Oleh : Asep Firman Ilahi, Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika.
Tahun 2026 kembali Indonesia dihadapkakn dengan anomali iklim fenomena El Niño yang diprekdiksi terjadi pada pertengahan tahun ini, kerentanan sistem ketahanan pangan kembali menghadapi ujian krusial. Secara tradisional, respons pemerintah daerah terhadap krisis iklim kerap terjebak pada paradigma one-size-fits-all atau kebijakan "pukul rata". Kebijakan reaktif seperti pembagian bantuan yang seragam atau operasi pasar tanpa target lokasi yang jelas terbukti inefisien dan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Tinjauan data geospasial menunjukkan bahwa arsitektur kebijakan mitigasi bencana hidrometeorologis harus bertransformasi menuju pendekatan spasial yang asimetris. Topografi Sulawesi Tengah yang sangat kompleks, terdiri dari deretan pegunungan, lembah patahan, dan pesisir yang panjang, menciptakan mikroklimat yang merespons anomali El Niño-Southern Oscillation (ENSO) secara sangat bervariasi. Oleh karena itu, kerangka kerja integratif harus memadukan deteksi dini klimatologis, alokasi sumber daya berbasis triase spasial, dan strategi komunikasi krisis yang terukur.
Tinjauan Klimatologis Spasial-Temporal dan Dekonstruksi Mitos "Kekeringan Merata"
Tidak seperti kebanyakan tempat di Sumatera, Jawa dan Kalimantan, analisis terhadap peta korelasi parsial kejadian El Niño (ENSO positif) di Sulawesi Tengah dalam periode 1990-2023 membongkar miskonsepsi bahwa fenomena ini selalu berimplikasi pada kekeringan yang seragam. Kajian spasial-temporal yang dilakukan Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri-BMKG, memperlihatkan dikotomi dampak yang sangat tajam, yang mengharuskan pemangku kebijakan memetakan zonasi risiko secara dinamis dari bulan ke bulan.
Pada fase awal biasanya terjadi pada periode Januari – Mei, korelasi dampak ENSO masih fluktuatif dan terlokalisasi. Beberapa wilayah bahkan menunjukkan korelasi positif (biru) yang mengindikasikan curah hujan normal atau di atas rata-rata.
Fase transisi dan anomali positif terjadi sekitar Juni – Agustus, klimatologis wilayah selatan dan tenggara (seperti Morowali dan Morowali Utara) menunjukkan resistensi terhadap kekeringan, ditandai dengan korelasi netral hingga positif. Secara orografis, pola sirkulasi angin dan topografi di wilayah ini masih memungkinkan terjadinya kondensasi uap air. Wilayah ini adalah "Zona Hijau/Biru" yang memegang kunci keselamatan pangan regional.
Fase kritis defisit air biasanya dimulai September – Oktober ditengarai sebagai titik nadir hidrologis. Analisis spasial menunjukkan indikasi korelasi negatif ekstrem yang hampir merata di semenanjung utara (Buol, Tolitoli), bagian tengah (Palu, Sigi, Donggala, Parigi Moutong), hingga semenanjung timur (Banggai raya). Wilayah-wilayah ini, yang sebagian besar merupakan lumbung pangan lokal dan memiliki karakteristik rain shadow (bayangan hujan) seperti Lembah Palu (Sigi, Palu, Donggala), mengalami tekanan stres air yang sangat tinggi, memicu potensi puso (gagal panen) massal dan eskalasi risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Refleksi Historis Kerentanan dan Guncangan Stabilitas Pangan
Kebijakan yang presisi tidak dapat dilepaskan dari memori institusional mengenai rekam jejak bencana sebelumnya. Sejarah klimatologis Sulawesi Tengah mencatat bahwa kejadian El Niño pada tahun 1997, 2015, 2019, dan 2023 memiliki pola destruksi yang repetitif terhadap sektor agrikultur dan stabilitas makroekonomi regional.
Pada kejadian Super El Niño 1997 dan 2015, kerentanan terpusat pada sistem irigasi tadah hujan. Penurunan produktivitas padi secara masif memicu lonjakan harga yang signifikan. BMKG mengonfirmasi bahwa peningkatan hari kering pada periode Juli hingga November merusak siklus tanam secara struktural. Lebih lanjut, pada El Niño 2023, data empiris di Kecamatan Sojol, Kabupaten Donggala, memperlihatkan penyusutan hasil panen organik hingga 25% akibat mengeringnya sumber air permukaan secara prematur.
Pada El Niño 2023, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Sulawesi Tengah mencatat setidaknya 8 daerah di Sulawesi Tengah terdampak kekeringan akibat El Nino 2023 dengan wilayah yang paling signifikan meliputi Kabupaten Tojo Una-Una, Banggai (khususnya Banggai Kepulauan yang melanda 11 desa), Buol, Parigi Moutong (terutama wilayah Mepanga), Donggala, Sigi, serta Kota Palu yang mengalami anomali suhu panas yang terik. Dampak ini menyebabkan sekitar 3.000 hektare sawah tadah hujan di Parigi Moutong mengalami gagal tanam, sementara daerah lain seperti Donggala dan Banggai mencatat Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori panjang hingga 30 hari yang mengancam produktivitas lahan padi dan jagung di sentra-sentra pertanian tersebut. El Nino juga memicu inflasi harga pangan di Sulteng.
Sulawesi Tengah secara geografis berfungsi sebagai buffer zone atau penyangga pangan bagi provinsi tetangga di kawasan timur dan utara Sulawesi. Ketika sentra produksi utama seperti Parigi Moutong dan Banggai mengalami defisit pasokan, terjadi kelumpuhan rantai pasok regional. Karena wilayah tetangga juga mengalami tekanan iklim serupa, tercipta kondisi kelangkaan absolut yang berujung pada inflasi harga pangan (khususnya beras dan hortikultura) akibat sentimen kepanikan pasar (panic buying). Kenaikan harga beras di pasar lokal akibat pasokan yang seret memberikan beban ekonomi tambahan bagi masyarakat konsumen, meskipun di sisi lain, nilai tukar petani (NTP) di beberapa daerah sempat menunjukkan tren positif karena kenaikan harga jual di tingkat produsen.
Formulasi Strategi Kebijakan Triase dan Manajemen Sumber Daya
Berdasarkan pemodelan spasial dan data historis, eksekusi kebijakan pada bulan-bulan paling kritis (Agustus, September, Oktober) menuntut penerapan sistem Triase yaitu sebuah konsep dari ilmu medis darurat yang diadaptasi ke dalam kebijakan publik untuk memprioritaskan penyelamatan aset berdasarkan urgensi dan ketersediaan sumber daya.
Dalam strategi manajemen pertanian dan ekstensifikasi spasial, optimalisasi Kutub Penyangga diprioritaskan pada medio Juni-Agustus. Kebijakan berfokus dalam mengubah peran wilayah selatan (Morowali dan Morut) yang berada di zona korelasi positif menjadi lumbung pangan darurat. Dinas Pertanian harus merelokasi subsidi pupuk dan benih ke wilayah ini secara masif di awal musim kemarau untuk mengejar surplus produksi guna menutupi defisit di wilayah utara dan tengah. Memasuki bulan Agustus, penanaman padi sawah baru di zona merah (Sigi, Donggala, Banggai) harus dihentikan sementara melalui instrumen imbauan resmi. Petani didorong untuk melakukan substitusi ke palawija adaptif kekeringan tinggi, seperti sorgum, jagung komposit, atau umbi-umbian, yang membutuhkan rasio air jauh lebih rendah dibandingkan padi.
Triase hidrologis dan infrastruktur Sumber Daya Air (SDA) menuntut kebijakan yang memprioritaskan alokasi air asimetris, dimana penggunaan air irigasi yang tersisa hanya difokuskan untuk menyelamatkan komoditas yang telah memasuki fase generatif (bunting hingga menjelang panen). Tanaman di fase vegetatif awal pada lahan yang terlanjur kritis harus dikorbankan untuk menyelamatkan panen yang lebih pasti. Dinas PUPR tidak lagi mendistribusikan pompa secara merata. Penempatan mesin pompa air mobile dan pembuatan sumur bor dangkal harus tumpang tindih (overlay) dengan peta indeks kelembapan tanah satelit, menyasar lahan produktif yang memiliki potensi cadangan air tanah yang belum tereksploitasi. Penjadwalan gilir giring air harus diawasi ketat oleh aparat keamanan (TNI/Polri) untuk mencegah konflik horizontal antarpetani di hulu dan hilir. Identifikasi dan lindungi mata air primer untuk kebutuhan domestik. Pada periode September-Oktober, pemerintah daerah berhak memberlakukan moratorium sementara ekstraksi air tanah volume besar oleh sektor industri di zona merah perkotaan untuk mencegah keringnya sumur-sumur warga.
Antisipasi rantai pasok dan operasi pasar pre-emptive dilakukan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) bersama Bulog harus mendesain rute distribusi logistik pangan baru. Operasi pasar dilakukan berdasarkan geospatial targeting market operation, dan dilakukan sebelum harga melonjak tajam, yaitu sejak akhir Agustus di titik-titik koordinat populasi padat penduduk yang berada di jantung zona merah spasial. Ini mencegah inflasi ekspektasi di tingkat pedagang pengecer.
Mitigasi sekunder sektor manajemen ternak dan ketahanan hayati dilakukan dengan kebijakan bahwa peternak di wilayah rentan seperti Lembah Palu dan Sigi, diinstruksikan sejak pertengahan tahun untuk tidak melakukan pembakaran jerami sisa panen, melainkan mengubahnya menjadi bank pakan melalui teknik silase. BPBD dibantu Dinas Peternakan juga memetakan titik-titik stasiun air darurat (tangki portabel) untuk padang penggembalaan yang mengering guna mencegah kematian ternak ruminansia berskala besar.
Berkah Yang Tersembunyi dari Fenomena El Niño
Fenomena El Nino tidak selamanya menjadi momok bencana. Bagi Sulawesi Tengah, anomali cuaca ini justru membuka pintu bagi "berkah ekonomi matahari" yang jarang disorot. Di pesisir Parigi Moutong dan Tojo Una-Una, teriknya matahari yang stabil menjadi kunci sukses produksi garam kristal berkualitas tinggi dan durian premium yang lebih manis serta legit karena minimnya kadar air saat pematangan. Sementara itu, di perairan Banggai Kepulauan dan Togean, berkurangnya curah hujan meminimalisir sedimentasi dari muara sungai, membuat air laut menjadi jernih kristal yang secara instan menggenjot sektor pariwisata dengan daya tarik wisata selam dan swafoto bawah laut.
Dari sisi kelautan dan perikanan, El Niño memicu fenomena upwelling yang membawa massa air kaya nutrien dari dasar laut ke permukaan, sehingga mengundang gerombolan ikan pelagis besar yang berujung pada panen raya bagi para nelayan di Teluk Tomini dan Laut Maluku. Langit yang bersih tanpa awan tidak hanya memperpanjang durasi operasional sektor pariwisata bahari, tetapi juga menciptakan ekosistem bisnis yang produktif bagi komoditas yang haus cahaya matahari. Dengan pengelolaan yang tepat, El Nino di Sulawesi Tengah dapat berubah wujud dari ancaman kekeringan menjadi momentum emas untuk memaksimalkan potensi alam yang bergantung pada kestabilan cuaca panas.
Sebagai bagian akhir, El Niño 2026 adalah keniscayaan klimatologis, namun ancaman yang menyertai seperti kelaparan, inflasi tak terkendali, dan kemiskinan struktural bukanlah takdir yang tidak bisa dihindari. Melalui integrasi analisis data spasial-temporal, Sulawesi Tengah memiliki kapasitas untuk memetakan secara presisi kapan dan di mana krisis akan menyerang.
Dengan mengubah strategi dari reaktif menjadi prediktif, menerapkan prinsip Triage dalam alokasi sumber daya air dan logistik pertanian, serta mengawal eksekusi kebijakan tersebut melalui komunikasi krisis yang mencerahkan dan tidak memicu kepanikan, ancaman El Niño dapat direduksi dari sebuah "bencana pangan" menjadi sekadar "tantangan adaptasi manajerial". Keberhasilan strategi asimetris ini kelak akan menjadi cetak biru tata kelola ketahanan pangan daerah dalam menghadapi era variabilitas iklim ekstrem di masa depan.(*)
Editor : Mugni Supardi