RADAR PALU – Prosesi pengecoran tahap keempat Rupang Buddha Nusantara kembali dilaksanakan di Vihara Karuna Dipa, Jalan Sungai Lariang, Kota Palu. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam rangkaian pembangunan patung Buddha berskala nasional yang melibatkan umat dari berbagai daerah.
Kegiatan keagamaan tersebut dihadiri Direktorat Jenderal Bimas Buddha Kementerian Agama RI, tokoh agama, panitia pusat dan daerah, puluhan biksu dari berbagai wilayah, serta umat Buddha dari sejumlah provinsi.
Baca Juga: Bagian Keempat Rupang Buddha Nusantara Dicor di Palu, Libatkan Umat Daerah
Rangkaian acara dimulai dari persembahan logam oleh umat, dilanjutkan dengan puja bakti dan pertunjukan seni. Selanjutnya, logam yang telah terkumpul dilebur menggunakan tungku, lalu dituangkan secara bertahap ke dalam 12 cetakan yang telah disiapkan di halaman vihara sebagai bagian dari pembentukan rupang.
Direktur Jenderal Bimas Buddha Kementerian Agama RI, Supriyadi, menegaskan proses tersebut mengandung nilai spiritual sekaligus historis bagi umat.
“Ini bukan sekadar proses pengecoran, tetapi bagian dari praktik keagamaan yang memiliki nilai budaya dan sejarah. Kita sedang mengupayakan sebuah proses besar untuk menorehkan catatan sejarah atas aspirasi umat,” ujarnya.
Sementara itu, seniman pengecoran, Sugito Sutarmin, menjelaskan bahwa proses pengerjaan dilakukan secara bertahap dan terukur. Dimulai dari pembuatan cetakan pasir silika hingga tahap penuangan logam. Bahan utama berupa aluminium aloi dipadukan dengan persembahan umat, termasuk logam mulia seperti emas dan perhiasan.
“Semua daerah dicampur, tidak spesifik bagian tertentu. Ini mencerminkan kebersamaan umat dari berbagai wilayah,” katanya.
Ketua Panitia Daerah, Bhante Candakaro Mahathera, menyebut persiapan kegiatan berlangsung sekitar satu bulan melalui koordinasi antara panitia pusat dan daerah. Ia menilai keterlibatan umat dalam setiap tahapan menjadi wujud penanaman nilai kebajikan bersama.
“Semoga kebajikan yang kita tanam hari ini menjadi sebab kebahagiaan bagi semua makhluk,” tutupnya.
Sebagai informasi, pembangunan Rupang Buddha Nusantara dilakukan secara bertahap di sejumlah daerah sebagai simbol pelestarian ajaran Dharma dan persatuan umat, sebelum nantinya dirangkai menjadi satu kesatuan di Ibu Kota Nusantara. (mg1/adv)
Editor : Nur Soima Ulfa