Oleh: Hasanuddin Atjo *)
REKAYASA genetik atau genetic improvement "Menembus Batas" memberi makna kemajuan sains dan teknologi telah melampaui limitasi alamiah.
Kemajuan bidang teknologi ini menyebabkan adanya lompatan produksi dan perubahan struktur komoditi pemasok, menyediakan kebutuhan pangan global lebih khusus protein hewan.
Berhasil memdomistikasi induk udang Vaname SPF (Specific Phatogen Free) dengan pilihan karakter tumbuh cepat, adaptif terhadap lingkungan dan protein nabati menjadi penyebab utama lipat gandakan produksi Vaname.
Baca Juga: Dollar AS Menguat Harga Udang Malah Merosot, Ini Alarm Serius yang Mesti Disikapi dan Dicari Solusinya
Kini Vaname, (Asli Amerika Latin) menjadi pemasok utama (80 %) dari kebutuhan udang global (2025) sebesar 5,5 - 6 juta ton. Sementara itu, volume udang yang diperdagangkan mencapai 3,7 juta ton. Sisanya dikonsumsi oleh masing-masing produsen
Kemajuan ini telah menggeser dominansi udang Windu atau black tiger (Peneaus monodon) yang asli Asia . Dua dekade sebelumnya species ini sempat merajai pasokan kebutuhan udang global.
Valuasi ekonomi perdagangan udang dunia (2025) mencapai USD 75 - 82 milyar (setara 1.100 - 1.300 triliun rupiah). Sementara itu Industri udang diperkirakan akan tumbuh sebesar 5 - 6 % setiap tahunnya.
Diperkirakan Valuasi ekonomi perdagangan udang dekade mendarang (2035) mencapai USD 120 - 130 milyar. Merupalan nilai yang sangat menarik untuk kesejahteraan masyarakat dan devisa, bila mampu disikapi.
Tiongkok kini menjadi "Raksasa" konsumsi udang. Mereka secara mandiri memproduksi udang sebesar 2 juta ton. Dan sisanya sebesar 1 juta ton dipasok dari Equador, Vietnam, dan sangat sedikit dari Indonesia.
Amerika Serikat adalah importir udang terbesar di dunia dari sisi nilai. Menghabiskan lebih dari USD 6 Miliar per tahun (782.000 ton) dalam bentuk produk nilai tambah, utamanya udang kupas beku (peeled).
Baca Juga: Tambak Udang Tradisional Diujung Ketidapastian, Potensi Terabaikan, Perlu Intervensi
India, Equador serta Indonesia menjadi pemasok utama dengan komposisinya masing- masing sebesar 300 ribu ton, 200 ribu ton serta 150 ribu ton. Sisanya oleh sejumlah Negara lainnya
Uni Eropa, Jepang menyerap sekitar setengah juta ton per tahun, utamanya dalam bentuk udang beku utuh, udang kupas beku (peeled) sampai produk bernilai tambah siap saji ready-to-cooke.
Kedua Negara ini sangat konsen dengan mutu dan keamanan pangan. Ketatnya persyaratan tersebut menyebabkan udang asal Indonesia sangat sulit untuk bersaing terutama jika mengisi pasar Uni Eropa.
Indonesia dengan keunggulan komparatif (garis pantai, iklim tropis , luas area) semestinya bisa menjadi pemasok utama mengisi pasar global. Sejumlah tantangan mesti disikapi dan dicari solusinya agar obsesi itu mampu direalisasikan.
Pertama, Meningkatkan market share terhadap perdagangan udang dunia. Market share Indonesia dalam kurun waktu 5 tahun trrakhir hanya sebesar (5,5 - 6 %), setara 200 -240 ribu metrik ton
Jauh berada dibawah Equador (31 - 33 %), India (23' - 25 %) dan Vietnam (7,5 - 8 %). Padahal mereka memiliki garis pantai kurang dari 10.000 km dibanding Indonesia terpanjang kedua mendekati 100.000 km
Meningkatkan produktifitas dan produksi menjadi strategi utama.
Perlu pembenahan totalitas dari hulu hingga hilir. Pembenahan breeding, standarisasi hatchery sebagai upaya memproduksi benur unggul menjadi prioritas.
Pembenahan sistem budidaya menjadi kritikal poin lain yang strategis. Dimulai penerapan biodecurity (chek kesehatan benur udang, sterilassi air yang murah berbasis listrik serta faktor penyebab lain )
Penerapan sistem budidaya two steps (berbasis nursery), hingga integrasi sistem digital pada manajemen budidaya , serta penaganan air hasil buangan budidaya ke IPALmen jadi poin yang tidak kalah pemting.
Kedua, Melakukan klusterisasi para pelaku usaha budidaya udang. Tiga kluster yang dapat dikelompokkan yaitu kluster tambak rakyat, kluster tambak pengusaha dan kluster tambak milenial.
Kluster tambak rakyat (hampir 80 % dari total areal) menjadi penting diintervensi. Kluster ini memiliki sejumlah keterbatasan. Mulai akses permodalan, inovasi dan teknolog dan kelembagaan.
Kontribusi klaster ini terhadap produksi Nasional diperkirakan sekktar 20 % (100 ribu ton) dan sisanya merupakan kontribusi kluster pengusaha. Sementara kluster milenial relatif masih kecil namun pada masa mendatang potensial sebagai kontributor utama.
Pemerintah Pusat dan Daerah diharap fokus menangani aset tambak rakyat yang potensial, agar mereka bisa berdaya dan berkontribusi terhadap devisa, seiring dengan Indonesia Emas 2045 bahwa pendapatan per kapita ditargetkan mencapai USD 25.000 - 30.000 per tahun.
Selanjutnya kluster pengusaha dan milenial diarahkan kepada lompatan produksi berorientasi industri berdaya saing. Kedua kluster ini diharapkan menjadi pemain utama membangun daya saing udang Indonesia.
Pengembangan breeding center, harchery modern serta nursery terstandarisasi,menjadi bagian sangat strategis dalam upaya meningkatkan market share udang Indonesia agar mampu sejajar dengan Equador. Minimal dengan India.
Selain itu dukungan laboratorium melakukan mitigasi terhadap kehadiran penyakit jadi strategis dan penting. Bukan hanya itu deteksi dini akan adanya residu antibiotik dan zat radioaktif mendesak.
Investasi swasta membangun laboratorium pada sentra sentra produksi menjadi kebutuhan. Dukungan regulasi ke arah itu sangat diperlukan. Pemerintah disadari memiliki keterbatasan memenuhi tujuan itu ditengah krisis fiskal yang melanda.
Ketiga, Mutu serta keamanan pangan salah satu persoalan serius yang membatasi akses udang Indonesia agar msmpu bersaing mengisi pasar Uni Eropa, Jepang dan China. Ini juga menjadi PR yang penting dan mendesak dibenahi.
Sesungguhnya mutu udang asal Indonesia pada saat Panen di termasuk kategori sangat baik. Metoda panen dan kebiasaan memperoleh keuntungan melalui perendaman dalam air bersuhu rendah (2 - 4 derajat celcius) selama beberapa hari menjadi problem mendasar.
Melalui perendaman, berdampak terhadap peningkatan kadar air
pada udang (resensi ) sebesar 6 - 8 %. Selain itu masih sering didapatkan penambahan bahan pengawet senyawa Sulfit agar berkembangan bakteri selama perendaman bisa ditekan.
Penggunaan zat antibiotik pada saat budidaya berlangsung masih sering ditemukan. Hal ini bertujuan agar tambak mereka bisa berhasil panen, terhindar dari penyakit. Mereka tidak lagi berpikiri resiko penolakan karena melanggar keamanan pangan.
Konsistensi penempatan usaha berdasarkan peta ruang menjadi catatan penting. Kasus radioatif Cesium (Cs-137) tahun 2025 menjadi satu pengalaman dan pembelajaran berharga yang diharap tidak lagi terulang.
Keempat, Peran kelembagaan ekosistem hulu-hilir dinilai jadi salah satu persoalan penting. Harmonisasi dalam memenuhi persyaratan mutu , keamanan pangan sejumlah Negara buyer mesti dibangun bersama.
Peningkatan produksi, keluar dari masalah penyakit, serta masalah lainnts hanya mungkin tercapai bila terbangun visi dan komitmen yang sama diantara stakeholdes
Terakhir , Bisnis berbasis kluster pulau besar menjadi harapan. Ongkos logistik yang mahal jadi salah satu konsekwensi bagi Negara Kepulauan (Archipelagic State) besar seperti Indonesia
Ongkos logistik kawasan Barat (Jawa dan Sumatra) sebesar 8,9 % terhadap nilai barang yang diangkut. Sementara itu di Timur bervariasi dari 20 - 27 %. Hal ini menjadi salah satu hambatan serius dan berlangsung cukup lama.
Karenanya, klusterisasi bisnis, khususnya komoditi udang yang berbasis Pulau besar dipandang penting dipertimbangkan jadi sebuah regulasi. Diyakini bahwa regulasi ini nantinya mampu membangun daya saing yang kuat Industri udang Nasional.(***)
Editor : Muchsin Siradjudin