Kalau kita ikut maunya kita sendiri, duh, kita egois sekali. Sedangkan ini kan kita banyak orang,” tegasnya.
Prinsip itulah yang diterapkannya. Semua warga sekolah diberikannya hak untuk ikut bersuara dalam ruang rapat. “Jadi, yang ada sekarang ini hasil dari keputusan bersama,” tandasnya.(cr1)
Editor : Nur Soima Ulfa