RADAR PALU – Lonjakan kinerja sektor pertanian nasional menjadi sorotan. Di tengah capaian itu, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menegaskan, pekerjaan belum selesai jika manfaatnya belum dirasakan langsung oleh petani di lapangan.
Dalam peringatan HUT ke-53 HKTI di Jakarta, Sudaryono meminta Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) tidak sekadar menjadi organisasi, tetapi benar-benar hadir mengawal implementasi program hingga ke akar rumput.
“Program tidak boleh berhenti di atas kertas. Harus sampai dan dirasakan petani,” tegasnya.
Baca Juga: Cargill Dukung Pengadaan Kakao Bersertifikat di Indonesia dengan Rp38,8 Miliar Premi untuk Petani
Capaian sektor pertanian memang mencolok. Cadangan Beras Pemerintah (CBP) untuk pertama kalinya menembus lebih dari 5 juta ton. Produksi beras nasional sepanjang 2025 juga naik 4,07 juta ton atau 13,29 persen.
Tak hanya itu, Nilai Tukar Petani (NTP) melonjak ke angka 125,35, tertinggi dalam 34 tahun terakhir. Sementara pertumbuhan sektor pertanian mencapai 5,74 persen, tertinggi dalam 25 tahun.
Menurut Sudaryono, angka-angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan hasil kerja kolektif antara pemerintah, petani, dan HKTI sebagai penghubung utama di lapangan.
“Ini bukti kerja bersama. Pemerintah hadir, petani bergerak, HKTI mengawal. Hasilnya nyata,” ujarnya.
Ia menekankan, posisi HKTI sangat strategis sebagai “mata dan telinga” pemerintah. Peran ini krusial untuk memastikan setiap kebijakan benar-benar tepat sasaran, bukan sekadar laporan administratif.
Baca Juga: Kemarau 2026 Mengancam, Petani Tetap Tanam Berkat Pompa
Penguatan peran HKTI, lanjutnya, kini semakin relevan setelah organisasi tersebut kembali solid tanpa dualisme kepengurusan.
“Sekarang HKTI sudah bersatu. Ini modal besar untuk menggerakkan sektor pertanian dari pusat hingga daerah,” katanya.
Di sisi lain, pemerintah terus membenahi sektor pertanian dari hulu ke hilir. Fokusnya mencakup percepatan perbaikan irigasi, penyederhanaan distribusi pupuk, serta menjaga harga gabah dan jagung tetap menguntungkan petani.
“Kita pastikan pupuk tersedia, distribusi dipermudah, dan harga tetap berpihak pada petani,” jelasnya.
Baca Juga: Ribuan Petani Desak Polisi Tangkap Feri Amsari, Picu Polemik Swasembada
Langkah lain yang digenjot adalah peningkatan produksi dalam negeri guna menekan ketergantungan impor. Beberapa komoditas strategis seperti telur dan daging ayam bahkan telah mencapai swasembada.
Dengan berbagai upaya tersebut, Sudaryono menegaskan pemerintah ingin memastikan petani tetap menjadi aktor utama dalam sistem ketahanan pangan nasional.
“Tidak ada petani yang kita tinggalkan. Ini kerja bersama agar pertanian Indonesia semakin kuat,” pungkasnya.***
Editor : Muhammad Awaludin