Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Suryana, Kepala SDN Inpres 2 Talise yang Menulis Keabadian, Sudah Buat Dua Buku, Jadikan Program Gerakan Rabu Literasi

Ade Safitri • Minggu, 10 Mei 2026 | 17:41 WIB
Suryana M. Makawaru menunjukkan koleksi buku karya pribadinya yang menjadi bahan bacaan siswa di perpustakaan sekolah.(Ade Safitri/Radar Palu)
Suryana M. Makawaru menunjukkan koleksi buku karya pribadinya yang menjadi bahan bacaan siswa di perpustakaan sekolah.(Ade Safitri/Radar Palu)

Di sudut Kota Palu, di antara hiruk-pikuk ruang kelas dan tumpukan administrasi sekolah, ada seorang kepala sekolah yang diam-diam menulis jejak keabadian lewat kata-kata. Namanya Suryana M. Makawaru. Sosok sederhana yang setiap hari memimpin SDN Inpres 2 Talise, tetapi di balik itu, ia adalah seorang sastrawan.

LAPORAN: ADE SAFITRI, Talise

TAK banyak kepala sekolah yang bisa menyelami dua dunia sekaligus, birokrasi pendidikan dan sastra. Namun, Suryana menjalaninya dengan tenang. Di sela kesibukan mengurus sekolah, ia menulis buku, bukan sekadar antologi bersama, melainkan karya solo ber-ISBN yang lahir dari tangannya sendiri.

"Saya kan penulis. Sudah dua buku solo. Yang pertama autobiografi, yang kedua buku anak," cerita Suryana dengan nada rendah hati, ditemui belum lama ini.

Baca Juga: Belum Ajukan Pencairan Tahap I, Dana Desa Desa Taduno Terancam 'Hangus' 

Dua karya yang diterbitkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendiksaintek) itu berjudul “Uta Bavoa ri bavo nu Meja: Sayur Bavoa di atas Meja” dan “Gara Talise: Garam Talise”. Buku-buku itu bahkan diperbanyak menggunakan dana BOS dan diletakkan di perpustakaan sekolah.

Bukan tanpa alasan. Suryana ingin murid-muridnya melihat langsung bahwa kepala sekolah mereka bukan hanya pengelola pendidikan, tetapi juga pelaku literasi.

"Masa karya kita sendiri tidak bisa dikonsumsi anak-anak? Harus. Supaya mereka kenal, oh Kepsek saya sudah menulis juga," tuturnya.

Baca Juga: Pengembangan Kasus Pencurian Bengkel, Polisi Amankan Penadah Barang Curian di Banggai

Kecintaannya pada dunia sastra ternyata telah tumbuh sejak muda. Tahun 2001, ia pernah meraih Juara 2 Lomba Cipta Puisi yang diadakan Dewan Kesenian Kota Palu lewat puisi berjudul Gelisah Rakyat Kecil.

Sejak saat itu, menulis menjadi jalan sunyi yang terus ia rawat. Bagi Suryana, tulisan bukan sekadar rangkaian kata, melainkan warisan yang tak lekang usia.

"Tulisan kita, kita mati pun masih orang konsumsi. Makanya kita menulis yang baik-baik," tutupnya penuh inspirasi.

Baca Juga: FGD LS-ADI Bahas Pendidikan Berkarakter untuk Hadapi Tantangan Lingkungan

Pengalaman itu tak ia simpan sendiri. Ia menularkannya kepada anak-anak didiknya. Di usia yang hampir memasuki setengah senja, Suryana masih bersemangat menjadi mentor siswa dalam ajang FLS3N tingkat kecamatan tahun 2026. Hasilnya manis: murid binaannya sukses meraih juara pertama lomba gambar bercerita.

Ia berharap semakin banyak tenaga pendidik mau turun langsung ke dunia literasi, menghadirkan buku-buku edukatif bagi anak-anak.

Semangat itu terasa nyata di SDN Inpres 2 Talise. Di tangan Suryana, perpustakaan sekolah tak lagi menjadi ruang sunyi penuh debu, melainkan pusat kehidupan siswa.

"Perpustakaan itu menurut saya jantungnya sekolah. Literasinya di situ," tegas Suryana saat berbincang di SDN Inpres 2 Talise.

Dari keyakinan itu lahirlah program ‘Garasi’, Gerakan Rabu Literasi. Setiap Rabu, seluruh siswa berkumpul di halaman sekolah untuk membaca selama 15 menit, lalu menceritakan kembali isi bacaan mereka.

Tak berhenti di situ, ia membuat jadwal rutin kunjungan perpustakaan bagi setiap kelas. Mulai Senin untuk kelas 6 hingga Rabu bagi kelas 4. Satu target yang terus ia jaga: perpustakaan tak boleh kosong.

"Jangan sampai kosong perpustakaan. Itu target saya. Kita buat pembiasaan agar anak-anak mengenal perpustakaan dulu," tambahnya.

Bahkan, siswa-siswi SDN Inpres 2 Talise juga rutin diajak mengunjungi Perpustakaan Kota Palu. Suryana ingin anak-anaknya tumbuh dengan rasa haus ilmu, bukan hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga di ruang-ruang baca lain.

Di tengah derasnya arus digital, sekolah ini pun tak mau tertinggal. Mereka membangun ruang literasi baru lewat media sosial dengan grup Facebook bertajuk “Kamaimo Mobaca SDN Inpres 2 Talise”. Suryana percaya, membaca tak boleh berhenti di lembar buku. Literasi harus hidup di mana saja di perpustakaan, di halaman sekolah, bahkan di layar gawai anak-anak hari ini. (*)

Editor : Agung Sumandjaya
#Penulis Buku #literasi #Pemkot Palu #kepala sekolah