Yusril memperkenalkan dirinya sebagai salah satu guru pendamping di jenjang SMA-LB untuk peserta didik dengan kekhususan tunanetra dan autis. Ia menuturkan bahwa keikutsertaannya dalam GTK Award berawal dari keinginan untuk berbagi praktik baik dengan rekan-rekan guru di seluruh Indonesia.
“Motivasi saya mengikuti kegiatan ini adalah bagaimana saya bisa berbagi praktik baik kepada guru-guru lain di luar sana sebagai bahan belajar dan inspirasi mereka untuk bisa lebih kreatif dan berdedikasi,” ujar Yusril saat ditemui belum lama ini.
Tak hanya dirinya saja, SLB huntap Palu juga mengirimkan satu guru lain bernama Kasmiati, yang turut meraih juara satu GTK di bidang transformatif untuk guru SLB. Sementara itu, Yusril sendiri memenangkan kategori guru dedikatif SLB, meski sebagian besar tenaga pendidik di sekolah tersebut tengah fokus pada proses akreditasi, Yusril mengungkapkan bahwa sekolah mereka baru saja meraih akreditasi A, yang menjadi salah satu capaian penting di tahun ini.
“Prestasi yang kami rasakan sangat besar adalah kami kemarin terakreditasi A,” ujarnya dengan bangga.
Tak hanya guru, siswa SLB huntap palu juga menorehkan prestasi. Salah satu siswa yang bernama Fadel, ia berhasil lolos ke babak final KCST Fun Bouldering 2025 yang digelar di Kabupaten Sigi. Menurut Yusril, keberhasilan ini menjadi bukti bahwa anak-anak berkebutuhan khusus juga mampu bersaing di ajang umum.
Terkait inovasi pembelajaran yang membawanya menjadi juara, Yusril menjelaskan bahwa ia menerapkan konsep “deep learning” atau pembelajaran mendalam yang berfokus pada makna dan pengalaman belajar siswa.
“Saya menerapkan pembelajaran yang bermakna, berkesadaran, dan menggembirakan bagi peserta didik. Mereka tidak hanya belajar dari papan tulis, tapi juga merasakan langsung apa yang dipelajari,” jelasnya.
Rasa bangga pun terpancar dari Yusril setelah membawa nama baik sekolahnya ke tingkat nasional. Ia berharap prestasinya bisa menjadi motivasi bagi guru-guru SLB lainnya. “Saya sangat bangga karena ini adalah prestasi yang perlu dikembangkan lagi dan bisa dijadikan bahan motivasi oleh guru-guru lain, khususnya di jenjang SLB,” katanya.
Namun, di balik prestasi tersebut, Yusril tak menampik adanya tantangan besar dalam mendidik anak-anak berkebutuhan khusus. Ia mengungkapkan bahwa setiap siswa memiliki karakter dan kemampuan yang berbeda-beda, sehingga guru harus mampu menyesuaikan pendekatan pembelajaran.
“Kita harus bisa memberikan akomodasi terbaik untuk mereka karena setiap peserta didik punya kebutuhan yang berbeda,” tuturnya.
Yusril menyampaikan pesan inspiratif bagi para guru dan peserta didik. “Untuk guru, tetap semangat, layani dengan ikhlas dan cinta supaya peserta didik merasa aman dan nyaman, teruntuk anak-anak berkebutuhan khusus, kalian itu istimewa, hebat, dan mampu membuat orang lain bersyukur. Keterbatasan kalian bukan penghalang, tapi justru keistimewaan pada diri kalian,” pungkasnya. (mg2)
Editor : Nur Soima Ulfa