Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Biaya Logistik ke Timur Semakin  Mahal, Poros Tambu-Kasimbar di Leher Sulawesi, Infrastruktur Strategis Bisa  Pangkas Biaya

Muchsin Siradjudin • Selasa, 2 Juni 2026 | 10:29 WIB

PERSINGKAT: Hasanuddin Atjo bersama konsepnya memotong leher Sulawesi, persingkat waktu dan menghemat biaya logistik di jalur Timur Indonesia.(FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).
PERSINGKAT: Hasanuddin Atjo bersama konsepnya memotong leher Sulawesi, persingkat waktu dan menghemat biaya logistik di jalur Timur Indonesia.(FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).

Oleh: Hasanuddin Atjo *)

SALAH satu konsekwensi Negara Kepulauan (archipelagic state) adalah mahalnya biaya logistik. Antara lain mengangkut barang dari wilayah Barat (Jakarta dan Surabaya)  ke wilayah Timur  (Maluku dan Papua). 

Disparitas biaya logistik untuk distribusi pada wilayah Barat (Jawa, Sumatra) dan wilayah Timur (Maluku, Papua) cukup tajam. Di wilayah Barat  hanya sekitar 8,9 persen dari nilai barang yang diangkut. Sementara di  ​wilayah Timur melonjak hingga 20 - 27 persen. 

Sederhananya  membeli barang di wilayah Timur senilai 100 ribu rupiah , maka komposisinya 20  hingga 27 ribu  rupiah adalah  biaya logistik yang dibayar.  

Baca Juga: Berhasrat Menjadi Raja Udang Global 2045, Modelling dan Peta Jalan Tambak Rakyat Menjadi Salah Satu Prioritas

Ini merupakan soal  lama , saatnya  dicarikan solusi. Apalagi naiknya BBM menyebabkan harga yang mesti dibayar semakin mahal.

Secara makro ekonomi, biaya logistik total di Indonesia saat ini berada  pada kisaran 14,29 persen  terhadap PDB (Produk Domestik Bruto). Angka ini tergolong tinggi di Negara Asean yang rata rkata hanya sekitar 13,5 persen.  Anjloknya nilai rupiah terhadsp dollar AS tentu akan memperbesar biaya logistik.

Pemerintah berkeinginan, angka itu  diturunkan  bertahap menuju 12,5 persen  pada jangka menengah. Dan jangka panjang pada tahun 2045 menyusut menjadi sebesar 8 persen.  Keinginan ini tentunya jadi dambaan, lebih khusus lagi bagi masyarakat di wilayah Timur.

Baca Juga: Industri Udang Nasional Masih Tertinggal, Perlu Revitalisasi Tambak Intensif, dan Tambak Tradisional ke "New Shrimp"
 
Karena itu diperlukan sejumlah lompatan strategi dan upaya, agar harga barang/kebutuhan lainnya tidak semahal dibanding di wilayah Barat . Strategi dan upaya tersebut  perlu disiapkan secara matang antara lain:

Pertama, meningkatkan volume barang yang akan diangkut dari wilayah Timur. Selama ini volume barang dari Timur selalu kurang. Jauh dari kapasitas tampung kapal logistik. Konsekwensinya  ketika  akan mengangkut barang dari  Barat ke Timur, biayanya dihitung  hampir 200 persen.

Wilayah Timur kaya sumberdaya alam.  Mulai komoditi Agro dan Maritim  hingga  minyak, mineral, logam dan gas .  Kesemuanya memerlukan regulasi, investasi  untuk mendorong akselerasi  pemanfaatan potensi SDA itu secara berkelanjutan.

Baca Juga: Residu Antibiotik Alarm Serius bagi Ekspor udang, Hatchery, Sistem Budidaya dan Surveilans Prioritas untuk Dibenahi

Kedua, meningkatkan efisiensi tatakelola jasa pelabuhan dan biaya energi transportasi. Bukan lagi rahasia bahwa tatakelola kepelabuhanan sedang dalam pembenahan agar biaya yang tidak perlu dapat dipangkas. Diharap upaya tersebut bisa tuntas,  kemudian menerapkan tatakelola yang modern.

Infrastruktur dan peralatan yang selama ini menggunakan BBM untuk keperluan logistik, secara perlahan diganti dengan  energi penggerak dari baterai. Cara ini terbukti mampu meningkatkan efisiensi  sebesar  70 - 80 persen. Karena hampir semua energi dikonversi jadi tenaga mekanis.

Berbeda dengan menggunakan BBM. Hanya 30 - 40 persen dikonversi  menjadi tenaga mekanis. Dan sisanya  adalah panas diikuti  buangan gas karbon monoksida (C0) yang berdampak terhadap  lingkungan (efek rumah kaca) berkotribusi global worming. 

Baca Juga: Industri Udang Nasional Masih Tertinggal, Perlu Revitalisasi Tambak Intensif, dan Tambak Tradisional ke "New Shrimp"

Ketiga, memperpedek waktu dan jarak tempuh dari wilayah Barat menuju  ke  wilayah Timur dan sebaliknya.  Jalur konvensional  ditempuh selama ini antara lain melalui Selat  Makassar (ALKI II) melewati  bagian utara Sulawesi
(Manado) kemudian menuju ALKI III, Laut Banda.

Jalur lainnya dari Jakarta atau Surabaya  langsung menuju  laut Banda ( ALKI III) melintasi bagian Selatan  Sulawesi (Kabupaten Selayar). Jarak maupun waktu tempuh kapal logistik melalui kedua jalur itu hampir sama.  Keunggulan jika melalui selat Makassar pelayaran dinilai lebih aman karena melalui Selat.  
 
Karena itu dipandang  strategis  membuka jalur pelayaran baru yang akan memangkas waktu dan jarak tempuh dari kawasan Barat ke kawasan Timur.  Antara lain  pengembangan Multimoda  "Sea - Land - Sea'. Waktu yang dipangkas diprediksi mencapai 30 - 40  jam.

Baca Juga: Percepatan Industrialisasi Udang Parimo Mendesak, Bupati Parigi Moutong Erwin Burase Gelar Diskusi Bersama Pelaku Usaha

Poros Tambu-Kasimbar adalah lokasi yang berada di leher pulau  Sulawesi, lebar bentang sekitar 30 km. Dan sangat ideal menjadi konektor antara ALKI II dan ALKI III dengan konsep Muktimoda Sea-Land-Sea.

Melalui  pendekatan  tersebut ,  Kecamatan Tambu  Kabupaten. Donggala (100 km utara kota Palu)  berada di koridor Selat Makassar (ALKI II) , dirancang  sebagai lokasi pelabuhan laut bagi kapal Ro-Ro atau lainnya.

Kemudian Kecamatan Kasimbar Kabupaten Parigi Moutong (100 km utara Kota Parigi Moutong),  berada di koridor Teluk Tomini  (ALKI III) juga dirancang sebagai  pelabuhan laut Ro-Ro.  Dengan demikian akan terbangun dua pelabuhan laut kembar.

Baca Juga: Tambak Udang Tradisional Diujung Ketidapastian, Potensi  Terabaikan,  Perlu Intervensi

Sebagai konektor (penghubung) kedua pelabuhan Ro-Ro tersebut  dibangun  jalan kategori "bebas hambatan atau Tol"  melengkapi kebutuhan Multimoda Sea-Land -Sea yang pertama di Indonesia.  Diperkirakan membutuhkan waktu 60 - 90 menit dari AKLI II ke ALKI III.

Bahkan bisa saja pendekatan ini   dalam jangka panjang meluas,  menghubungkan Selat Makassar - Teluk Tomini  - Teluk Tolo. Dan   menjadi  satu kesatusn sistem logistik yang bisa terintegrasi di Kawasan Timur 

Gagasan multimoda Sea-Land-Sea  pertama kali disuarakan pada saat rapat kerja Guberbur  se Sulawesi di Manado (2019) yang membahas  Perencanaan Pembangunan koridor Sulawesi. Dan gagasan ini diharapkan bisa segera direalisasikan.

Pembangunan  infrastruktur ini dipastikan  menekan disparitas kemajuan di wilayah Barat dan Timur.  Wilayah Timur memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi karena pengaruh industri olahan (Nikel, Emas dan Gas) namun tidak inklusif, tidak merata. Ini terindikasi tingginya persoalan sosial antara lain Kemiskinan, stunting dan pengangguran

Potensi Agro-Maritim yang jadi tumpuan besar sumber ekonomi masyarakat diharapkan akan memiliki daya akselerasi. Dan dalam jangka panjang bermuara  menekan masalah sosial yang masih dominan.

Khusus Sulawesi Tengah bahwa infrastruktur ini, memperkuat  daya saing sejumlah PSN (Projek Strategis Nasional) antara lan  Industri pengolahan Nikel di Morowali dan Morut, Gas Dongi Sinoro Luwuk, Neo Energi Parimo termasuk potensi sumberdaya Agro-Maritim.(***)

 

*) Penulis adalah Dewan Pakar Udang Nasional, pengamat ekonomi dan pembangunan.

Editor : Muchsin Siradjudin
#Mahalnya biaya logistik #Tantangan baru #Memperpendek waktu #Wilayah timur Indonesia