Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Sultra Dapat 38 Juta Bibit Gratis, Pemerintah Bidik Jutaan Lapangan Kerja

Muhammad Awaludin • Sabtu, 6 Juni 2026 | 16:33 WIB
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meninjau pembibitan kelapa dan kakao di Desa Lamomea, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Sabtu (6/6/2026). Pemerintah menyiapkan 38 juta bibit untuk mendukung pengembangan perkebunan dan hilirisasi komoditas strategis.Foto: Humas Kementan 
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meninjau pembibitan kelapa dan kakao di Desa Lamomea, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Sabtu (6/6/2026). Pemerintah menyiapkan 38 juta bibit untuk mendukung pengembangan perkebunan dan hilirisasi komoditas strategis.Foto: Humas Kementan 

 

RADAR PALU – Kunjungan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ke lokasi pembibitan kelapa dan kakao di Desa Lamomea, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan, Sabtu (6/6/2026), tak hanya menyoroti kualitas bibit unggul. Di balik kunjungan tersebut, tersimpan target besar pemerintah untuk menciptakan jutaan lapangan kerja melalui pengembangan perkebunan rakyat di berbagai daerah, termasuk Sulawesi Tenggara. 

Sulawesi Tenggara menjadi salah satu daerah yang mendapat porsi besar dalam program pengembangan perkebunan nasional. Pemerintah menyiapkan sekitar 38 juta benih untuk wilayah tersebut sebagai bagian dari penyediaan 280 juta bibit kakao dan kelapa secara nasional. 

Program ini merupakan bagian dari strategi pemerintah memperkuat sektor perkebunan sekaligus mendukung hilirisasi komoditas unggulan. Melalui kebijakan tersebut, petani tidak hanya menerima bibit unggul, tetapi juga mendapatkan dukungan mulai dari pengolahan lahan hingga proses penanaman. 

Baca Juga: Mentan Amran Sebut Pembibitan Kelapa Sultra Layak Jadi Contoh Nasional 

"Gratis, sampai penanaman ini gratis. Mulai bibitnya gratis, tanamnya gratis, pengolahannya gratis," ujar Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. 

Pemerintah saat ini tengah mendorong pengembangan sekitar 870 ribu hektare perkebunan yang mencakup komoditas kakao, kelapa, tebu, pala, dan mete. Langkah ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan bahan baku bagi industri pengolahan dalam negeri. 

Menurut Amran, hilirisasi tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan produksi yang kuat di tingkat petani. Karena itu, penyediaan bibit unggul menjadi tahap awal yang dianggap sangat penting. 

Baca Juga: Heboh Isu Curang di O2SN Silat Palu, Bayar Rp3 Juta Buat Protes?

Saat meninjau pembibitan di Konawe Selatan, Amran menilai kualitas bibit kelapa yang dikembangkan di lokasi tersebut sudah memenuhi standar yang dibutuhkan untuk mendukung program nasional. 

 "Ini contoh bibit kelapa yang bagus, ini harus dicontoh seluruh Indonesia," katanya. 

Target Serap Tiga Juta Tenaga Kerja 

Selain meningkatkan produksi perkebunan, pemerintah menargetkan program ini mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas. Salah satunya melalui penciptaan lapangan kerja baru di sektor perkebunan dan industri turunannya. 

Kementerian Pertanian menargetkan sedikitnya tiga juta tenaga kerja dapat terserap dalam tiga tahun mendatang. Lapangan kerja tersebut diproyeksikan bersifat berkelanjutan karena tanaman perkebunan memiliki masa produktif yang panjang. 

Amran menilai sektor perkebunan masih menjadi salah satu penopang penting perekonomian daerah, terutama di wilayah yang memiliki potensi lahan luas seperti Sulawesi Tenggara. 

Baca Juga: Komisi IX DPR RI Serap Aspirasi RUU Ketenagakerjaan di Sulteng

Sebagai bagian dari program nasional, pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp9,5 triliun pada periode 2025–2027 untuk pengembangan tujuh komoditas strategis, yakni kakao, kelapa, tebu, kopi, pala, mete, dan kemiri. 

Melalui program tersebut, pemerintah berharap produktivitas kebun rakyat meningkat, pasokan bahan baku industri terjaga, dan kesejahteraan petani ikut terdongkrak. Sulawesi Tenggara menjadi salah satu daerah yang diproyeksikan berperan penting dalam mendukung target tersebut melalui pengembangan bibit unggul dan perluasan areal perkebunan.***

Editor : Muhammad Awaludin
#Hilirisasi Perkebunan #Bibit Kelapa Unggul #Perkebunan Sulawesi Tenggara #Lapangan Kerja Petani #mentan amran