Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Dino Patti Djalal Soroti Frekuensi Kunjungan Luar Negeri Prabowo, Usulkan Diplomasi Lebih Hemat dan Efektif

Muhammad Awaludin • Minggu, 31 Mei 2026 | 09:31 WIB
Founder Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, menyampaikan pandangannya terkait efektivitas kunjungan luar negeri Presiden melalui unggahan di akun Instagram pribadinya. Foto: Instagram/@dinopattidjalal
Founder Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, menyampaikan pandangannya terkait efektivitas kunjungan luar negeri Presiden melalui unggahan di akun Instagram pribadinya. Foto: Instagram/@dinopattidjalal

 

RADAR PALU – Intensitas perjalanan luar negeri Presiden Prabowo Subianto menjadi perhatian sejumlah kalangan, termasuk mantan Wakil Menteri Luar Negeri sekaligus Founder Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal. 

Melalui akun Instagram pribadinya, Dino menyampaikan pandangan terkait pentingnya evaluasi terhadap frekuensi kunjungan internasional Presiden di tengah tuntutan efisiensi anggaran dan meningkatnya perhatian publik terhadap penggunaan uang negara. 

Menurut Dino, diplomasi internasional tetap menjadi instrumen penting dalam memperjuangkan kepentingan nasional. Namun, pelaksanaannya perlu mempertimbangkan efektivitas, manfaat konkret, serta persepsi masyarakat terhadap penggunaan anggaran negara. 

Baca Juga: Presiden Prabowo Ditelepon PM Australia, Ekspor Urea 250 Ribu Ton Dipuji

"Saya mewakili komunitas hubungan internasional dan banyak rakyat Indonesia menghimbau Presiden Prabowo untuk secara signifikan mengurangi perjalanan ke luar negeri dan tidak menganggap remeh jeritan publik mengenai hal ini," ujar Dino dalam unggahan videonya, yang dikutip Radar Palu, Minggu (31/5/2026).

Soroti Biaya dan Persepsi Publik 

Dino menilai setiap kunjungan kenegaraan memerlukan anggaran yang tidak sedikit. Biaya tersebut mencakup persiapan tim pendahulu, transportasi udara, akomodasi, pengamanan, logistik, konsumsi hingga kebutuhan protokoler selama kunjungan berlangsung. 

Baca Juga: Diplomasi Prabowo Subianto Berbuah Manis, 53 Komoditas Pertanian RI Bebas Tarif 0 Persen ke AS

Karena itu, ia mengingatkan pentingnya memastikan setiap perjalanan menghasilkan manfaat yang sebanding dengan sumber daya yang dikeluarkan. 

Dalam pandangannya, masyarakat saat ini semakin kritis terhadap penggunaan anggaran negara. Kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil membuat publik cenderung menaruh perhatian besar pada setiap kebijakan yang berkaitan dengan pengeluaran pemerintah. 

Situasi tersebut, menurut Dino, perlu dibaca sebagai masukan yang konstruktif bagi pemerintah agar diplomasi Indonesia tetap mendapat dukungan luas dari masyarakat. 

Usulkan Pemanfaatan Teknologi Digital 

Salah satu usulan utama yang disampaikan Dino adalah memaksimalkan penggunaan teknologi komunikasi untuk menjaga hubungan dengan para pemimpin dunia. 

Ia berpendapat bahwa perkembangan teknologi memungkinkan diskusi bilateral dilakukan secara virtual tanpa harus selalu diwujudkan dalam bentuk kunjungan resmi yang membutuhkan biaya besar. 

Menurutnya, substansi pembahasan dalam pertemuan antar pemimpin negara sering kali dapat dicapai melalui panggilan video, telepon, atau konferensi daring yang jauh lebih efisien. 

Sebagai contoh, Dino menyinggung praktik sejumlah pemimpin dunia yang memanfaatkan komunikasi virtual untuk membahas berbagai isu strategis tanpa harus melakukan perjalanan internasional secara intensif. 

Lima Rekomendasi untuk Diplomasi yang Lebih Efektif 

Selain memaksimalkan teknologi digital, Dino juga menyampaikan empat rekomendasi lainnya. 

Pertama, Presiden dapat mengoptimalkan kehadiran pada forum internasional untuk sekaligus melakukan sejumlah pertemuan bilateral dengan pemimpin negara lain yang hadir dalam forum yang sama. 

Kedua, agenda kunjungan luar negeri perlu dirancang lebih terukur dan diumumkan kepada publik dalam rentang waktu yang memadai sebagai bentuk transparansi. 

Ketiga, pemerintah dapat memperbanyak penerimaan kunjungan kepala negara asing di Indonesia dibandingkan melakukan perjalanan ke luar negeri. 

Keempat, sebagian tugas diplomatik yang bersifat teknis dapat lebih banyak didelegasikan kepada Menteri Luar Negeri sehingga biaya perjalanan negara dapat ditekan tanpa mengurangi efektivitas diplomasi. 

Diplomasi Tetap Penting, Efisiensi Jadi Tuntutan 

Meski menyampaikan sejumlah kritik dan masukan, Dino menegaskan bahwa Indonesia tetap membutuhkan peran aktif dalam pergaulan internasional. Ia menilai diplomasi yang kuat tetap menjadi kebutuhan untuk memperjuangkan kepentingan nasional di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi global. 

Namun demikian, menurutnya, masyarakat kini tidak lagi hanya melihat simbol-simbol seremonial dalam hubungan internasional. Publik lebih mengharapkan kebijakan yang menunjukkan kepekaan terhadap kondisi dalam negeri, termasuk dalam hal penggunaan anggaran negara. 

Pernyataan Dino tersebut pun memunculkan diskusi di ruang publik mengenai keseimbangan antara kebutuhan diplomasi internasional dan tuntutan efisiensi pemerintahan. Di tengah berbagai tantangan ekonomi global, isu efektivitas perjalanan dinas pejabat negara diperkirakan akan terus menjadi perhatian masyarakat.***

Editor : Muhammad Awaludin
#Dino Patti Djalal #kunjungan luar negeri #politik nasional #Prabowo Subianto #diplomasi indonesia