SDN 5 Palu menunjukkan wajah pendidikan yang sebenarnya. Merangkul mereka yang sering terpinggirkan. Saat ini, ada 12 siswa disabilitas yang menempuh pendidikan di sana. Kepala Sekolah SDN 5 Palu, Asira Husain, bercerita betapa uniknya anak-anak berkebutuhan khusus ini.
LAPORAN: Ade Safitri, Besusu Tengah
DI sebuah sudut Kota Palu, tepatnya di SDN 5 Palu Jalan Cik Dik Tiro, wajah pendidikan terasa lebih hangat dari sekadar ruang kelas dan papan tulis. Di sana, sekolah bukan hanya tempat belajar membaca dan berhitung, tetapi ruang aman bagi anak-anak untuk tumbuh apa pun latar belakang dan kemampuan mereka.
Pagi itu, suara riuh anak-anak terdengar seperti biasa. Namun, di antara mereka, ada kisah-kisah kecil yang tak biasa. Dua belas siswa disabilitas belajar berdampingan dengan teman-teman lainnya. Tidak ada sekat. Tidak ada label yang membatasi.
Baca Juga: 370 Huntap Duyu Masih Tertahan, Penlok Jadi Penentu Nasib Warga
Kepala Sekolah, Asira Husain, menyimpan banyak cerita tentang keunikan murid-muridnya. Ia mengisahkan seorang siswa kelas tiga yang tak mampu berbicara, tetapi memiliki tulisan tangan yang jauh lebih rapi dibandingkan kebanyakan anak seusianya. Ada pula siswa kelas lima yang justru menjadi “guru kecil”, mengajarkan temannya menggunakan papan digital.
Di sekolah ini, keterbatasan tak pernah menjadi batas. Alih-alih menghadirkan pendamping khusus dari luar, SDN 5 Palu memilih memperkuat kolaborasi dengan orang tua. Di rumah, orang tua berperan sebagai guru utama; di sekolah, guru melanjutkan proses itu dengan pendekatan yang personal.
Setiap anak dipahami sebagai individu yang berbeda dengan kebutuhan dan potensi yang juga berbeda. Pendekatan itu terasa hidup di perpustakaan sekolah. Di sana, anak-anak yang masih kesulitan membaca mendapatkan waktu khusus bersama pustakawan.
Baca Juga: OJK Luncurkan Program PINTAR Reksa Dana untuk Dorong Inklusi Keuangan
Tidak ada tekanan, hanya pendampingan yang sabar. Prinsipnya sederhana: tidak boleh ada satu pun anak yang tertinggal. Namun, kehangatan SDN 5 Palu tak berhenti pada pendidikan inklusif.
Sekolah ini juga menjadikan literasi sebagai denyut nadi. Sejak kelas dua hingga kelas enam, siswa mengikuti kegiatan ekstrakurikuler literasi.
Hasilnya bukan sekadar tugas sekolah, melainkan karya nyata buku-buku yang telah mengantongi ISBN dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Buku-buku itu lahir dari imajinasi anak-anak: sederhana, jujur, dan penuh warna.
Baca Juga: Empat Kasus Besar Menanti Kajati Sulteng Baru: Tambang Ilegal, Kredit Bank, hingga Pengembangan CSR
Sebagian bahkan telah mendapat apresiasi dari pemerintah kota. Di tangan mereka, menulis bukan lagi kewajiban, melainkan kebanggaan. Di tengah semangat merangkul semua anak, SDN 5 Palu juga mengambil sikap tegas terhadap praktik seleksi masuk sekolah dasar.
Tidak ada tes membaca, menulis, dan berhitung (calistung) dalam penerimaan murid baru. Bagi Asira, kecerdasan bukan syarat awal untuk bersekolah—melainkan sesuatu yang justru harus dibentuk di dalamnya. Yang menjadi acuan utama hanyalah usia.
Kebijakan ini bukan tanpa alasan. Sekolah ingin memutus rantai diskriminasi yang selama ini kerap terjadi sejak gerbang awal pendidikan. Semua anak berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar, tanpa harus dibebani kemampuan akademik sejak dini.
Kuota penerimaan pun diatur agar tetap inklusif: mayoritas melalui jalur domisili, dengan ruang khusus bagi anak dari keluarga kurang mampu dan penyandang disabilitas, serta sebagian kecil untuk jalur perpindahan orang tua.
Bagi siswa baru, perjalanan mereka tidak langsung dimulai dengan pelajaran berat. Selama dua minggu pertama, mereka diajak berkenalan dengan lingkungan sekolah melalui program “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”.
Mereka belajar mengenali kelas, kantin, hingga membangun kebiasaan baik. Sebuah pendekatan yang sederhana, tetapi sering terlupakan: membuat anak merasa nyaman sebelum menuntut mereka untuk berprestasi.
Di SDN 5 Palu, pendidikan tidak diukur dari seberapa cepat anak bisa membaca atau berhitung. Pendidikan diukur dari seberapa jauh sekolah mampu memahami setiap anak. Karena di balik setiap keterbatasan, selalu ada kelebihan yang menunggu untuk ditemukan. (*)
Editor : Agung Sumandjaya