Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Rekayasa Genetik "Menembus Batas", Vaname Mendominasi Pasar Udang Global, Indonesia Diharap Lebih Berperan

Muchsin Siradjudin • Sabtu, 13 Juni 2026 | 20:43 WIB
H. Hasanuddin Atjo (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU)
H. Hasanuddin Atjo (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU)

Oleh: Hasanuddin Atjo *)

REKAYASA genetik  atau genetic improvement "Menembus Batas" memberi makna kemajuan sains dan teknologi  telah melampaui limitasi alamiah.  

Kemajuan bidang teknologi  ini menyebabkan adanya lompatan produksi dan perubahan struktur komoditi pemasok, menyediakan kebutuhan pangan global lebih khusus  protein hewan.

Berhasil memdomistikasi induk udang Vaname SPF (Specific  Phatogen Free) dengan pilihan karakter tumbuh cepat, adaptif terhadap lingkungan dan protein nabati menjadi penyebab utama lipat gandakan produksi Vaname.

Baca Juga: Dollar AS Menguat Harga Udang Malah  Merosot,  Ini Alarm Serius   yang  Mesti Disikapi dan Dicari Solusinya
 
Kini Vaname, (Asli Amerika Latin)  menjadi pemasok utama (80 %) dari kebutuhan udang global  (2025) sebesar 5,5 - 6 juta ton. Sementara itu, volume udang  yang diperdagangkan mencapai 3,7 juta ton.  Sisanya dikonsumsi oleh masing-masing  produsen 

Kemajuan ini  telah menggeser dominansi udang Windu atau black tiger  (Peneaus monodon) yang asli Asia . Dua dekade sebelumnya  species ini  sempat merajai pasokan kebutuhan udang global.

Valuasi ekonomi perdagangan udang  dunia (2025)  mencapai  USD 75 - 82  milyar (setara 1.100 - 1.300 triliun rupiah). Sementara itu Industri udang diperkirakan akan tumbuh sebesar 5 - 6 % setiap tahunnya.

Baca Juga: Berhasrat Menjadi Raja Udang Global 2045, Modelling dan Peta Jalan Tambak Rakyat Menjadi Salah Satu Prioritas

Diperkirakan Valuasi ekonomi perdagangan udang dekade mendarang (2035)  mencapai USD 120 - 130 milyar. Merupalan  nilai yang sangat menarik untuk kesejahteraan masyarakat dan devisa, bila mampu disikapi.

Tiongkok kini menjadi "Raksasa" konsumsi udang. Mereka secara mandiri memproduksi udang  sebesar  2 juta ton. Dan  sisanya sebesar 1 juta ton  dipasok dari Equador, Vietnam,  dan sangat sedikit dari  Indonesia.

​Amerika Serikat adalah importir udang terbesar di dunia dari sisi nilai. Menghabiskan lebih dari USD 6 Miliar per tahun (782.000 ton) dalam bentuk produk  nilai tambah, utamanya udang kupas beku (peeled). 

Baca Juga: Tambak Udang Tradisional Diujung Ketidapastian, Potensi  Terabaikan,  Perlu Intervensi

India, Equador serta Indonesia menjadi pemasok utama dengan komposisinya  masing- masing sebesar 300 ribu ton, 200 ribu ton serta 150 ribu ton. Sisanya oleh sejumlah Negara lainnya 

​Uni Eropa, Jepang menyerap sekitar setengah juta ton per tahun, utamanya dalam bentuk udang beku utuh, udang kupas  beku (peeled)  sampai produk bernilai tambah siap saji  ready-to-cooke.

Kedua Negara ini sangat konsen dengan mutu dan keamanan pangan. Ketatnya persyaratan tersebut menyebabkan udang asal Indonesia sangat sulit untuk bersaing  terutama jika mengisi pasar Uni Eropa.

Baca Juga: Residu Antibiotik Alarm Serius bagi Ekspor udang, Hatchery, Sistem Budidaya dan Surveilans Prioritas untuk Dibenahi

Indonesia dengan keunggulan komparatif (garis pantai, iklim tropis , luas area)  semestinya bisa menjadi pemasok  utama mengisi pasar global.  Sejumlah tantangan mesti disikapi dan dicari solusinya agar obsesi itu mampu direalisasikan.

Pertama, Meningkatkan market share terhadap perdagangan udang dunia.  Market share Indonesia dalam kurun waktu 5 tahun trrakhir hanya sebesar  (5,5 - 6 %), setara 200 -240 ribu metrik ton

Jauh berada dibawah Equador (31 - 33 %),  India (23' - 25 %) dan Vietnam (7,5 - 8 %). Padahal  mereka memiliki garis pantai kurang dari 10.000 km dibanding Indonesia  terpanjang kedua mendekati 100.000 km

Meningkatkan produktifitas dan produksi menjadi strategi utama.
Perlu pembenahan totalitas dari hulu hingga hilir. Pembenahan breeding, standarisasi hatchery sebagai  upaya memproduksi benur unggul  menjadi prioritas.

Pembenahan sistem budidaya menjadi kritikal poin lain yang strategis. Dimulai penerapan  biodecurity (chek kesehatan benur udang, sterilassi air yang murah berbasis listrik serta faktor penyebab lain )

Penerapan sistem budidaya two steps (berbasis nursery),  hingga integrasi sistem digital pada manajemen budidaya , serta  penaganan air hasil buangan budidaya ke IPALmen jadi poin yang tidak kalah pemting.

Kedua, Melakukan klusterisasi para pelaku usaha budidaya udang. Tiga kluster yang  dapat dikelompokkan yaitu kluster tambak rakyat,  kluster tambak pengusaha dan kluster tambak milenial. 

Kluster tambak rakyat (hampir 80 % dari total areal) menjadi penting diintervensi. Kluster  ini memiliki sejumlah keterbatasan. Mulai akses permodalan, inovasi dan teknolog dan kelembagaan.

Kontribusi klaster ini terhadap produksi Nasional diperkirakan sekktar 20 % (100 ribu ton) dan sisanya merupakan kontribusi  kluster  pengusaha.  Sementara kluster milenial relatif masih kecil namun pada masa mendatang potensial sebagai kontributor utama.

Pemerintah Pusat dan Daerah diharap fokus menangani aset tambak rakyat yang potensial, agar mereka bisa berdaya  dan berkontribusi terhadap devisa, seiring dengan Indonesia Emas 2045  bahwa pendapatan per kapita  ditargetkan mencapai USD 25.000 - 30.000 per tahun.

Selanjutnya  kluster pengusaha dan milenial diarahkan kepada lompatan produksi berorientasi industri berdaya saing. Kedua kluster ini  diharapkan menjadi pemain utama membangun daya saing udang Indonesia.

Pengembangan breeding center, harchery modern serta nursery terstandarisasi,menjadi  bagian sangat strategis dalam upaya meningkatkan market share udang Indonesia agar mampu sejajar dengan Equador. Minimal dengan India. 

Selain itu dukungan laboratorium  melakukan  mitigasi terhadap kehadiran penyakit jadi strategis dan penting. Bukan hanya itu deteksi dini akan  adanya residu antibiotik  dan  zat radioaktif mendesak.

Investasi swasta membangun laboratorium pada sentra sentra produksi menjadi kebutuhan. Dukungan regulasi ke arah itu sangat diperlukan. Pemerintah disadari memiliki keterbatasan memenuhi  tujuan itu ditengah krisis fiskal yang melanda.

Ketiga,  Mutu serta  keamanan pangan  salah satu persoalan serius yang membatasi akses   udang Indonesia agar msmpu bersaing mengisi pasar  Uni Eropa, Jepang dan China. Ini juga menjadi PR yang penting dan mendesak dibenahi.

Sesungguhnya mutu udang asal Indonesia pada saat Panen di termasuk kategori sangat baik. Metoda panen dan kebiasaan memperoleh keuntungan melalui   perendaman dalam air bersuhu rendah (2 - 4 derajat celcius)  selama beberapa hari menjadi problem mendasar.

Melalui perendaman, berdampak terhadap peningkatan kadar air 
pada udang (resensi ) sebesar 6 - 8 %. Selain itu masih sering didapatkan penambahan bahan pengawet senyawa Sulfit agar berkembangan bakteri selama  perendaman bisa ditekan.

Penggunaan zat antibiotik pada saat budidaya berlangsung masih sering ditemukan. Hal ini bertujuan agar tambak  mereka bisa berhasil panen, terhindar dari penyakit. Mereka tidak lagi berpikiri resiko penolakan karena melanggar keamanan pangan.

Konsistensi penempatan  usaha berdasarkan peta ruang menjadi catatan penting. Kasus radioatif  Cesium (Cs-137)  tahun 2025  menjadi satu pengalaman dan pembelajaran berharga yang diharap tidak lagi terulang.

Keempat, Peran kelembagaan ekosistem hulu-hilir dinilai jadi salah satu persoalan  penting. Harmonisasi dalam memenuhi  persyaratan mutu , keamanan pangan sejumlah Negara buyer mesti dibangun bersama. 

Peningkatan produksi, keluar dari masalah penyakit, serta masalah lainnts hanya mungkin tercapai  bila terbangun visi dan komitmen yang sama diantara stakeholdes 

Terakhir , Bisnis berbasis kluster pulau besar menjadi harapan. Ongkos logistik yang mahal jadi  salah satu konsekwensi bagi Negara  Kepulauan (Archipelagic State) besar seperti Indonesia

Ongkos logistik kawasan Barat (Jawa dan Sumatra) sebesar 8,9 %  terhadap nilai barang yang diangkut. Sementara itu di Timur bervariasi  dari 20 - 27 %. Hal ini menjadi salah satu hambatan serius dan berlangsung cukup lama.

Karenanya, klusterisasi bisnis, khususnya komoditi udang yang berbasis Pulau besar dipandang penting dipertimbangkan jadi sebuah regulasi. Diyakini bahwa  regulasi ini nantinya mampu membangun daya saing yang kuat  Industri udang Nasional.(***)

Editor : Muchsin Siradjudin
#Mendominasi #Pasar udang global #Produksi meningkat #udang vaname